Pak Kasidi, Sosok Pengajar dan Pendidik Sederhana di STIE Wijaya Mulya

JATENGONLINE – Bicara tentang dosen. “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Sebagaimana amanat Undang-Udang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI Pasal 39 ayat 2.

Dosen tidak hanya sekadar melaksanakan tugas mengajar dan mendidik seperti guru. Maka, tidak lengkap rasanya seorang dosen menjadi dosen jika hanya mengajar saja tanpa pernah melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Begitu pula tidak layak seseorang disebut dosen jika dosen tersebut hanya melakukan penelitian dan mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar.

Pengajaran merupakan aktivitas atau proses yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan atau kemahiran yang tertentu. Pengajaran merupakan pembinaan terhadap anak didik yang hanya menyangkut segi kognitif dan psikomotor saja yaitu agar anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berfikir kritis, sistematis, objektif ,dan terampil dalam mengerjakan sesuatu.

Sedangkan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Jadi antara mengajar dan mendidik ada perbedaan pada tujuan yang akan dicapai.

Dalam mengajar tujuan akhirnya adalah ilmu yang disampaikan mampu diserap dengan baik oleh peserta didik dan hasilnya dapat bersifat kognitif serta psikomotor. Sedangkan mendidik tidak hanya dititikberatkan pada hasil kognitif saja, melainkan juga kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi. Sehingga peserta didik tidak hanya menerima ilmu baru atau sekadar mencari nilai melainkan juga mampu mengaplikasikannya agar bermanfaat bagi masyarakat.

Adalah sosok sederhana yang dilahirkan di desa yang sangat pelosok dari lingkungan keluarga yang sangat sederhana dengan latar belakang orangtuanya seorang petani kecil, disekolahkan dan dibesarkan di desa, dan hanya sampai dengan sekolah menegah sedangkan untuk terus melanjutkan kuliah tidak mampu.

Semangat untuk terus maju dan berubah dilakukannya hingga sampai saat ini, menjadi teladan bagi siapa saja, layak menjadi motivasi dan panutan karir di dalam pekerjaan maupun di meniti bahtera kehidupan rumah tangganya.

Saat berpose bersama Dr. Sri Isfantin Puji Lestari, S.E.,M.M. Ketua STIE Wijaya Mulya Surakarta (paling kiri)

Beliau adalah Drs. Kasidi, MM., M.Th atau akrab di sapa Pak Kasidi mengampu mata kuliah manajemen SDM, yang memang menjadi passion-nya dan sangat ekspert di bidannya.
Seperti diakuinya sendiri bahwa sosok yang pada dasarnya senang mengajar ini mulai menceritakan riwayat dan pengalamannya mengajar sebagai dosen.

“Saya ngajar sejak tahun 1982, dan mulai bergabung di STIE Wijaya Mulya karena secara kebetulan ketemuan dengan teman-teman akrab sejak dulu, jadi istilahnya ya niat dan semangat,” kata Pak Kasidi mengawali ceritanya.

Untuk mengajar di 3 perguruan tinggi waktu itu, disela kesibukannya menjadi PNS bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, meskipun akhirnya merapat ke STIE Wijaya Mulya, yang menurutnya prospeknya dalam rangka perjuangan dan itu menjadi tantangan tersendiri.

STIE Wijaya Mulya berdiri sejak 1969 dengan mengalami proses yang panjang dan berubah menjadi STIE dan SK nya tahun 2000, dan sejak itulah bergabung bersama teman-teman untuk bersama-sama mengembangkan, membesarkannya hingga sampai saat ini dan kedepannya.

Pak Kasidi, beliau adalah pensiunan PNS sejak tahun 1998, dengan masa kerja selama 35 tahun, karir mengajarnya dimulai sejak tahun 1982, diawali mengajar di Universitas Slamet Riyadi (Unisri) dan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Intheos

Dan hingga mulai tahun 2000 mengajar perguruan tinggi di 3 tempat, tahun 2005 karena faktor usia tidak lagi mengajar di Unisri dan di lepas, kemudian hanya fokus di STIE Wijaya Mulya dan STT Intheos saja.

Pertumbuhan Informasi Tehnologi dengan basis internet menjadikan pola pengajaran di perguruan tinggi pun ikut berubah, Pak Kasidi bersama teman-teman pun mencoba untuk mengikuti perkembangan IT itu sendiri.

Bahkan untuk berita acara mengajar pun berbasis internet, selain pembuatan laporan ujian dan nilai pun sudah menggunakan digital. Tanpa mengikuti perubahan jadinya ketinggalan dan mundur.

“Kita banyak melakukan perubahan dengan mengikuti tren digital sedikit demi sedikit tapi pasti,” katanya.

Sosok dosen senior ‘hobi banget’ mengajar ini berlatar belakang guru, hal itu dibuktikan dimulai dari pendidikannya di Sekolah Guru B (SGB) dan merupakan cikal bakal Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di tahun 1958.

Dan sejak sebelum menikah pun sudah tertanam dibenaknya, bahkan selalu berpikir serta menghitung apa yang akan dilakukannya setelah pensiun tahun 1998 dan itu pasti. “Hati saya bertanya, setelah pensiun dari PNS, mau ngapain?”

Kemudian mulai merintis mengajar ditahun 1982, dilakukannya usai menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret, lalu mengajukan lamaran untuk mengajar di Unisri “Waktu itu mengajar di fakultas ekonomi, dan di STT Intheos,” paparnya.

Dengan niat dan semangat yang kuat, sebagai modal utama juga dibarengi dengan ‘senang’ mengajar itulah yang membuatnya bertahan hingga saat ini.

Dosen yang mengampu mata kuliah manajemen SDM, pengantar manajemen, perilaku organisasi dan beberapa mata kuliah yang lain. Dan setiap semester selalu muncul mata kuliah yang diampunya “Dan mata kuliah yang saya ampu itu, mata kuliah yang bukan hanya sekedar teori semata, karena sudah saya praktekan dalam pekerjaan,” terangnya.

Teori pengambilan keputusan, manajemen strategi, selain manajemen SDM, pengantar manajemen, dan perilaku organisasi. MKDU di Unisri, sedangkan di Intheos setelah lulus S2 Teologi mengampu mata kuliah tentang Teologi setelah sebelumnya MKDU.

Disinggung tingkat kekritisan mahasiswa sekarang dibanding dulu, kalau mahasiswa dulu katanya, lebih full time dan aturannya pun beda dalam belajar mengajar.

Dijaman sekarang muncul istilah Merdeka Belajar, sehingga membuatnya lebih luwes dan cakupan akademisnya juga lebih leluasa.

Sampai saat inipun masih okelah untuk mengajar, dengan semangat dan kesehatan yang di miliki, ditambah dukungan dari teman-teman, yang selalu saling mensuport.
“Saya pun selalu di motivasi terutama oleh Bu Isfantin dan Bu Ning, yang pernah sama-sama menyelesaikan S2 di UII Jogja, selalu mendorong, mengajak dan merupakan salah satu faktor utama pemberi semangat kepada saya,” kenangnya

Tekadnya pun kian bulat, selama lembaga dan instirusi masih menerima, dirinya tetap akan berkarya dan terus mengajar entah sampai kapan. Sementara profesi dosen yang sering dikatakan ‘gawean-e sak dus, gajine sak sen’ tak membuatnya patah semangat, karena prinsip yang diterapkan dan dilakukannya, telah tertanam hingga kedalam hati nurani yang paling dalam yakni bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Saya lebih mengutamakan bagaimana saya itu bisa bermanfaat bagi orang lain, intinya itu, jadi tidak semata-mata hanya mencari penghasilan,” katanya tegar.

Dan, berharap meskipun pelan tapi pasti, STIE Wijaya Mulya bisa bertumbuh dan berkembang dengan mengikuti pola-pola yang diatur oleh Pemerintah dan Mendikbud juga teman-teman secara kebersamaan mengupayakan demi perkembangan-perkembangan itu.

Untuk STIE Wijaya Mulya, secara pribadi, Pak Kasidi ada banyak usul, saran, pendapat untuk kemajuan, utamanya kepada Ibu Ketua, namun demikian diakuinya hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan, mengingat butuh proses, banyak dana dan sejumlah kesepakatan termasuk dengan yayasan.

Tapi disini punya semangat untuk maju, dan bertujuan agar STIE Wijaya Mulya ini kedepannya tidak hanya statis dalam perkembangannya dan selalu ada progres step by step.

“Saya hanya mengalir, mengikuti, tapi dibalik itu punya usul, saran dan pendapat, soal itu dipakai monggo kalau tidak ya monggo,” katanya.

Sementara untuk PMB di tahun 2022 ini, STIE Wijaya Mulya masih dalam taraf bagaimana mendapatkan mahasiwa yang lumayan banyak, selain melakukan perbaikan-perbaikan secara internal mulai fisik, sarana prasarananya serta proses pembelajarannya. Dimana 2 tahun terakhir dilakukan secara online adanya wabah Pandemi Covid-19

Berharap pada semester genap tahun ini sudah mulai bisa melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 %, karena saat ini pun sudah ada yang mulai tatap muka karena telah memenuhi syarat, mulai dari ruangan hingga protokol kesehatan, meskipun banyak juga yang masih melakukannya secara online.

“Saya berharap sekali kepada dosen-dosen muda, yunior, itu mesti harus konsisten dan konsekuen sebagai dosen harus terus mengembangkan dirinya, nantinya akan menggantikan seniornya,” tegasnya

Syaratnya dengan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara aktif dan terkonsep secara baik, sehingga secara pelan tapi pasti ada kemajuan dan perkembangan sehingga pada waktunya akan dapat menduduki jabatan struktural. Karena masih muda.

Terkait dengan kondisi wajah pendidikan tinggi saat ini, dikatakan pak Kasidi, bahwa semua perguruan tinggi dalam bentuk apapun harus mematuhi aturan-aturan dan semua yang diberi tugas memegang peranan juga harus betul-betul mengembangkannya. Tidak justru sebaliknya dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Bahkan kadang justru mencoreng nama baik institusi dan lembaganya sendiri.

saat pelaksanaan ulang tahun perkawinan emas

Pernikahan Emas
Ulang tahun pernikahan adalah momen penting bagi setiap pasangan yang telah menikah. Melalui momen tersebut, pasangan suami istri merayakan bertambahnya usia pernikahan mereka.

Itu artinya mereka mensyukuri nikmat dan berkah yang telah Tuhan berikan ke dalam rumah tangga. Selain itu juga sebagai harapan agar ke depannya pernikahan tersebut langgeng hingga akhir hayat.

Menikah adalah ibadah yang panjang, memanjatkan doa di hari ulang tahun pernikahan sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada Tuhan dan permohonan agar Tuhan selalu melimpahkan rahmat-Nya.

Bertepatan dengan usia perkawinan emas yang dialaminya Pak Kasidi, merasa bersyukur atas berkah yang diberikan Tuhan kepadanya, memasuki 50 tahun perkawinannya bersama pendamping setia yang sangat dicintainya Ibu Sri Maryati, yang diyakininya sangat tidaklah mudah.

“Hidup kami mengalir sajalah, tidak neko-neko hidup sederhana dan sesuai dengan kemampuan,” katanya.

Berfoto bersama rekan sejawat

Ada banyak sandungan dan masalah dengan datangnya kerikil-kerikil tajam silih berganti baik internal maupun eksternal adalah hal yang biasa dialami dalam kehidupan bahtera orang dalam berumah tangga, sebagai jalan keluarnya, harus bisa memahami kelebihan dan kekurangan suami istri.

Berangkat dari keyakinan dalam perkawinan se-iman itu, sehingga setiap kali ada permasalahan selalu ada titiktemu penyelesaiannya, selain itu juga memohon kepada Tuhan untuk selalu mengatur hidup menyertai, memberkati, melindungi dalam perjalanan hidup dan pekerjaan dan lain sebagainya.

“Sehingga apapun keberadaaan kami, saya lebih mengedepankan hidup dengan penuh rasa sukacita, pasrah sumarah kepada Gusti Allah dan selalu bersyukur dalam segala hal tidak ‘ngoyoworo’ apalagi ‘ngongso’ karena kami percaya hidup ini ada yang mengatur,” katanya lanjut.

Menurutnya, hidup yang mengalir itu bukan berarti pasif diam, dan ‘ora et labora’ berdoa dan berusaha, selalu diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga.

Point penting yang diwejangkannya agar usia perkawinannya bisa langgeng higga menginjak 50 tahun yakni, masing-masing suami istri itu harus tahu kelemahan dan kekurangannya termasuk yang harus diperhatikan ‘sirik-an e opo’ hal yang tidak harus dilakukan, yang berakibat istri ataupun suami marah, maka diperlukan rasa saling percaya dan jujur.

“Berusaha untuk selalu jujur dalam setiap tindakan dan aktifitas, meskipun hal itu tidaklah semudah yang diucapkan,” tegasnya.

Penerapan yang tidak pernah luntur yang dilakukannya hingga kini adalah selalu pamit ke istri kemanapun beliau pergi, dan berusaha untuk selalu tepat waktu. Semua serba jelas, berusaha sebaik mungkin, termasuk pulang terlambat pun wajib memberitahu istri.

Adapun sikap toleransi selalu diterapkannya, saling melengkapi, saling mengisi, saling tahu kelemahan, kelebihan, kekurangan. Selalu ada penyesuaian-penyesuaian, selalu musyawarah, tidak melangkah sendiri-sendiri, hal itu kalau sudah membudaya menjadi biasa dan tak terasa.

“Kami sudah melakukannya hingga usia pernikahan kami bertahan hingga 50 tahun ini,” imbuhnya.

Walaupun diakuinya juga, bahwa sering-sering ada masalah-masalah kecil seperti ancaman, hambatan, tantangan, gangguan dari luar maupun dari dalam tetapi masih bisa diatasi dengan berpegang teguh pada prinsip diatas, selain dengan iman yang sama pasrah dan berserah kepada Tuhan. “Mohon Tuhan itu selalu menyertai mengatur, sabar, dan kami membiasakan diri untuk semuanya itu hidup sederhana, tidak ‘neko-neko’ karena kami menyadari kemampuan kami juga terbatas,”

Seperti dekorasi yang terpasang pada syukuran Perkawinan Emas “Setia Sampai Akhir” secara moral dan batiniah memiliki makna mengikat termasuk juga dalam prosesi mengulang janji nikah yang sebenarnya suatu pemahaman, pengertian, penekanan untuk bertahan setia sampai akhir itu.

“Semoga kami dapat menapaki hidup ini, sampai dengan berumur panjang, sehat dan bermanfaat,” katanya menutup pertemuan.

Mugi Gusti Pangeran tansah paring berkah kesarasan, kebingahan lan panjang yuswo!

Siapa Sosok Pak Kasidi?
Dilahirkan di desa yang sangat pelosok dari lingkungan keluarga yang sangat sederhana dengan latar belakang orangtuanya seorang petani kecil, disekolahkan dan dibesarkan di desa, hanya tamat sekolah menengah.

Tahun 1962 masuk pendidikan ukur tanah ikatan dinas selama 1 tahun, lulus kemudian di tempatkan di Karanganyar.

Pebruari tahun 1967 masuk ke Akademi Pemerintahan dalam Negeri (APDN) Semarang, lokasi nya berada di depan Tugu Muda lulus tahun 1970, kemudian di tempatkan di Kabupaten Sukoharjo di bagian Pemerintahan Desa.

Tahun 1972 diangkat menjadi Mantri Polisi di Kartasura (setelah menikah)
Tahun 1975 menjadi Camat Nguter
Tahun 1976 melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas Maret
Tahun 1977 di pindahkan menjadi Camat di Tawangsari (tambah anak 1)
Tahun 1980 menjadi Camat Gatak sekaligus menyelesaikan skripsi
Tahun 1981 wisuda UNS
Tahun 1982 pengajar dan dosen di Universitas Slamet Riyadi (Unisri) dan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Intheos Solo
Tahun 1983 pindah tugas menjadi Camat Baki
Tahun 1983 meneruskan jenjang pendidikan Magister Teologi S2
Tahun 1987 ditarik Ke Kabupaten Sukoharjo dan seterusnya.

Sebelum memasuki masa pensiun menjabat Kepala Dipenda selama 5 tahun, dipromosikan untuk menjadi pembantu Bupati Sukoharjo untuk wilayah Bekonang.

Hal yang paling berkesan ketika menjadi Kepala Dipenda, di tugaskan keluar negeri hampie tiap tahun, seperti ke Thailand untuk mempelajari proses sampah menjadi pupuk, di Malaysia mempelajari sistim perparkiran, di Perancis mempelajari tentang pemerintahan, di tugaskan ke California untuk mempelajari masalah perpajakan, ke Inggris, Swiss, Belanda, Singapore, dan itu sangat bersejarah selama menjabat jajaran teringgi dipenda

Tanggal 1 Juli 1998 Pensiun sebagai PNS
Namun secara fisik operasional dan kegiatan tidak merasakan pensiun, karena aktivitasnya tetap ada setiap hari, dan selalu pergi karena mengajar di beberapa tempat hingga sekarang.

Tahun 1995-1996 melanjutkan jenjang pendidikan S2 di UII Yogyakarta dan ketemu bu Isfantin dan bergabung mengajar di STIE Wijaya Mulya Surakarta

Sampai saat ini aktivitas mengajar hanya di STIE Wijaya Mulya dan STT Intheos. (ian)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *