Implementasi Guru Dengan ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani’

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta, No. HP. 081329405977

JATENGONLINE – Implementasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) adalah Implementasi/im·ple·men·ta·si/ /impleméntasi/ n pelaksanaan; penerapan: pertemuan kedua ini bermaksud mencari bentuk — tentang hal yang disepakati dulu; Implementasi adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga dimaksudkan menyediakan sarana untuk membuat sesuatu dan memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap sesama.

Pengertian Implementasi menurut Syukur dalam Surmayadi ( 2005 : 79 ) mengemukakan ada tiga unsur penting dalam proses implementasi, yaitu (1) adanya program atau kebijakan yang sedang dilaksanakan (2) kelompok sasaran, yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dan ditetapkan untuk manfaat dari program, perubahan atau perbaikan (3) menerapkan elemen ( Pelaksana ) baik untuk organisasi atau individu yang bertanggungjawab untuk memperoleh pelaksanaan dan pengawasan proses implementasi.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa implementasi merupakan tindakan yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang untuk mewujudkan cita-cita atau tujuan yang telah ditetapkan. Tindakan yang harus dilakukan atau untuk merealisasikan program yang telah disusun demi tercapainya tujuan. Pada dasarnya semua rencana yang sudah ditetapkan memiliki tujuan atau target yang hendak dicapai.

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani artinya menjadi pribadi / menjadi pemimpin yang bijak dan berjiwa kesatria yaitu di depan memberi suri tauladan, di tengah menggerakkan dan membangun kekuatan, di belakang memberi motivasi dan dorongan. Yang mana arti atau makna ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ternyata merupakan slogan dari seorang Pahlawan kita yang hebat yaitu Ki Hajar Dewantara.

Sungguh hebat dan luar biasa karena telah menciptakan slogan yang sangat bagus sekali diterapkan di mana saja, siapa saja dan kapanpun serta untuk semua urusan. Inilah yang membuat Penulis tertarik dengan slogan ini, dan ingin sekali menyampaikan kepada pembaca untuk lebih memahami maksud dan tujuan slogan ini. Selain dengan slogan yang sangat mengagumkan bagi banyak orang, penulis merasa bangga karena kalimat yang dibuat slogan itu menggunakan Bahasa Jawa.Setidaknya juga ingin melestarikan salah satu budaya Jawa yang ada di Indonesia ini. Namun juga menyesuaikan dengan kemampuan penulis sebagai Guru Bahasa Jawa.

Untuk lebih jelasnya akan Penulis sampaikan arti perkata slogan itu untuk mempermudah memahaminya. Ing ngarsa sung tuladha : ing ( di ), ngarsa ( depan ), sung ( jadi ), tuladha ( contoh / panutan ), artinya di depan menjadi contoh. Nah, dari kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa semboyan Ki Hajar Dewantara yang pertama ini mempunyai arti “di depan menjadi contoh atau panutan”.

Ing madya mangun karsa : ing ( di ), madya ( tengah ), mangun ( membangun , memberikan ), karsa ( kemauan, semangat, niat ).Apabila kata itu digabungkan, semboyan ing madya mangun karsa memiliki arti yaitu “di tengah memberi atau membangun semangat, niat, maupun kemauan”. Tut wuri handayani : dene ana ing mburi ( apabila berada di belakang ). Kata tut wuri dapat diartikan sebagai “di belakang” atau “mengikuti dari belakang” dan handayani yang berarti “memberikan dorongan” atau “semangat”.

Setelah Penulis jelaskan satu demi satu arti dan makna slogan Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani, maka dapat disimpulkan bahwa kalau kita berada di depan haruslah bisa memberi contoh atau panutan yang baik. Harus memiliki perilaku dan sifat yang pantas / patut untuk menjadi contoh bagi pengikutnya. Sebagai orang yang di depan atau bisa dikatakan dengan yang dituakan maka harus bahkan wajib memberi nasihat dan contoh yang baik.

Sedangkan untuk menjadi orang yang berada di tengah –tengah haruslah bisa memahami tujuan atau harapan yang menjadi cita-cita yang di depan. Kemudian apabila menjadi orang yang berada di belakang haruslah bisa memberi motivasi agar tujuan yang berada di depan bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana.

Sebagai Guru ( digugu lan ditiru ) yang bisa dipercaya dan dijadikan contoh, hubungan dengan slogan Ing ngarsa sung tuladha , ing madya mangun karsa tutwuri handayani?.Seorang Guru dari depan harus bisa menjadi teladan / contoh yang baik, dari tengah harus bisa menciptakan ide atau prakarsa yang baik, dan dari belakang seorang Guru harus bisa memberi arahan. Dalam kondisi saat ini, pandemi antara Guru dan murid memang tidak bisa bertatap muka secara langsung, demi kesehatan bersama. Namun sebagai Guru Bahasa Jawa, merasa sangat prihatin dengan keadaan.

Secara jujur antara Guru dengan murid itu memang seharusnya bisa bertatap muka secara langsung dalam pembelajaran. Melakukan pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) menambah perilaku ketidakjujuran. Bagaimana mau jujur? Anak di rumah ditinggal orang tuanya untuk mencari nafkah, artinya anak seharian tanpa pengawasan. Mau melakukan apapun, bebas tanpa ada yang memberi pengarahan.

Seandainya sudah di pesan dengan beberapa kata bahkan dengan beribu-ribu kata, belum tentu semuanya akan dilakukan. Sebagai contoh misalnya anak yang sudah berani melakukan kebohongan dengan Guru di saat ada penagihan tugas yang harus dikumpulkan. Dengan beraneka alasan dilakukan oleh anak kepada Gurunya, demi mendapatkan keringanan ( Guru agar tidak marah ). Anak tidak berfikir bahwa Guru akan menilai dari hasil pekerjaan murid yang diberikan oleh Guru. Apabila anak tidak mengumpulkan tugas, dari mana nilai akan didapat?.

Begitulan cerita sekilas tentang keadaan antara Guru dengan murid yang saat ini terjadi. Ini merupakan bukti bahwa anak yang berada di rumah dalam mengikuti pembelajaran memang kurang maksimal. Kenyataan banyak Orang Tua yang kurang memperhatikan cara belajar dari anaknya ( bukti pengumpulan tugas ), mudah percaya dengan kata-kata anaknya yang menyampaikan sudah mengirim tugas, apabila itu ditanyakan Orang Tuanya. Nah, inilah Orang Tua yang sedikit kurang sabar, untuk melihat bukti, mereka terlalu percaya dengan anaknya.

Sekaligus pesan kepada Orang Tua untuk selalu menanyakan / mengecek anaknya dalam hal menerima pelajaran. Seandainya seharian sudah merasa capek dalam bekerja mencari nafkah, tidak harus setiap hari melakukan pengecekan. Minimal dua hari sekali, itu sudah meringankan tugas anak. Apabila tugas selalu ditunda-tunda selain akan merugikan anak itu sendiri juga merepotkan tugas Guru.

Meskipun itu memang tanggungjawab seorang Guru, namun akan lebih baik bekerja sama, bergotong royong antara Guru, Orang Tua dan murid. Semua itu demi mencerdaskan generasi penerus bangsa. Tidak ada Orang Tua yang akan menjerumuskan anaknya ke dalam kejelekan atau ketidakbahagiaan. Semua Orang Tua menginginkan anaknya melebihi Orang Tuanya dalam segalanya ( kebahagiaan dan keberhasilan / kesuksesan ).

Dilihat dari makna Ing ngarsa sung tuladha bisa diartikan sebagai seorang Guru harus memiliki sikap serta perilaku yang patut untuk menjadi contoh bagi muridnya juga kepada orang lain di sekitarnya. Sedangkan dipandang dari Ing madya mangun karsa merupakan bahwa seorang Guru juga harus bisa berada di tengah-tengah untuk membangkitkan atau membentuk cita-cita para murid untuk bisa terus maju dan melakukan inovasi demi cita-cita mereka. Untuk kalimat terakhir yaitu Tutwuri handayani bisa diartikan jika Guru berada di belakang maka harus dapat memberikan motivasi serta mendorong untuk semangat kerja keras bagi para muridnya.

Dari semboyan ing ngarsa sung tuladha ing madya mangun karsa tutwuri handayani yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara, sampai saat ini selalu diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional pada setiap tanggal 2 Mei, dan masih digunakan sebagai pedoman khususnya Guru. Bahkan salah satunya juga digunakan untuk semboyan pendidikan di Indonesia, contoh sebagai lambang pendidikan nasional yang digunakan setiap hari yaitu topi dan dasi, di bagian atas ada tulisan tutwuri handayani. Semoga Guru bisa memerdekakan batin yaitu hati dan jiwa!. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *