STIE Surakarta Marketing Talk City Branding

Peranan Akademisi dan Praktisi, dalam rangkaian Dies Natalis ke 28 STIE Surakarta

JATENGONLINE, SOLO – City branding merupakan sebuah slogan atau kampanye promosi, suatu gambaran dari pikiran, perasaan, asosiasi dan ekspektasi yang datang dari benak seseorang ketika seseorang tersebut melihat atau mendengar sebuah nama, logo, produk layanan, event, ataupun berbagai simbol dan rancangan yang menggambarkan sebuah kota atau wilayah.

Beberapa tahun terakhir sejumlah kota besar di Indonesia mulai menerapkan konsep city branding. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada 2008 meluncurkan branding “Visit Indonesia” dengan logo berbentuk siluet burung Garuda, yang kemudian diikuti beberapa daerah di Indonesia, diantaranya Yogyakarta dengan “Jogja Never Ending Asia” kemudian berubah menjadi “Jogja istimewa”, Surakarta dengan “Solo The Spirit of Java”, dan beberapa kota lainnya.

Maraknya penerapan city branding pada akhirnya menjadi trend yang dianggap sebagai kebutuhan mendesak sebuah kota. Beberapa penerapan city branding pada akhirnya tidak memenuhi tujuan branding yang sesungguhnya, pada akhirnya hanya mengacu pada aspek pemenuhan kebutuhan kota dan penyerapan anggaran daerah.

Sebagai pelopor kampus bisnis dan ekonomi di Surakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta selalu mengadakan kajian-kajian akademis dengan tema sesuai dengan perkembangan lingkungan, menggandeng organisasi profesi pemasaran Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Solo.

Bertepatan dalam rangka dies natalis nya ke 28, menggelar acara Marketing Talk dengan judul “Membangun City Branding: Tinjauan Praktis dan Akademis” dikemas dalam media gathering dan buka puasa bersama, di Imperial Taste The Sunan Solo. Selasa (11/5/2021).

Presiden IMA Chapter Solo, Retno Wulandari, SH., MSi mengapresiasi acara tersebut berkaitan dengan upaya swasta berperan dalam membangun Kota Solo. Dari penjabaran praktik-praktik City Branding yang telah diterapkan di beberapa Kota khususnya di Kota Solo.

“Sebuah kota membutuhkan city branding, agar memiliki keunikan tertentu di mata masyarakat, sehingga kota tersebut memiliki keunggulan dibanding kota yang lain,” terang Retno.

Hal yang juga perlu diperhatikan saat melakukan branding, imbuhnya, jangan pernah lupa melakukan pendekatan berbasis kolaborasi dengan academic, business sector, community, government, dan media (ABCGM).

Jadi kalau dirumuskan, untuk melakukan city branding rangkaian yang perlu dilakukan dan menjadi perhatian adalah Riset untuk menggali potensi, Punya Landasan 4C (competitor, customer, chance, dan city), Kemasan story telling, dan Kolaborasi.

Dosen Marketing STIE Surakarta Ginanjar Rahmawan, SE., MM., MH., lebih pada penyajian beberapa hasil riset dan penelitian internasional berkaitan dengan City Branding.

“Untuk membangun City Branding bisa melalui pendekatan City Branding Index (CBI) yang meliputi Presencen, Place, Potential, People, Pulsem dan Prerequisire. Dengan pendekatan Heksagonal ini, diharapkan sebuah kota mampu memiliki branding yang baik di komunitas internasional,” papar Ginanjar.

City branding merupakan konsep baru yang diperkenalkan oleh tokoh pemasaran sebagai upaya untuk memenangkan persaingan antar negara dan kota global dewasa ini. Dimana kota-kota diseluruh dunia sekarang ini bersaing untuk mendapatkan penghasilan di sektor pajak dari berbagai bisnis dan pariwisata.

“Ukuran besarnya kota tidak lagi menjadi persaingan, namun pembeda yang menjadi keunggulannya,”

Sinergi ABCGM perlu diimplementasikan sebagai solusi atas permasalahan city branding. Ketika konsep sinergi ABCGM terwujud, penguatan city branding akan terjadi, sehingga city branding dapat berfungsi secara optimal.

Dikesempatan yang sama Ginanjar Rahmawan, SE., MM., MH., STIE Surakarta selama bulan Mei 2021 ini membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk program S1 Manajemen dan S1 Akuntansi dengan akreditasi “Sangat Baik”.

‘Kuliah di masa pandemi ini tetap harus dilakukan, terlebih biaya kuliah di STIE Surakarta sangat terjangkau, hanya 400.000/bulan,” katanya

Selain itu, STIE Surakarta juga memiliki keunggulan dalam kurikulum yang memungkinkan mahasiswa bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun. Terlebih, kini STIE Surakarta membuka jalur Non Skripsi .

Sebagai gantinya, mahasiswa melakukan penelitian yang berupa karya ilmiah terpublish di jurnal nasional maupun internasional. “Gebrakan STIE Surakarta ini cukup berani dan mendapat sambutan baik dari masyarakat,” pungkasnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *