Mitos Guru

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta

JATENGONLINE – Mitos adalah tradisi lisan yang terbentuk di suatu masyarakat. Mitos memiliki asal kata dari bahasa Yunani yang artinya sesuatu yang diungkapkan. Secara pengertian mitos adalah cerita yang bersifat simbolik yang mengisahkan serangkaian cerita nyata atau imajiner. Di dalam mitos bisa berisi asal usul alam semesta, dewa-dewa, supranatural, pahlawan manusia atau masyarakat tertentu yang mana memiliki tujuan untuk meneruskan dan menstabilkan kebudayaan, memberikan petunjuk hidup, melegalisir aktivitas kebudayaan, pemberian makna hidup dan pemberian model pengetahuan untuk menjelaskan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan akal pikiran. mitos/mi·tos/ n cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib; ( Wikipedia, bahasa Indonesia )

Masih dari Wikipedia bahwa Mitos (bahasa Yunani: µ???? translit. mythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah bagian dari suatu folklor yang berupa kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta (seperti penciptaan dunia dan keberadaan makhluk di dalamnya), serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional.

Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta dan bentuk topografi, keadaan dunia dan para makhluk penghuninya, deskripsi tentang para makhluk mitologis, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual. Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.

Mitos menurut Harsojo ( 1988 ) adalah system kepercayaan dari suatu kelompok manusia, yang berdiri atas sebuah landasan yang menjelaskan cerita-cerita yang suci yang berhubungan dengan masa lalu. Mitos yang dalam arti asli sebagai kiasan dari zaman purba merupakan cerita yang asal usulnya sudah dilupakan, namun ternyata pada zaman sekarang mitos dianggap sebagai suatu cerita yang dianggap benar. Manusia memerlukan sekali kehadiran alam sehingga terjadi hubungan yang erat antara manusia dan alam.

Setelah mengetahui tentang arti mitos di atas maka dapat disimpulkan bahwa mitos dianggap sebagai kisah yang dapat diyakini kebenarannya oleh masyarakat/ komunitas penganutnya. Karena mitos yang diyakoini oleh komunitas penganutnya belum tentu juga diyakini oleh komunitas yang memiliki mitologi yang berbeda. Jadi tidak selalu semuanya mengakui bahwa mitos dalam cerita itu benar. Misalnya ketika orang-orang mendatangi Pantai Selatan tidak diperbolehkan menggunakan pakaian berwarna hijau ( ini merupakan mitos yang banyak dipercaya oleh komunitas yang meyakininya namun tidak dipercaya oleh komunitas yang lainnya ).

Dalam mitos di Pantai Selatan banyak masyarakat yang menganggap benar-benar terjadi dan bahkan dianggap suci oleh yang mempunyai keyakinan. Yaitu tokoh para dewa atau makhluk setengah dewa, Nyi Roro Kidul. Oleh karena itu, dalam mitos sering ada tokoh pujaan yang dipuji tetapi sebaliknya ada tokoh yang ditakuti.

Pengertian guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik. Definisi guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut. Agar lebih memahami apa arti guru, dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli. Menurut Dri Atmaka ( 2004:17 ), pendidik atau guru adalah orang yang bertanggung jawab untuk memberikan bantuan kepada siswa dalam pengembangan baik fisik maupun spiritual. Husnul Chotimah ( 2008 ) pengertian guru adalah orang yang memfasilitasi proses peralihan ilmu pengetahuan dari sumber belajar ke peserta didik.

Menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pengertian guru adalah tenaga pendidik professional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini melaui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal tetapi juga pendidikan lainnya yang bisa menjadi sosok yang diteladani oleh muridnya. Peran guru sangat penting dalam proses menciptakan generasi penerus yang berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya.

Mitos Guru atau dalam bahasa Jawa digugu lan ditiru ( dipercaya dan dijadikan contoh ) biasanya sering dihubungkan dengan sifat, budaya, perilaku dalam kehidupannya. Setiap mendengar atau ingat dengan kata mitos pasti akan ingat pula dengan masyarakat Jawa ( paham-paham Jawa ). Padahal kenyataannya mitos itu tidak hanya kepunyaan masyarakat Jawa saja namun sudah dimiliki oleh sebagian masyarakat di dunia ini.

Penulis sengaja membuat judul seperti di atas tidak bermaksud agar guru dijadikan dewa ataupun manusia setengah dewa. Seperti contoh, mitos Nyi Roro Kidul, maka mitos guru juga harus dijaga keberadaannya. Tidak dibuat sebagai ejekan misalnya guru bayaran tanpa keringat, guru tidak berkualitas, guru tidak profesional, guru hanya semangat kalau mendapatkan sertifikasi, guru juga ikut libur kalau muridnya libur, guru tidak mampu menggunakan TIK, dan sebagainya.

Apabila mitos guru itu sampai benar-benar dilanggar, maka akan mendapatkan musibah misalnya tidak sekolah karena tidak ada yang mau sekolah, tidak percaya dengan guru, tidak mau meneladani guru. Apabila mitos guru ini diberlakukan dengan baik maka bisa dipastikan akan lebih baik keadaannya / kondisinya bahkan bisa bermanfaat bagi kehidupan generasi penerus bangsa untuk masa yang akan datang. Seorang pendidik atau guru memiliki tugas dan tanggungjawab untuk mengajar, mendidik, melatih peserta didik agar menjadi individu yang berkualitas, baik dari sisi intelektual ataupun akhlaknya. Tidak mungkin Guru akan mendidik peserta didik untuk berbuat jahat, misalnya mencuri, berbohong apalagi korupsi.

Apabila masih ada yang berpendapat bahwa mitos guru tidak dipercaya oleh sebagian komunitas namun penulis yakin walaupun kecil pasti ada sebagian yang percaya. Yang jelas mitos itu hanyalah sarana, tergantung pemakainya/penggunaannya. Yang namanya mitos itu merupakan lambang yang harus diceritakan apa artinya. Apabila dipercaya faedahnya apa namun apa bila dilanggar apa akibatnya. Manusia lebih pandai dalam berfikir, karena secara nalar manusia lebih utama dari makhluk yang lainnya.

Penulis pernah membaca di majalah Jaya Baya No. 14 Minggu 1 Desember 2009 yang ditulis oleh Sunardi KS bahwa guru itu seperti sumur, dalam dan banyak ilmunya. Guru yang bijaksana di tengah-tengah masyarakat mempunyai sifat yang andhap asor ( rendah hati ). Karena mempunyai sifat yang rendah hati maka guru seperti sumur. Sumur itu tidak memberi air namun hanya diambil airnya. Diambil airnya untuk kepentingan ember, kamar mandi, dan sebagainya. Itu karena sumur hanya menjadi sarana tempat air dan ada yang menggunakannya. Dan sumur tidak pernah merasa rugi karena diambil airnya, tidak merasa takut kekeringan. Sumur merasa apabila airnya selalu diambil, maka air akan bertambah banyak dan bersih dari sumbernya.

Sebagai guru yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk mengajar, mendidik, melatih peserta didik agar menjadi individu yang berkualitas, baik dari sisi intelektual ataupun akhlaknya. Tidak sedikitpun merasa khawatir apabila peserta didiknya akan sama seperti gurunya. Bahkan guru merasa senang apabila peserta didik kepandaiannya melebihi gurunya. Menjadi Guru tidak merasa berat apalagi beban, walaupun setiap hari harus melakukan pekerjaan yang sama dan harus bergelut dengan materi dan materi.

Sebagai kesimpulan, penulis menyampaikan bahwa mitos guru merupakan pelajaran, nasihat atau peringatan dari seorang guru khusunya dan masyarakat umum lainnya agar tidak ada yang merasa paling pandai ataupun tidak ada yang merasa diberi kepandaian. Guru dengan digugu lan ditiru, sabar dan telaten menghadapi peserta didik yang beraneka ragam. Guru tidak menganggap diri lebih pandai. Walaupun kadangkala pengertian pandai itu bisa bergeser, tergantung “peserta didik” yang bagaimana yang sedang dihadapi. Terserah Anda, percaya atau tidak! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *