“Rila Lamun Ketaman, Kelangan Nora Gegetun” Ternyata Ini Makna Petuah Itu

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

JATENGONLINE – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Petuah mempunyai 4 (empat) makna yaitu : keputusan atau pendapat mufti ( tentang masalah agama Islam ), fatwa, nasihat orang alim, pelajaran ( nasihat ) yang baik. Petuah adalah nasihat atau pelajaran yang baik, bentuk nasihat yang lebih khusus, yaitu nasihat dari orang alim. Pepatah Jawa, masyarakat Jawa mempunyai prinsip hidup yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang bersifat universal. Nilai-nilai luhur yang digunakan oleh para leluhur zaman dulu masih berkembang secara dinamis dan diadaptasi hingga sekarang ini.

Diantara falsafah luhur masyarakat Jawa yang masih di pegang teguh hingga sekarang ini seperti pepatah Jawa atau peribahasa Jawa. Pepatah Jawa kuno masih banyak sekali dicari, seperti rila lamun ketaman kelangan nora gegetun, sebab memiliki makna yang mendalam dan petuah-petuah hidup, serta nasehat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Peribahasa adalah kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung aturan berperilaku, nasihat, prinsip hidup, perbandingan atau perumpamaan. Peribahasa biasanya menggunakan kiasan untuk menggambarkan maksud tertentu.Peribahasa adalah salah satu jenis aforisme, yakni suatu bentuk kebahasaan yang ringkas dan berisikan kebenaran umum ( Dari Wikipedia bahasa Indonesia ).

Rila lamun ketaman ( rela ketika mengalami ) nora gegetun ( kehilangan apapun tidak akan menyesal ). Peribahasa ini merupakan gambaran dari sikap seseorang yang begitu tegar dalam mengarungi lika-liku kehidupan atau cobaan hidup yang dialami di dunia ini. Dengan berpegang teguh pada pemahaman tersebut, seseorang akan cepat bangkit dan lebih memikirkan hal-hal yang positif daripada menyesal apa yang telah terjadi.

Penulis sengaja mengambil petuah ini dari pupuh Pocung Serat Wedhatama Karya KGPAA Mangkunegara IV bait ke 43, yaitu : Lila lamun, kelangan nora gegetun,trima yen ketaman, sakserik sameng dumadi, tri legawa nalangsa srah ing Bathara.Terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa, menerima bila mendapat perlakuan dari orang lain, yang ketiga ikhlas menyerahkan kepada Tuhan.

Apabila dilihat dari arti perkata seperti ini : Lila (rela) lamun (apabila) kelangan (kehilangan) nora (tidak) gegetun (kecewa berkepanjangan, larut dalam kecewa). Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa. Trima (menerima) yen (bila) ketaman (terkena, mendapat), sakserik (perlakuan menyakitkan) sameng (sesama) dumadi (makhluk, orang lain). Menerima bila mendapat perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Tri (ketiga) legawa (ikhlas) nalangsa (nelangsa, merasa rendah) srah (menyerahkan) ing (kepada) Bathara (Tuhan). Yang ketiga ikhlas dengan merendahkan diri, menyerahkan segalanya kepada Tuhan.

Melihat terjemahan bebas seperti di atas, maka dapat diartikan bahwa petuah tersebut merupakan gambaran dari sikap tegar seseorang dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Seluruh sikap dan perbuatan yang akan dilakukan penting untuk dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yang tidak menyenangkan, sehingga cepat bangkit dan memikirkan hal-hal positif daripada menyesali apa yang telah terjadi.

Dalam kearifan budaya Jawa ada istilah yang patut selalu kita pegang sampai sekarang yaitu : pangkat mung sampiran, bandha mung titipan, nyawa mung gadhuhan. Yang membuat rasa kecewa berlebihan adalah kuatnya ikatan kita dengan hal-hal yang kita miliki. Namun apabila kita selalu ingat bahwa pemilik sejati hanya Allah SWT, oleh karena itu tidaklah pantas apabila kita meratapi sesuatu yang sama sekali bukan milik kita pribadi.

Pangkat mung sampiran, mempunyai arti: bahwa jabatan apapun yang kita emban hanyalah sampiran. Laksana selendang yang disampirkan di pundak, sangat mudah suatu saat untuk jatuh dan lepas dari tubuh kita. Begitu pun yang ada hubungannya dengan segala jabatan yang ada di pundak, sewaktu-waktu dapat copot dengan mudahnya pula.

Bandha mung titipan, artinya: bahwa segala harta yang kita miliki adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Karena hanya sebagai titipan, maka harta bisa sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya. Pun jika tidak diambil mungkin akan kita serahkan kepada yang berhak kelak, sementara kita hanyalah pembawa titipan itu.

Nyawa mung gadhuhan, maknanya: nyawa (hidup) kita pun bukan milik kita, tetapi hanya gadhuhan. Gadhuhan merupakan pinjaman yang diserahkan kepada kita untuk mengelolanya, sewaktu-waktu si pemilik akan mengambil sesuai kesepakatan awal. Nah, nyawa kita pun demikian, ada perjanjian kapan akan diambil, yakni apabila raga kita tak mampu lagi menjadi tempat bagi si nyawa itu, ketika kita mati. Oleh karena itu pula dalam budaya Jawa mati biasa disebut tumeka ing janji, artinya memang mati sudah menjadi perjanjian kita dengan Tuhan.

Kalau diambil kesimpulan secara harfiah makna peribahsa tersebut dapat diartikan bahwa tulus ikhlas apabila mendapat kemalangan dan tidak akan merasa menyesal sama sekali apabila kehilangan. Tulus ikhlas disini yaitu rela artinya bersedia dengan hati yang tulus untuk menyerahkan semuanya yang dimilikinya, wewenang dan semua perbuatannya kepada Tuhan dengan rasa lila legawa ( ikhlas lahir maupun batin ).

Seseorang yang sudah mempunyai rasa lila legawa itu artinya sudah menyadari bahwa semuanya berada di dalam kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu manusia haruslah dan bahkan wajib untuk menghilangkan semuanya agar tidak ada lagi sesuatu yang membekas di hati. Mempunyai watak rela artinya tidak mengharap imbalan jasa atas segala jerih payah yang dilakukan. Dan tidak akan lagi berkeluh kesah ( sambat ; Jawa ) mengadu kepada orang lain tentang semua yang sedang dialaminya, tentu saja juga tidak akan mencampuri urusan orang lain.

Dengan pernyataan seperti tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang yang ingin mempunyai watak rela, haruslah belajar membiasakan membantu sesama, memberi pertolongan apabila diminta oleh siapapun tanpa pandang bulu. Dalam hal membantu ini juga dilihat sesuai dengan kemampuannya, terutama untuk suatu perbuatan utama, sesuaikan keadaan dan kemampuan yang ada ( tidak memaksakan diri ).

Perbuatan yang utama yang demikian itulah nantinya membuat seseorang sedikit demi sedikit semua yang terjadi akan bisa diterima dan yang hilang atau lepas, lenyap tidak menjadikan penyesalan, sedih, berduka lara. Sudah tidak akan merasakan silau pesona dunia maya yang fana ini. Kebahagiaan dan kesedihan kita juga tidak seharusnya terlalu terpengaruh oleh sikap orang lain. Apabila kita telah melakukan hal yang kita yakini benar tetapi orang lain justru membenci, kita tak perlu risau lagi.

Peribahasa rila lamun, ketaman nora gegetun ini adalah gambaran dari sikap tegar dan sabar dalam mengarungi kehidupan. Semua sikap dan perbuatan akan dipertimbangkan secara sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yang tidak menyenangkan. Sehingga akan cepat bangkit dan memikirkan hal-hal positif daripada menyesali apa yang sudah terjadi. Mampukah Anda?. Kuatkan tekad, mantapkan kehendak, dan melangkahlah! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *