Momen Pernikahan Spesial di Royal Besaran Heritage Resto

JATENGONLINE, SOLO – Siapa yang pernah membayangkan jika harus menggelar resepsi pernikahan dengan banyak aturan, seperti mewajibkan pemakaian masker, menyediakan sarana cuci tangan bagi tamu, dan membatasi undangan. Bahkan, undangan yang sudah sedikit itu, harus dijadwal kedatangannya agar tidak menimbulkan kerumunan.

Tidak terbayang memang, dan tidak sesuai dengan ekspektasi dulu sebelum persiapan pernikahan. Banyak saudara dan teman yang diharapkan bisa hadir, terpaksa tidak datang karena banyak pembatasan. Namun, setidaknya keinginan untuk menggelar resepsi pernikahan bisa menjadi kenyataan. Tidak ada alasan untuk menunda lebih lama, karena belum jelas juga kapan pandemi akan berakhir.

Perubahan tren pernikahan karena berbagai pembatasan, pasangan pengantin mengalami perubahan gambaran tentang resepsi pernikahan ideal di mata mereka. Jumlah tamu di masa lalu adalah gambaran luasnya pergaulan pengantin dan ketokohan orang tuanya. Saat ini semua menjadi lebih pribadi, hanya yang memiliki hubungan terdekat dapat hadir dan menjadi saksi.

Perkembangan ini, diakui Pembayun Galih Ratri, General Manager Royal Besaran Heritage Resto and Gallery, menjadi tantangan tersendiri yang harus diatasi melalui inovasi. “Kami dituntut untuk berinovasi, berkreasi dan kami harus berpikir ke depan, apa yang sebelumnya tidak kami pikirkan, harus kami pikirkan,” ujarnya.

Bersama para vendor acara pernikahan seolah tak berhenti beraktivitas. Belakangan, ketika masyarakat mulai memutuskan untuk tidak menunda hajat pernikahan, pekerjaan mulai datang. Protokol kesehatan menjadi kewajiban, dan simulasi bersama seluruh vendor telah dilakukan beberapa kali.

Royal Besaran menawarkan Privat Royal Wedding dirumah heritage Mangkunegaran IV yang berada dalam satu komplek wisata De Tjolomadoe, dimana Royal Besaran menjadi salah satu icon heritage yang suasananya tidak ditemukan di restoran lain di Solo menyajikan momen spesial seperti pernikahan.

“Royal Besaran adalah tempat yang spesial, kami siap menyajikan momen pernikahan spesial,” ungkap Pembayun, baru-baru ini.

Ditambahkan Pembayun, jika gedung Royal Besaran memiliki arsitektur kuno, dibangun pada tahun 1861, dulunya ini merupakan rumah dari Mangkunegaran IV, selaku pemilik pabrik tebu Tjolomadoe.

Terdapat sejumlah ruangan yang bisa difungsikan sebagai hall ruang resepsi utama, lalu ada ruang galeri belakang bisa digunakan untuk acara siraman lengkap dengan Gasebo antik, dan ada galeri dalam untuk akad dan ruang VVIP.

Sementara untuk halaman depan dan belakang bisa difungsikan sebagai tempat resepsi bila ingin menggelar resepsi konsep pesta kebun.

“Karena di masa pandemi, kita juga set private party demi kenyamanan jadi kami maksimalkan 50 tamu, dari kapasitas tamu sebenarnya bisa mencapai 150 orang,” imbuhnya.

Prosesi Siraman

Royal Besaran menawarkan kemegahan dan kesakralan upacara pernikahan. Dengan biaya mulai Rp 28 juta, bisa mendapatkan prosesi siraman, akad, panggih dan resepsi untuk 50 orang.

Dengan menggandeng sejumlah vendor kenamaan penyelenggara resepsi pernikahan, seperti @arniesuryo @alproductionorgnzr, @iyummakeover, @adinagta_riaspengantin, HIK Vision, @agungsound70, @hellodomenico, Mahesa Dekoration, Araka Music, HRW Lighting dam Vania Bakery.

“Tidak perlu berkecil hati apabila memiliki bayangan tentang ‘pernikahan impian’ di kala pandemi seperti saat ini. Karena tetap bisa mewujudkan ide tentang pernikahan impianmu itu secara aman dan affordable di Royal Besaran,” pungkas Pembayun.

Sisa kemegahan dan kejayaan Raja-Raja Mangkunegaran masih jelas tergambar dari bangunan De Tjolomadoe, bekas pabrik gula yang kini masih berdiri megah. Adalah Mangkunegaran IV yang membangunnya dan mengantarkan Mangkunegaran menuju puncak kejayaan di masa kepemimpinannya tahun 1853 – 1881.

MN IV merupakan pemimpin yang memiliki visi besar. Selain mendirikan Pabrik Gula (PG) Tjolomadoe dan PG Tasikmadoe, semasa bertahta, MN IV memprakarsai berdirinya Stasiun Solo Balapan sebagai penghubung kota Solo – Semarang. Serta dikenal sebagai ahli tata kota dan kanalisasi.

Kini PG Tjolomadoe sudah dikelola dengan baik oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, bangunan bergaya kolonial Belanda ini disulap menjadi resto dan galeri seni bertaraf internasional.

Dengan nama Royal House, bangunan bergaya kolonial yang berdiri sejak 1861 ini telah mengalami proses renovasi. Namun, arsitektur asli dengan piar-pilar besar di bagian depan yang masih berlantai traso dan diimpor langsung dari Belanda, tetap dipertahankan.

“Royal Besaran yang berada di komplek De Tjolomadoe menyajikan suasana makan yang elegan dengan menu menu khas Nusantara, Belanda dan Eropa,” imbuh Pembayun.

Membidik segmen menengah keatas, komunitas atau pecinta seni budaya dan wisatawan atau ekspatriat. Terlebih didalamnya tersimpan banyak lukisan realis, termasuk lukisan MN IV yang diletakkan di ruangan khusus. Juga ada puluhan lukisan Presiden RI Joko Widodo.

Royal Besaran juga sebagai rumah seni bagi komunitas untuk berbagai seni dan budaya, khususnya seni lukisan. Dan, ada satu menu yang sangat spesial, menu raja Mangkunegaran yakni menu Nasi Jemblung. Yakni nasi yang disajikam bulat pipih, namun di tengahnya berlubang, diisi bistik lidah, dan layak dicoba hanya ditemui di Royal Besaran. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *