Nilai Moral Dalam ‘Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku’

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta, No. HP. 081329405977

JATENGONLINE – Nilai moral merupakan nilai-nilai yang terkait dengan tindakan yang baik maupun tindakan yang buruk yang menjadi pemandu kehidupan manusia secara umum. Nilai moral sangat penting karena sebagai sumber motivasi atau sebagai pendorong untuk selalu bertindak. Oleh sebab itulah maka nilai-nilai moral cenderung untuk mengatur dan membatasi tindakan kita sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai moral adalah suatu bentuk gambaran objektif tentang kebenaran yang dibuat oleh seseorang dalam lingkungan sosial. Pemahaman ini dapat digunakan untuk menjelaskan suku kata moral dari bahasa yang berbeda, seperti dalam Bahasa Yunani “Etika”, Bahasa Arab “Akhlak, dan Bahasa Indonesia “Kesulitan”. ( Wikipedia ). Menurut Driyarkara :Menurutnya nilai moral merupakan sebuah gambaran objektif kepada tindakan manusia dalam melakukan rutinitas kehidupanya. Dengan arti inilah moral yang sering dihubungkan dengan kodrat dan hakekat manusia yang ingin hidup didalam kenyamanan dan ketenteraman.

Nilai moral bisa disimpulkan sebagai deskripsi obyektif tindakan manusia dalam menjalankan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini moral atau moralitas sebagai kebiasaan atau adat yang dilakukan oleh seseorang. Yang dilakukan seseorang itu mengacu pada tindakan yang memiliki nilai atau kebaikan yang positif. Walaupun memang kenyataannya dalam kehidupan di dunia ini ada beberapa “orang” yang melakukan tindakan yang tidak baik.

Perlu diketahui bahwa nilai moral dalam kehidupan, apabila mau mempelajari begitu banyak sekali yang harus dilakukan, mulai dari sikap atau perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang diikutinya sampai dengan perilaku tanggung jawab, dengan apa yang menjadi tugas dan kewajiban terhadap dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan ( alam, sosial dan budaya ), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu nilai moral yang lain adalah jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, dan sebagainya.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku ( menguasai ilmu itu tercapainya lewat perjalanan/ proses secara lahir maupun batin, tembang Macapat Pocung dalam Serat Wulangreh karangan Pakubuwana IV. Sebagai orang Jawa, mempunyai pandangan bahwa ngelmu ( menjadikan ilmu itu perilaku ) penyerapannya memerlukan kekuatan indera serta penghayatan pribadi, bukan hanya dengan sktivitas otak atau pikiran saja.

“Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara” (Pakubuwono IV dalam serat Wulangreh) artinya ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara (sumber: wikipedia, diakses 13 November 2019).

Dengan memperhatikan cuplikan “tembang” tersebut di atas maka bisa ditelaah bahwa ilmu merupakan salah satu sarana untuk bisa menjauhkan / menghindari hal yang tidak tahu menjadi tahu karena ilmu. Ngelmu / ilmu dan laku merupakan sesuatu rangkaian yang mutlak. Laku dalam hal ini selalu berusaha, sungguh-sungguh untuk memahami ilmu tersebut. Oleh karena itu orang akan merasa tercapai keinginannya harus tahu tentang ilmunya,tanpa tahu bisa dipastikan akan sengsara dalam kehidupannya.

Jadi ilmu itu tidak cukup diajarkan di bangku sekolah saja tanpa ada implementasi dengan dunia nyat. Kenapa ? Karena antara rasa dan penjiwaan yang didapatkan antara sekedar belajar dan terjun langsung menerapkan teori dalam dunia nyata akan terlihat jauh sekali perbedaannya. Nilai –nilai kebaikan yang didapat hanya sekedar teori dibangku sekolah, jadi seringkali hanya sebatas teori saja dan untuk melaksanakan teori itu terasa sangat berat.

Akan terasa sangat mendalam apabila ilmu itu didapatkan dari terjun langsung di masyarakat terkait dengan nilai-nilai kebaikan. Sebagai contoh misalnya ketika mendengar curahan hati dari orang lain yang sedang mengalami musibah, dengan hanya melihat secara langsung ekspresi wajahnya, tentu saja akan langsung muncul getaran ikut merasakan kesedihan.

Seperti saat ini ketika pandemi adanya virus covid-19, proses pendidikan manusia tetap berjalan meskipun tidak harus terjadi dalam bentuk yang formal. Memang ilmu dan pendidikan tidak bisa dipisahkan, manusia dengan sadar melalui proses pendidikan tidak pernah ada hentinya. Apabial manusia berhenti melakukan pendidikan akan sulit dibayangkan apa yang akan terjadi pada system peradaban dan budaya yang mereka punya.

Nilai –nilai moral yang terkandung dalam “ngelmu iku kalakone kanthi laku “ antara lain pantang menyerah ( berusaha dengan sungguh-sungguh ), jujur, sabar, dan berani berkata benar. Di dalam mencari ilmu harus bersungguh-sungguh, tanpa mengenal rasa berputus asa. Mencari ilmu akan memalui beberapa proses antara lain pengenalan, pemahaman dan penerapan dalam kehidupan bermasyarakat. Arti daripada laku ini bisa diterapkan dengan ilmu yang dipelajari dengan kenyataan kehidupan bermasyarakat.

Nilai moral tentang kejujuran merupakan landasan yang paling penting dalam falsafah “ngelmu iku kalakone kanthi laku”. Dengan modal jujr dalam menerapkan ilmu tersebut maka tidak akan menyimpang dari aslinya. Manusia biasanya mengatakan kalimat jujur pasti hancur. Janganlah cepat untuk percaya kalau yang jujur pasti hancur. Namun percayalah dengan kalimat siapa yang jujur pasti akan luhur / makmur.

Ketahuilah bahwa pendidikan memerlukan kekukatan spiritual keagamaan, akhlak mulia dan kepribadian yang luhur, oleh karena itu maka kejujuran harus dinomorsatukan / dikedepankan. Walaupun pada awalnya akan terasa pahit namun buah yang kita rasakan akhirnya akan menjadi manis. Hal ini dikarenakan akan lahir generasi-generasi muda yang berbudi pekerti yang luhur.

Mengapa harus berani berkata benar? Untuk menumbuhkembangkan sisi kemanusiaan pada anak maka harus ditanamkan sejak usia masih kecil / usia dini yaitu sikap untuk berani berkata benar dan salah. Memang sepele, namun apabila tidak dibiasakan sejak dini akibatnya pasti aka nada manipulasi kebohongan. Perlu diketahui bahwa sikap berani berkata benar dan salah adalah salah satu ajaran luhur untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup.

Untuk memanusiakan manusia inilah yang memerlukan kesabaran yang tinggi. Sangat dibutuhkan sebagai pribadi yang tangguh dalam menyikapi perubahan yang terjadi, dan sikap sabar inilah yang diperlukan untuk mengendalikan keinginan-keinginan yang tertunda ( belum berhasil ).

Dengan pembahasan seperti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan nilai-nilai kearifan moral dalam ngelmu iku kalakone kanthi laku dalam pendidikan adalah masih relevan. Nilai-nilai moral tersebut merupakan dasar-dasar pembentukan kepribadian seorang anak.

Anak sejak kecil sudah dibiasakan merasakan hidup dalam lingkungan kejujuran, tekun dalam berusaha dan berani berkata benar dan salah. Hidup harus bermakna. Belajar yang bermakna adalah belajar yang tahu arah dan tujuannya. Berusaha dengan sekuat tenaga / berikhtiar harus dilandasi dengan sikap sabar, telaten agar menjadi penyeimbang dalam usaha mencari ilmu.

Kesimpulannya bahwa, pada pendidikan sesuai dengan jalur dan jenjang/tingkat pendidikan ini, kearifan lokal yang berisikan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, usaha sungguh-sungguh dan berani berkata benar, bila benar-benar berhasil ditanamkan lewat pendidikan yang berfungsi mencerdaskan bangsa, akan dihasilkan pula manusia-manusia yang berdaya guna dalam kehidupan manusia, yaitu manusia yang sadar budaya. Semoga generasi penerus bangsa ini menjadi generasi yang bermanfaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *