Bubur Barikan Upaya Penangkal Pagebluk Corona

Mahapatih Keraton Surakarta KGPHPA Tedjowulan : Barikan sebagai Penangkal Bencana yang Sudah Menjadi Tradisi di Nusantara

JATENGONLINE, SOLO – Hubungan masyarakat dengan alam di sekelilingnya merupakan wujud kesatuan harmonis yang selalu dijaga keseimbangannya. Kejadian-kejadian alam mulai gempa bumi, gerhana bulan dan matahari, banjir, wabah penyakit dianggap sebagai pertanda bagi kehidupan manusia.

Dengan adanya pertanda baik atau pertanda buruk tersebut, diharapkan masyarakat telah bersiap untuk menghadapinya dari segala kemungkinan atas petunjuk alam itu. Untuk menghindari hal-hal tersebut, seluruh anggota masyarakat suatu desa mengadakan upacara barikan.

Sementara barikan dari Karaton Kasunanan Surakarta yang disampaikan Panembahan Agung Tedjowulan, berupa membuat jenang atau bubur ketan hitam tanpa gula dan santan, dan hanya menggunakan garam kasar secukupnya. Di makan serta dibagikan ke tetangga.

“Beras Ketan Hitam sebagai perlambang bahwa kondisi saat ini kurang baik karena virus corona yang melanda tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia,” papar Mahapatih Keraton Surakarta KGPHPA Tedjowulan, melalui juru bicaranya, Bambang Pradotonegoro, di Sasana Purnama Badran Solo. Jumat (27/3/2020)

Oleh karena, menurut Tedjowulan, itu harus mengurangi kesenangan dan banyak tirakat atau doa kepada Tuhan. Dilambangkan dengan tidak memakai gula supaya tidak manis.

Seperti halnya juga tidak menggunakan santan, dimaksudkan kita harus menahan diri untuk tidak melakukan bepergian.

Sementara garam kasar menunjukkan bahwa kondisi saat ini tidaklah mudah, untuk itu perlu sarana menetralkan menjadi rasa asin yang memberikan kekuatan dalam menghadapi situasi saat ini.

“Sumangga sebagai orang Jawa jangan sampai “ilang jawane” dadi wong njawi,” pungkas Mahapatih. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *