Pelaku Usaha di Kawasan Sriwedari Tak Tersentuh Revitalisasi?

JATENGONLINE, SOLO – Ada angin segar terkait kunjungan Walikota Solo Gibran Rakabumingraka ke kawasan Taman Sriwedari Solo, utamanya progres pembangunan Masjid Raya Sriwedari yang kondisi penyelesaiannya kini tinggal kisaran 15 persen lagi. Kunjungan tersebut bersamaan dengan agenda Mider Praja. Jumat (9/4/2021).

Yak, karena sisi lain di kawasan Taman Sriwedari tersebut, sudah lebih dari 30 tahun, ada sekitar 3000-an pelaku usaha yang menggantungkan hidupnya di sana. Bahkan keberadaan mereka menjadi semacam legenda bagi warga Solo dan sekitarnya sejak dulu kala. Selain itu, beragam denyut ekonomi kreatif dan seni budaya, muncul dari kalangan pelaku usaha tersebut. Meskipun sampai sejauh ini, banyak program pembangunan daerah kota Solo, belum menyentuh secara mendasar keberadaan mereka.

Melalui paguyuban dalam wadah Foksri (Forum Komunitas Sriwedari), mewadahi ribuan pelaku usaha itu, berinisiatif membawa keluh kesah mereka, mulai kejelasan keberadaan hingga status hukumnya, mengais rejeki dan menggantungkan nasib di lahan tersebut.

Surat untuk beraudiensi dengan Walikota Solo Gibran pun telah dilayangkan, namun hingga kunjungannya ke Masjid Raya Sriwedari, Jumat (9/4/2021), belum juga ada kejelasan kapan bisa diterima untuk ‘nguda rasa’. Meskipun pengurus dan anggota berharap bisa dilaksanakan secepatnya. Karena berharap bisa memberi ketenangan, serta kepastian hukum bagi ribuan anggota Foksri.

Pembina Paguyuban Foksri, BRM Kusumo Putro, SH, MH mengharapkan, Walikota Solo bisa memberikan jaminan kepastian hukum lahan Sriwedari dan peduli terhadap nasib ribuan pelaku usaha yang mencari nafkah di tempat tersebut.

Walikota Solo Gibran beserta rombongan meninjau pembangunan Masjid Raya Sriwedari.

“Alhamdullilah, tadi pagi Jum’at 9 April 2021 saat agenda Mider Praja Walikota Solo Mas Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Masjid Raya Sriwedari, semoga ini adalah awal yang baik,” kata Ketua AMAKP (Aliansi Masyarakat Akuntabilitas Kebijakan Publik) Jawa Tengah.

Sebagai bentuk perhatian Walikota Solo, lanjut Tokoh Muda Pegiat Sosial dan Budaya ini, sekaligus untuk kelanjutan penyelesaian pembangunan Masjid Raya Sriwedari yang merupakan salah satu masjid megah dan indah kebanggaan warga Kota Solo yang juga merupakan masjid pertama di Indonesia dengan menara tertinggi yaitu setinggi 114 meter yang nantinya akan bisa menambah satu lagi icon Kota Solo.

Kusumo secara pribadi mengapresiasi dan menyambut gembira kunjungan Walikota Solo Gibran ke lokasi pembangunan Masjid Sriwedari, ditemui dirumahnya di Perumahan Elite Griya Kuantan Gonilan, Jumat (9/4) sore

Praktisi hukum anggota Peradi Solo ini berharap semoga setelah Masjid Raya Sriwedari Walikota Solo beserta seluruh jajaran dinas terkait juga mengagendakan melakukan kunjungan dinas resmi ke seluruh Kawasan Sriwedari untuk melihat seluruh kawasan Sriwedari dan bertatap muka bertemu langsung dengan para pelaku usaha dan paguyuban yang ada serta masyarakat di kawasan Sriwedari guna menampung aspirasi keinginan warga para pelaku usaha di Kawasan Taman Sriwedari.

“Foksri dan seluruh pelaku usaha di kawasan Taman Sriwedari sangat menaruh harapan besar pada Walikota Solo Gibran, agar bersedia memasukkan kawasan Taman Sriwedari menjadi bagian dari prioritas Grand Design penataan pembangunan Kota Solo,” ujar pria yang kini sedang menyelesaikan study program doktoral ilmu hukum di salah satu universitas ternama di Kota Semarang.

“Semoga harapan dan keinginan serta suara rakyat Solo ini didengar dan direalisasikan oleh Walikota Solo dan seluruh jajaran dinas terkait Pemkot Solo serta mendapat dukungan penuh dari DPRD Kota Solo,” ungkapnya

Ditambahkannya, banyak sekali lompatan program dan kebijakan dari Mas Walikota Solo ini, yang patut diajungi jempol. Seperti menjadikan lokasi taman Balekambang, menjadi pusat seni dan kebudayaan Surakarta. Atau rencana menyulap kawasan pasar Ngarsopuro dan sekitarnya, menjadi semacam Malioboronya wong Solo. Juga program terkait peningkatan ekonomi kreatif atau UMKM yang lain, terutama di masa pandemi seperti saat ini.

Namun dari lompatan yang dilakukannya, belum ada satupun program yang menyentuh nasib para pelaku usaha di lahan Sriwedari. Padahal ada sekitar 2500 hingga 3000 pelaku usaha dan seni yang hidup, atau menggantungkan hidup di sana. Bahkan misi revitalisasi lahan Sriwedari, dari pemangku kebijakan atau walikota-walikota sebelumnya juga belum tersentuh hingga kini.

Jika saja, misi revitalisasi lahan Sriwedari bisa terwujud, tentu nasib para pelaku usaha di lahan taman kebanggaan Wong Solo ini, juga semakin tenang karena mendapat kepastian hukum dalam menjalankan semua aktifitasnya dengan nyaman.

Banyak ikon legendaris yang sudah kadung disematkan, atau dikenal oleh publik dan masyarakat luas di lahan Sriwedari tersebut. Bahkan juga ikon-ikon yang benar-benar mengandung muatan sejarah dan juga masuk dalam kategori perlindungan cagar budaya. Seperti Museum Radya Pustaka, atau gedung Wayang Orang yang umurnya sudah ratusan tahun berdiri.

Gedung Wayang Orang Sriwedari

Jika suatu hari nanti, Sriwedari yang merupakan kebanggaan warga Solo hilang, tentu akan membuat kota Solo kehilangan ruhnya. Ruh dimana ikon tersebut banyak menyimpan sejarah masa lalu. Atau sejak jaman Kraton Surakarta didirikan di desa Sala atau Baluwarti. Di masa modern sekarang, Sriwedari merupakan gudangnya para seniman. Termasuk pelukis, pengrajin, pemahat, pemain wayang, penari, dll.

Kondisi yang sekarang benar-benar terjadi, adalah kenyataan bahwa ada ribuan pelaku usaha yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari lahan Sriwedari tersebut. Namun sampai saat ini, mereka tidak mendapat kepastian bagaimana nasib atau status keberadaan mereka. Juga bagaimana sebenarnya, atau siapa pengelola dari lahan Sriwedari tersebut. Mereka hanya bisa berkeluh-kesah di wadah forum Foksri.

“Sementara keberadaan paguyuban Foksri itu sendiri, jumlah anggotanya sangat besar atau banyak. Yang unik, dalam satu wilayah atau forum itu masih terdapat banyak paguyuban lain yang bernaung di dalamnya,” terang Kusumo lagi.

Memang di lahan Sriwedari, banyak komunitas atau paguyuban yang mewadahi masing-masing anggotanya, berdasar bidang atau jenis usaha dan jasanya masing-masing. Misalnya ada paguyuban Busri, komunitas para pedagang buku bekas dan baru yang sangat melegenda sejak dulu hingga sekarang. Juga ada paguyuban Pasari, Rukun Santosa, PKL Dalam dan Luar Sriwedari, Jasa komputer, Tukang Parkir, Bursa Mobil Bekas, dll.

“Dengan potensi tersebut, kami dari Foksri memohon kepada walikota Solo yang baru, agar segera menjadikan semua potensi yang ada di lahan Sriwedari, menjadi salah satu bagian, dari Grand Desind pembangunan kota Solo,” imbuhnya.

Malah sebisa mungkin, harus menjadi satu prioritas penting, dalam rangka pembangunan menyeluruh di kota Solo. Juga dalam rangka usaha dan program peningkatan ekonomi kreatif dan UMKM di kota Solo. Intinya, keberadaan Sriwedari dengan segala ikon dan potensinya jangan sampai hilang ditelan jaman. Jangan sampai masyarakat dan dunia lupa dengan sejarah dan keberadaan Sriwedari.

Sehingga salah satu caranya adalah dengan keterlibatan Pemkot Solo dalam pengelolaan lahan Sriwedari. Dengan cara tersebut, diharapkan semua pelaku usaha dan jasa, budayawan, dan seniman yang ada di lahan Sriwedari bisa tetap melakukan aktivitasnya dengan tenang.

Sementara itu ketua Foksri, Safik Hanafi (50), mengatakan nasib dan kesejahteraan semua anggota akan terus diperjuangkan. Mengingat kondisi sekarang belum tersentuh sama sekali oleh derap pembangunan kota Solo. Sehingga iapun bertanya ada apa? Janji revitalisasi oleh para pemimpin kota Solo sebelumnya sangat diharapkan realisasinya di era sekarang.

Taman Sriwedari Riwayatmu Kini

“Sebagai tempat hiburan keluarga raja (bon raja) yang berada di jantung kota, serta cikal bakal tumbuhnya ekonomi kreatif dan hiburan, tentu Sriwedari sangat membutuhkan sinergi antara pelaku usaha dan pelaku seni budaya,” jelasnya.

Sehingga pemerintah diharap segera mendahulukan, terkait perhatiannya terhadap segala kondisi di lahan Sriwedari. Apalagi pelaku usaha di Sriwedari sudah menunggu selama beberapa periode. Baik saat waktu kepemimpinan Bapak Jokowi menjadi walikota, ataupun sewaktu dipimpin oleh Bapak Rudy. Selama 20 tahun lebih mereka menunggu apa yang terbaik, yang hendak dilakukan oleh pemkot Solo.

“Intinya kita manut atau nderek pemerintah, alias tunduk, apa yang akan diperbuat oleh pemerintah. Namun kalau bisa ya jangan dipinggirkan, atau dipikir paling belakangan dibanding yang lain,” imbuh Safik saat jumpa pers di Sriwedari.

Ia juga mengatakan, jika selama ini banyak pihak mengklaim sebagai pemilik (ahli waris) lahan Sriwedari, dan menawarkan berbagai opsi kepada semua warga atau pelaku usaha di Sriwedari, tentu tidak akan diladeni jika tidak membawa identitas atau surat resmi yang sah secara hukum. Hal-hal seperti itu, tentu sedikit banyak juga mempengaruhi kenyamanan beraktifitas para pelaku usaha di Sriwedari.

Harapan kepada Mas Walikota Solo Gibran, agar segera menengok atau berkunjung ke Sriwedari. Sehingga bisa segera memikirkan segala hal terkait isi, potensi, dan aktivitas yang ada di dalam lahan Sriwedari. Karena selama ini, Sriwedari ibarat mati suri. Dikatakan mati tidak, namun dikatakan hidup juga seperti enggan.

Ketua Paguyuban Rukun Santosa yang menginduk Foksri, yaitu Joko Sukamto, menambahkan bahwa sebagian anggotanya adalah yang paling terdampak oleh proyek revitalisasi. Bahkan sebagian sudah keluar atau dipindahkan ke sisi lain dari lahan Sriwedari. Dan tentu saja kondisinya tidak senyaman dan seprospek di lokasi lama. Sementara masih ada puluhan anggota lain yang masih bertahan di tempat lama.

“Kami sekedar mengingatkan kepada pemimpin kota Solo yang baru, agar bisa peduli atau mengakomodir dengan nasib para anggota kami. Apalagi hal ini juga terkait dengan misi Walikota baru tentang percepatan ekonomi. Harapan kami agar bisa beraudiensi dengan Walikota, supaya percepatan ekonomi itu juga bisa berdampak positif kepada nasib anggota kami di Sriwedari,” jelas Joko Sukamto.

Sementara Purwati, mewakili dari paguyuban PKL Sriwedari, berharap agar pak Walikota yang baru bisa memperhatikan nasib mereka yang sekarang beranggotakan sekitar 25 orang itu. Purwati bahkan mengatakan, bahwa banyak anggotanya yang menggantungkan hidup di lahan Sriwedari sampai tiga generasi. Dari kondisi Sriwedari mulai ramai, sangat ramai, hingga kembali sepi seperti sekarang.

Bursa Buku Busri

Dari paguyuban Buku Sriwedari, juga ngudarasa hal senada. Agus Mulyanto (55), ketua Busri yang mengaku sudah 40 tahun mengais rejeki dari denyut nadi lahan Sriwedari. mengharap agar pemerintah bisa mempertahankan, atau menempatkan para pedagang buku tetap di lahan Sriwedari. Bahkan bila perlu ada tambahan space khusus untuk bacaan-bacaan sesuai klasifikasi. Misalnya bacaan kuno ataupun modern.

“Harapan kami, agar walikota Pak Gibran bisa mempertahankan keberadaan komunitas dan semua pelaku usaha buku agar tetap eksis di Sriwedari. Bagaimanapun juga keberadaan kami sudah menjadi ikon penting dalam sejarah kebanggaan kota Solo yang panjang,” ujar Agus

Sementara Robit (52), koordinator pendiri Foksri bertekad, ingin menyampaikan kondisi terkini, terutama nasib semua anggota Foksri kepada walikota Solo yang baru, Gibran Rakabuming Raka. Sekaligus mengharap, agar grand design pembangunan kota, bisa mengakomodir misi-misi walikota terdahulu, khususnya terkait revitalisasi Sriwedari. Sehingga semua pelaku usaha dan seni budaya di dalam lahan Sriwedari, bisa ikut menikmati pembangunan ke depannya. (pra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *