Sewa Kios Sriwedari Naik Berlipat, Penyewa Menjerit!

JATENGONLINE, SOLO – Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah yang memanfaatkan kios milik pemerintah yang dikelola oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta (Dispora) di area Sriwedari mulai gelisah, mengeluh bahkan menjerit pada Kamis (20/1/2022), setelah menerima sepucuk surat dari Dispora.

Surat yang ditandatangani oleh Kepala Dispora per tertanggal 12 Januari 2022 perihal sosialisasi petunjuk pelaksanaan pemungutan retribusi tempat rekreasi dan olahraga serta retribusi pemakaian kekayaan daerah pada dinas kepemudaan dan olahraga, terkait pemberitahuan mekanisme sewa menyewa kios.

Meski dalam surat tersebut tidak menyebutkan besaran harga sewa, namun berdasarkan informasi yang dihimpun, para pelaku jasa yang mengais rejeki dilokasi tersebut mengaku sudah mulai gelisah, apalagi ditengah pandemi COVID-19 saat ini.

Menurut pengguna, bahwa harga sewa kios mengalami kenaikan drastis yakni dari sewa awalnya Rp 90 ribu per bulan menjadi Rp 600 ribu per bulan.

Setelah mengetahui informasi yang disampaikan pengelola Stadion Sriwedari, untuk melakukan pengecekan langsung di laman Website Dispora Solo, soal penyesuaian tarif sewa atas sejumlah aset yang dikelola oleh dinas tersebut.

Salah satu pelaku jasa pengetikan, Usman, mengaku sangat kaget dengan informasi tersebut, dirinya menilai kenaikan tarif sewa kios sangat tinggi, terlebih masih di masa pandemi, kondisi Solo masih dalam PPKM level 2, ekonomi pun baru merangkak untuk bangkit.

Diakuinya, memang belum ada surat secara resmi mengenai penetapan kenaikan tarif itu, sebagaimana surat edaran yang disampaikan kepadanya, ia pun mengunjungi link yang disampaikan, setelah cek di website ada kenaikan tarif sewa ada kenaikan kisaran 6 kali lipat, menjadi Rp 600 ribu perbulan dari Rp 90 ribu. Sementara yang untuk deretan kios disebelah timur yang dikelola Dinas Pariwisata hanya sebesar Rp 36 ribu perbulan, dengan ukuran kios lebih kecil.

“Terus terang ini sangat memberatkan, kios buku saja masih tarif lama, kenapa kios pengetikan saya naik demikian tinggi,” katanya.

Ketua Paguyuban Kios Stadion Sriwedari (PKSS) Mamang, berharap Pemkot Solo untuk mengkaji ulang kebijakan menaikkan tarif sewa aset miliknya, selain karena masih dalam situasi PPKM geliat ekonomi dan iklim berusaha di Solo yang level 2 ini masih dalam tahap pemulihan.

Rasa penasarannya untuk mencari informasi akurat terus dilakukannya, termasuk mengunjungi portal Lapor Mas Wali, dan sempat melapor ke website tersebut, tapi jawabannya justru membuatnya kian gundah.

“Terimakasih atas aduan yang telah disampaikan. Untuk perihal retribusi, adapun kenaikan tarif retribusi telah mempertimbangkan indeks harga dan perkembangan perekonomian saat ini dan harga pasar sewa kios. Terimakasih”

Karena dari dulu kios yang ditempatinya sama sekali belum ada perbaikan atau pembaruan, lalu penyesuaian seperti apa yang dimaksud menentukan kenaikan kenaikan tarif, imbuh Mamang.

Sementara, Surat Edaran Dispora yang berdasar pada Perwali nomor 2 tahun 2022 tentang petunjuk pelaksanaan pemungutan retribusi tempat rekreasi dan olahragaolahraga, serta retribusi pemakaian kekayaan daerah pada Dispora. Didalamnya memuat penyesuaian kenaikan tarif sejumlah tempat olah raga seperti Stadion Sriwedari, Stadion Manahan dan sejumlah prasarana rekreasi perihalnya Taman Balekambang.

Dr. BRM. Kusuma Putra

Penasehat Forum Komunitas Sriwedari (Foksri) Dr BRM Kusuma Putra, SH., MH. menyampaikan, apa yang dikeluhkan para pedagang maupun pelaku jasa penyewa kios lahan Stadion Sriwedari sangat dipahaminya, apalagi saat ini mereka tengah menyusun kembali usahanya yang sempay terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Kusuma meminta pemerintah untuk lebih bijaksana dalam menentukan tarif sewa kios, yakni melalui kajian yang mendalam, tingkat pendapatan dan kondisi ekonomi, dimana situasi pandemi yang masih mengahantui seperti saat ini.

Dirinya yakin, kenaikan harga sewa ini pasti akan diikuti oleh dinas lain yang mengelola lahan milik pemkot Solo. Pihak terkait pun diharapkannya, bisa memberikan kebijakan yang tidak terlalu memberatkan kepada masyarakat. Wakil rakyat yang di DPRD pun diharapkan mampu menjembatani hal ini.

“Saat ini masih pandemi, pemerintah justru menaikkan tarif sewa kios yang terkesan ugal ugalan, yakni lebih dari 6 kali lipat,” tegasnya.

Sementara, lanjut Kusuma, kios diseberang timur jalan yang notabene dikelola Dinas Pariwisata tidak naik tarifnya yakni 36 ribu perbulan. “Ini ironis sekali, dan jelas membuat resah,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan kenaikan tarif sewa untuk fasilitas publik yang dimanfaatkan masyarakat untuk mencari rejeki, terlebih pelaku UMKM.

Diakui Kusuma, bahwa harga sewa lahan dan tanah milik Pemerintah Kota alami kenaikan. Imbasnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Solo dari sektor sewa lahan sesuai dengan target yang ditetapkan.

Ini menjadi angin segar dalam pendapatan asli daerah kota budaya dan wisata ini. Mengingat ada banyak tanah dan lahan milik Pemkot Solo yang disewakan.

Dia pun mendorong agar Pemkot Solo melakukan inventarisir lahan dan aset milik daerah. Kemudian memberikan harga sewa sesuai dengan lokasi hingga luasan aset itu sendiri. Sehingga besaran tarifnya proporsional.

“Saya rasa demi menaikan PAD Kota Solo sebaiknya memang harus disesuaikan secara profesional dan objektif nilai appraisalnya,” pungkasnya. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.