Dari Pengajian Milad 18 Tahun Husnul Khatimah, Berjuta Semangat Meski Usia Senja

JATENGONLINE, SOLO – Lantunan asmaul husna menggema dari aula kampus STIE Surakarta, Jl. Slamet Riyadi No.435-437, Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

“Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Qudus, Ya Salam, Ya Mu’min, Ya Muhaimin, Ya Aziz, Ya Jabar, Ya Mutakkabir, Ya Khaliq…,” terucap serentak. Gemanya terasa meski yang melantunkannya melafalkan dengan lirih. Bukan karena malas, melainkan usia senja sudah sedikit mengurangi kelantangan jamaah Pengajian Husnul Khatimah dalam membaca asmaul husna.

Puluhan ibu berusia 40-70 tahun tampak khusyuk membaca asma-asma Allah sembari menunggu teman-temannya yang lain datang. Hari itu, Minggu (8/1/2022), merupakan hari jadi kelompok pengajian tersebut memasuki usia 18 tahun.

Mayoritas para jamaah memang Muslimah dengan usia senja. Tapi, keinginan dan semangat untuk terus belajar Islam tidak berkurang dari mereka. Satu langkah demi satu langkah mereka memasuki aula kampus STIE Surakarta, kemudian mengambil posisi nyaman untuk duduk mengikuti acara.

Pengajian dalam rangka hari jadi Husnul Khatimah dan Pensiunan Menuju Husnul Khatimah (PMHK) diisi oleh Ustadz Muhammad Iqbal, ia membahas dengan penuh semangat dan sangat ekspresif. Kematian adalah salah satu peristiwa yang benar-benar terjadi dalam realitas sosial. Semua orang bahkan semua makhluk yang memiki ruh atau jiwa akan menjumpai yang disebut kematian. Tidak ada yang abadi dan kekal di dunia ini, yang kekal abadi hanyalah Allah swt. Karena Allah yang memberi kehidupan kepada setiap makhlukNya, demikian juga Allah pula yang memberikan akhir dari kehidupan tersebut yaitu kematian.

“Bagi makhluk selain manusia mungkin kematian menjadi suatu hal yang biasa karena hal itu merupakan hukum alam sebagai ketentuan Allah swt, namun bagi manusia akan menjadi persoalan yang berbeda ketika kematian itu bermakna awal dari fase sebuah kehidupan baru yaitu kehidupan di akhirat.” paparnya.

Ustadz Muhammad Iqbal saat memberikan tausyiah

Oleh karena itu manusia perlu belajar memahami arti hidup dan kehidupan yang sesungguhnya untuk memberikan terapi psikologis agar manusia mampu mempersiapkan diri dengan optimisme yang tinggi dalam menghadapi kematian.

Sesepuh Pengajian Husnul Khatimah STIE Surakarta H. Sunarto Istianto mengatakan, semangat untuk terus mensyiarkan dan belajar Islam menuntunnya membuat berbagai agenda yang tidak menjenuhkan jamaah.

“Alhamdulillah, anggota majelis taklim kami terus bertambah kini ada sekitar 160 jamaah lebih,” katanya.

H. Sunarto Istianto

Selain itu, ia menambahkan, materi pengajian selalu berbeda-beda setiap minggunya, mulai dari membahas fikih, Alquran dan terjemahannya, tafsir dan hadis.

“Selain pengajian, majelis taklim kami pun, terkadang mengadakan wisata syariah, agenda Ramadhan, dan santunan anak yatim dan dhuafa,” imbuhnya.

Sementara H. Ichwan Dardiri dalam sambutannya, menyampaikan awal mula kelompok PMHK Pemkot Solo ini terbentuk, inisiatif datang dari sesama pensiun ‘mbalekota’ yakni PNS yang bertugas di Balaikota Surakata.

H. Ichwan Dardiri

Semangat yang digambarkannya begitu nyata. Usia yang tak lagi muda, tidak dijadikan alasan mereka untuk lelah belajar Islam. Bahkan, hingga lima tahun belakangan ini jamaah tidak berkurang selain karena meninggal dunia.

“Tantangan yang dirasakan olehnya, yakni menentukan ustaz dan ustazah yang tidak menjenuhkan para jamaah.” katanya.

Ia berharap syiar yang dilakukannya bersama teman-temannya dapat memudahkan syiar Islam yang lebih menyenangkan. Sehingga, menunjukkan bahwa ajaran Islam bukanlah ajaran yang menyulitkan, melainkan memudahkan setiap umat manusia seluruhnya. Inilah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, ajaran nan luas dari berbagai aspek kehidupan.

Samsudiat

Ketua Koordinator Pensiunan ‘Mbalekota‘ Surakarta Samsudiat menyampaikan, bahwa ada beberapa grup WA pensiunan pegawai yang dinas di Pemkot Solo, dan kemudian untuk yang beragama Islam dikumpulkan untuk membuat grup khusus pengajian

“Kelompok pengajian yang dinamakan PMHK ini. Siapa sangka, kalau anggotanya dalam kurun waktu tertentu bertumbuh, kedepannya kami berharap semoga makin banyak yang ikut bergabung ke grup ini dan silaturahmi, serta bisa berbagi dalam kegiatan sosial yang lebih bermanfaat bagi sesama,” katanya yakin.

H. Achmad Purnomo

Pada kesempatan milad ke 18 tahun Kelompok Pengajian Husnul Khatimah, dihadiri oleh H. Achmad Purnomo mantan Wakil Walikota Solo dan beberapa anggota pensiunan baru yang mulai ikut bergabung.

“Nilai persatuan akan terjalin dengan berkumpul bersama dalam majelis, bershalawat maupun berdzikir,” pungkasnya.

Seperti diketahui, awal mula kelompok PMHK Pemkot Solo ini terbentuk, inisiatif datang dari sesama pensiunan ‘mbalekota’ yakni PNS yang bertugas di Balaikota Surakata. Ada beberapa grup WA pensiunan pegawai yang dinas di Pemkot Solo, kemudian pak Nindyo (almarhum) meminta untuk mengumpulkan dan mengajak sesama pensiunan membuat grup khusus pengajian.

Terjalinlah silaturahmi dan kangen-kangenan, hingga sekarang, setelah sekian lama tak bersua, terlebih terhalang adanya wabah pandemi covid-19, kelompok pengajian yang dinamakan PMHK ini. Siapa sangka, kalau anggotanya dalam kurun waktu tertentu hingga kini terus bertumbuh. Dan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah ada teman-teman pensiunan ‘mbalekota’ baru yang bergabung. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.