“Bener Luput, Ala Becik, Begja Cilaka, Mung Saka Badan Priyangga”

JATENGONLINE – Sepenggal kalimat dari Bener luput. ala becik. begja cilaka, mung saking badan priyangga ( Benar salah, baik buruk, untung celaka, berasal dari badan sendiri). Artinya: Salah satu inti dari ajaran kejawen (segala hal yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa) yang menyatakan bahwa apa yang diperoleh seseorang merupakan hasil dari perbuatannya sendiri dan bukan semata mata akibat dari perbuatan orang lain.

Kalimat di atas mengambil dari Pada (bait) ke-108, Pupuh ke-7, Durma, Serat Wulangreh karya SISK Susuhunan Paku Buwana IV : “Bener luput ala becik lawan beja,cilaka mapan saking,ing badan priyangga,dudu saking wong liya.Mulane den ngati-ati,sakeh dirgama,singgahana den eling”. Kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut benar salah, buruk baik, dan beruntung, atau celaka sebenarnya berasal dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Maka dari itu berhati-hatilah, semua fitnah,
dihindari dan diingat selalu.

Sedangkan kalau judul di atas dikaji per kata adalah Bener (benar) luput (salah) ala (buruk) becik (baik) lawan (dan) beja (beruntung), cilaka (celaka) mapan (sebenarnya) saking (dari), ing badan (diri) priyangga (sendiri), dudu (bukan) saking (dari) wong (orang) liya (lain). Benar salah, buruk baik, dan beruntung, atau celaka sebenarnya berasal dari, diri sendiri, bukan dari orang lain.

Penulis sengaja menulis dengan judul seperti di atas mempunyai alasan bahwa kita hidup di dunia ini akan membawa nasib kita sendiri, semua yang menimpa diri kita, benar atau salah perilaku kita, baik atau buruknya, beruntung atau celaka, semuanya bersumber dari diri kita sendiri. Inilah yang jarang disadari oleh kita, itu bagian dari rahasia Allah dalam mendidik manusia membimbing ke jalan yang benar.

Yang dialami manusia ini semua tergantung dengan perilaku ( pokal gawe ) sendiri, itulah maksud daripada salah bener, ala becik, begja cilaka. Orang lain hanya menjadi tambahah agar keadaaan tadi menjadi muncul. Sebagai contoh misalnya, kalau siswa itu kurang pandai mayoritas menyalahkan Guru. Katanya Guru kurang pandai mengajar, cara menjelaskan bahasanya sulit, tugasnya banyak, dan lain sebagainya. Apabila dilihat dengan professional, jelas kalau alasan tersebut hanya dibuat-buat saja. Terbukti tidak semua siswa itu kurang pandai / bodoh. Namun banyak juga yang pandai bahkan setelah ujian ada yang menjadi juara.

Anak yang bodoh atau pandai itu bukan karena Gurunya pandai mengajar. Namun anak pandai itu tergantung dari belajar yang tekun, bersungguh-sungguh, tidak malu bertanya dengan orang lain. Anak yang tidak bersungguh-sungguh, Guru yang mengajar pandai sekalipun, naiknya kepandaian anak tersebut tidak seberapa. Apalagi jaman sekarang pandemi Covid-19, anak malas untuk membaca, tidak pernah mengerjakan tugas, main game, akhirnya yang menjadi isi kepalanya bukan ilmu namun hanya angan-angan yang kosong belaka.

Memang tidak bisa dipungkiri kalau kita hidup di dunia ini selalu berinteraksi dengan sesame manusia, namun jangan lupa dan selalu diingat bahwa semua hanya menjalankan peran yang sama sebagai makhluk Allah, semuanya di bawah kendali Sang Penguasa. Allah yang menggerakkan hati kita untuk berbuat dan berkehendak. Kita diberi kebebasan untuk memilih dan bertanggungjawab atas segala pilihan kita sendiri.

Pilihan yang tersaji pada orang satu dengan yang lainnya berbeda bentuknya, karena menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Ada yang diberi pilihan antara menjadi kaya dengan korupsi, mencuri, dan membunuh atau miskin dengan hormat, pilihan di masing-masing orang. Dengan itu semua Allah menguji dan membimbing kita agar mendapatkan hasil yang baik. Oleh karena itu berhati-hatilah, semua fitnah, dihindari dan diingat selalu.

Kita sebagai manusia harus mempunyai kesadaran, semua realita yang dialami di dunia ini untuk mengetahui bagaimana cara kita bersikap, apa pilihan kita terhadap opsi yang disajikan. Di situ muncul istilah benar salah, baik buruk, bagus dan jelek. Di satu sisi ada cara yang dekat dengan sifat-sifat ketuhanan, kita akan makin dekat denganNya. Arah sebaliknya yang jauh darinya, padahal selain Allah tidak ada, maka mengarah ke sana menuju ketiadaan diri.

Dengan pernyataan seperti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita harus selalu ingat dengan Bener luput ala becik lawan beja, cilaka mapan saking, ing badan priyangga. Bentuk peribahasa Jawa memang sedikit ringkas dan mudah dihafalkan, tetapi memiliki makna yang padat, serta gaya penyampaiannya kadang langsung menusuk ke hati. Sudah jelas arah kita mau kemana, maka tetap berhati-hatilah dalam perjalanan ini, tehadap fitnah, hindarilah dengan selalu mengingat hal-hal itu. (*)

*) Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.