HUKUMWARTA JATENG

Arist Merdeka Sirait: Pastikan Anak Dapatkan Haknya! Sidang Kasus Pemalsuan Identitas Anak di PN Solo

JATENGONLINE, SOLO – Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait memberi dukungan dalam sidang kasus pemalsuan identitas anak di PN Surakarta. Hal itu dibuktikan dengan hadir langsung di tempat persidangan. Selasa (4/4/2023)

Arist sengaja datang menghadiri sidang kasus rebutan hak asuh anak yang tengah disidangkan di PN Surakarta, dengan agenda mendengarkan eksepsi pengacara terdakwa yang di bacakan DR. Song Sip, SH., MH.

Kehadiran Ketua Komnas Perlindungan Anak itu, sebagai bentuk dukungan atas kasus tersebut agar menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan kasus dengan memenuhi hak anak yang diperebutkan.

Menurut Arist, kehadirannya di PN Surakarta lebih karena rasa empati atas hak anak yang diperebutkan. Selain juga kasus ini sendiri unik, sang ayah memalsukan identitas anak dengan membuat dokumen baru, untuk merebut anak yang saat ini berada dalam asuhan ibunya.

“Jadi masalah utama dokumen yang dipalsukan, identitas anak, jelas hak anak terancam,” ujar Arist, di temui usai sidang.

Arist merasa prihatin, dengan adanya kasus pemalsuan identitas anak di Indonesia dan jumlah sangat banyak, itu dilakukan para orang tua yang bercerai demi mendapat hak asuh anak, namun banyak dari mereka yang tidak memahami akan hak anak.

Lebih lanjut disampaikannya, dari data nasional setiap tahun ada sedikitnya 15 ribu perceraian hingga tahun 2022 lalu.

“Asumsinya satu orang tua satu anak, maka ada 15 ribu anak yang terlantar dan tidak mendapatkan haknya,” imbuhnya.

Salah satunya dengan melakukan pemalsuan identitas anak, cara seperti ini, menurut Arist, termasuk kejam dan kotor.

“Komnas Perlindungan Anak kawal kasus ini sampai anak mendapatkan haknya,” tegas Arist

Sementara dari eksepsi yang dibacakan pengacara terdakwa, Arist menilai sangat kabur dan tidak masuk dalam materi kasus. Berharap kasus ini selesai dengan hak asuh anak tetap pada ibunya.

Adapun kasus yang kini dikawal oleh Ketua Komnas Anak ini, diketahui bermula dari laporan dari Jessica, warga Jakarta, pada Evan Surya Prananto, warga Solo, mereka suami istri dengan nikah secara agama. Setelah terjadi perceraian Jessica melaporkan Evan, terkait hak asuh anak, dengan tuduhan memalsukan berkas identitas anak.

Untuk merebut anak dari asuhan ibu si anak , Evan membuat surat identitas palsu, seolah olah anak tersebut adalah anak Evan dengan perempuan lain. Dengan alasan bahwa Jessica pernah tersangkut narkoba, dan kemudian dianggap tidak bisa memberi penghidupan yang layak untuk anak mereka.

Anak yang diperebutkan tersebut kini bersama ibu kandungnya, tambah Arist, mereka hidup berkecukupan karena memang dari keluarga berada.

“Baik Jessica maupun orang tuanya tidak bisa mempercayakan pengasuhan cucu pada terdakwa, diketahui selama hamil, melahirkan hingga besar saat ini evan tidak pernah memberi nafkah, atau biaya kehidupan lainnya,” pungkasnya.

Usai pembacaan eksepsi dari penasehat terdakwa, Jaksa Penuntut Sri Ambar Prasongko, SH, MH akan menyampaikan tanggapanya pada sidang betikitnya. Kamis (6/4//2023) (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *