BUDAYAWARTA JATENG

Ini Filosofi Luhur Puasa Kejawen

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

JATENGONLINE, SOLO – Dalam Serat Wedhatama, sebuah karya sastra yang konon berisikan rahasia spiritual tingkat tinggi raja-raja Mataram, yang ditulis KGPAA Sri Mangkunegara IV mengisyaratkan hal tersebut. Pada bait pertama pupuh 33, diantaranya ditulis secara jelas, bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Artinya, ilmu itu baru bermanfaat atau ada manfaatnya bila telah dilaksanakan.

Dalam pandangan keilmuan, laku (pola tindak) yang dimaksud bisa juga berarti proses spiritual. Dalam hal ini puasa itu sendiri banyak dianggap sebagai bagian dari laku atau lelaku dalam rangka mendapatkan aji jaya kawijayan, kanuragan (ilmu kesaktian lahir dan batin), pencapaian harapan, dan sebagainya.

Filosofi luhur tradisi orang Jawa yang menyatakan puasa sebagai sarana menggembleng jiwa, raga, mempertajam rasa batin, olahrasa, serta menyucikan hati dan pikiran. Menurut Islam, yang dimaksud dengan puasa ini adalah untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri, serta meningkatkan rasa syukur atas karunia yang sudah diberikan oleh Allah SWT.

Namun demikian puasa ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang beragama Islam saja, hampir semua agama mulai dari Kristen,Katolik, Hindu, Budha juga memiliki ritual puasa dengan aturan masing-masing.

Diluar kontek ibadah keagamaan, ternyata sebagian masyarakat Jawa (Kejawen) juga memiliki berbagai jenis pusa yang dilakukannya. Hanya saja yang dilakukan oleh orang-orang Jawa Kuno bahwa puasa ini dimaknai sebagai salah satu bentuk spiritual metafisik yang mempunyai efek besar terhadap tubuh dan pikirannya.

Puasa yang dilakukan oleh masyarakat Jawa tersebut bisa dipercaya mendatangkan banyak manfaat, sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Keinginan yang mereka harapkan disesuaikan dengan doa yang dipanjatkan serta jenis puasa yang mereka jalankan. Karena mereka mengharapkan berbagai keinginan, misalnya ingin agar memiliki kesaktian, kekebalan, kewibawaan, pengasihan, kesuksesan serta berbagai keinginan lainnya.

Salah satu puasa Kejawen yang paling dikenal adalah puasa mutih. Sesuai dengan namanya puasa mutih ini dalam ritualnya seseorang yang menjalaninya untuk mengonsumsi apapun yang berwarna putih. Namun demikian biasanya para pelaku puasa mutih ini hanya akan makan nasi dan air putih saja.

Melalukan Puasa Mutih biasanya dimasukkan dalam salah satu bagian dari sebuah ritual panjang. Tujuannya sendiri macam-macam, namun umumnya adalah untuk menguasai ilmu-ilmu gaib tertentu. Ada juga yang melakukannya untuk tujuan keberhasilan. Puasa ini tak terikat waktu, bisa hanya 3 hari saja atau bahkan 40 hari. Puasa ini juga harus didampingi oleh seorang guru (yang memahami masalah puasa mutih).

Selanjutnya ada puasa yang namanya puasa Ngebleng atau Ngableng. Puasa ini tidak seperti puasa biasanya yang hanya menahan lapar dari sebelum terbit fajar sampai terbenamnya matahari, namun puasa ini berdurasi 24 jam dengan tidak makan dan tidak minum.

Tujuan menjalankan puasa Ngableng ialah untuk menguatkan sukma dan jiwa sehingga bisa melunturkan nafsu duniawi. Biasanya puasa Ngableng dilakukan dengan tapa duduk bersila atau posisi semedhi. Puasa Ngableng juga dipercaya dapat mengabulkan keinginan seseorang.

Kemudian ada juga yang namanya Puasa Pati Geni, konon katanya bisa mengabulkan hajat- hajat yang luar biasa besar. Secara teknis, Puasa Pati Geni dan Ngableng ini hampir sama. Tapi, ada beberapa perbedaan yang cukup ekstrem.

Sama seperti Ngableng, puasa Pati Geni hitungan seharinya adalah 24 jam. Yang unik dari puasa ini adalah si pelakunya tak boleh keluar dari kamar sampai seharian itu. Bahkan untuk buang air. Di dalam kamar pun si pelaku Pati Geni juga dilarang untuk melakukan aktivitas apa pun selain berdoa.

Ada lagi yang namanya Puasa Ngeluwang Untuk Mendapatkan Kesaktian. Puasa satu ini bisa dibilang cukup unik. Tidak hanya melakoni puasa seperti biasa, dalam salah satu rentetan ritualnya si pelaku harus dikubur. Teknik menguburnya bukan seperti mayat yang dikubur, tapi lebih tepatnya dipendam sampai ke bagian tubuh tertentu. Cukup ekstrem puasa satu ini. Makanya, puasa ini dipercaya akan mendatangkan hal besar.

Salah satunya adalah dimampukan untuk menguasai berbagai jenis ilmu gaib tertentu. Puasa ini konon memiliki ujiannya. Jadi, ketika dipendam, si pelaku biasanya akan didatangi oleh makhluk-makhluk gaib dan kemudian menakutinya.

Puasa Weton untuk Proteksi Diri dari Kesialan. Dari sekian banyak puasa kejawen yang ada, Weton adalah salah satu yang paling populer dilakukan. Puasa ini sendiri tidak dilakukan sering-sering karena hanya perlu dilakoni saat tiba hari ulang tahun saja, makanya kemudian dinamakan Weton.

Puasa weton merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat adat Jawa atau masyarakat yang meyakini ajaran Kejawen. Sesuai dengan namanya, puasa ini biasanya dilakukan tepat pada weton kelahiran atau hari pasaran lahir seseorang

Puasa ini menurut ahlinya bisa dilakukan dengan dua cara. Ada yang seperti puasa biasa (subuh sampai magrib) atau pun hitungan 24 jam. Puasa ini sendiri dipercaya membawa manfaat besar. Salah satunya adalah sebagai anti sial si pelakunya. Ada juga yang mengatakan puasa Weton dapat membantu mengembalikan apa yang sudah hilang, entah harta atau apa pun.

Saat sedang melakukan puasa, merasakan keadaan dimana harus menunda keinginan untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan, seperti makan, minum, gosip, mengumpat, atau ekspresi marah lainnya. Proses menahan diri itu pun dapat menyebabkan munculnya perasaan kesal, stres, atau tidak sabar. Akan tetapi, dengan melakukan puasa melatih kita untuk mengendalikan keadaan tersebut dengan lebih baik dan membuatnya menjadi hal yang biasa. Kita tidak semudah itu untuk mengekspresikan amarah, tidak semudah itu untuk langsung mengonsumsi makanan atau minuman yang diinginkan.

Oleh karena itu ketika berhasil menahan diri, ada beberapa pengaruh baik yang dapat kita rasakan antara lain, lebih menghargai diri, lebih mensyukuri keadaan, menikmati kesenangan secara sederhana, mengurangi perasaan berasalah dan meningkatkan kemampuan mengendalikan emosi.

 

Dengan pernyataan seperti tersebut diatas bisa disimpulkan bahwa hakikat puasa yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Jawa Kuno tersebut memiliki makna yang sangat komprehensif. Sebagai wujud kebudayaan perilaku kehidupan manusia, budaya puasa dapat menjadikan refleksi untuk dapat mengekang diri dari segala keinginan duniawi. Di samping itu, juga dapat menjadikan manusia untuk ikhlas menerima kenyataan hidupnya, kedamaian hati, juga mendalami fitrahnya sebagai makhluk sosial. (*) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *