Tourism is Borderless

Oleh: Dr. Purwanto, S.E., M.Par., CHA.

JATENGONLINE – Pariwisata itu ada dengan tujuan untuk menghadirkan kesenangan dan pelepas penat di kala seseorang atau sebuah keluarga ingin menghindar sejenak dari rutinitas yang padat setiap harinya dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada disekitarnya ataupun di daerah lain. Sejak pandemi hingga sekarang ini, pariwisata negara memang ini masih mengalami pasang surut yang belum pasti. Negara pun dibuat pusing menghadapinya. Berbagai kritikan dan komentar terus berdatangan terkait penanganan pandemi ini, khususnya pariwisata. Negara harus hadir dan tidak tinggal diam mengatasi masalah ini.

Sudah ada banyak pelaku usaha yang hampir satu tahun lebih ini harus gulung tikar dikarenakan tidak adanya pemasukan dan kepastian di dunia pariwisata. Hal semacam ini perlu ditindak lanjuti karena hanya menambah citra negatif bagi perkembangan dunia pariwisata. Pemerintah perlu selalu mendorong dan meyakinkan masyarakat bahwa tempat-tempat wisata aman untuk dikunjungi saat pandemi seperti ini. Selain itu juga, pengusaha pariwisata jangan hanya berpangku tangan saja dengan pemerintah dalam hal ini. Perlu usaha kreatif agar usahanya bisa pulih kembali.

Saya sendiri selain sebagai pelaku usaha pariwisata, tetapi juga sebagai akademisi merasa bahwa inovasi dalam menjalankan usaha pariwisata masih sangat diperlukan agar masyarakat bisa tertarik kembali dengan usaha dan jasa wisata yang kita tawarkan. Memang hal ini tidak begitu mudah dan butuh proses terkadang juga membutuhkan anggaran tambahan yang tidak sedikit untuk merealisasikannya. Tetapi, menurut saya bahwa keberanian seorang pengusaha pariwisata dalam mengambil resiko sangat diperlukan untuk tetap mempertahakan usahanya berjalan dalam situasi apapun.

Meskipun pandemi masih mengancam, optimis saja bahwa usaha pariwisata yang sedang kita jalani tetap survive. Selain itu juga, komunikasi dengan sesama kolega pengusaha pariwisata sangat perlu guna sharing informasi terkait strategi mempertahakan usaha wisata di saat pandemi. Kita ambil saja contoh Solo raya yang memiliki banyak tempat wisata yang tetap harus bertahan. Kerjasama sangatlah diperlukan dalam hal ini.

Bayangkan saja jika tidak ada kerjasama dan kepedulian bersama, bisa dipastikan akan ada banyak lagi usaha wisata yang gulung tikar dikarenakan tidak adanya pengujung dan bahkan kerjasama yang baik antar kolega dan pemerintah. Akhirnya, Solo raya tidak menjadi salah satu magnet pariwisata Jateng seperti dulu. Selain itu, pemerintah se-Solo raya perlu bekerja sama dalam mencari solusi terkait masalah pariwisata ini.

Jangan lah sampai karena kepentingan masing-masing daerah, maka pelaku usaha wisata menjadi korban dan akhirnya terkotak-kotak dalam penyelesaian masalah ini. Pemerintah perlu sadar bahwa pariwisata masih menjadi salah satu sektor andalan bagi pendapatan asli daerah (PAD) setiap tahunnya. Wisatawan domestik dan mancanegara tentu saja tidak akan tertarik lagi datang ke Solo raya jika pariwisata yang ada tidak semenarik dulu dan justru tidak ada kepedulian sama sekali oleh pemerintah karena masing-masing beda kebijakan dalam pengelolaannya.

Sebagai orang biasa, saya meghimbau kepada seluruh warga dan pemerintah Kabupaten/Kota se-Solo raya, mari kita hidupkan kembali geliat pariwisata di eks-Karesidenan Surakarta ini. Pariwisata yang ada ini merupakan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dan warisan nenek moyang yang perlu selalu dirawat dan dijaga bersama.

Pandemi memang masih mengancam, namun usaha harus tetap berjalan. Kita harus yakin dan sadar bahwa pariwisata itu komprehensif dan tidak terbatas dikarenakan kondisi, peraturan, maupun situasi seperti saat pandemic seperti ini. Gotong royong, kegigihan, serta inovasi perlu dalam hal ini agar Ide-ide inovatif dan visioner baik dari stakeholder hingga pelaku usaha dapat terwujud. Oleh sebab itu, Tourism is borderless. Semoga bermanfaat! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *