Dicky Sumarsono CEO & Founder Azana Hospitality bersama Ketua IHGMA DPD Jawa Tengah.
JATENGONLINE, SOLO – “Bisnis hotel sekarang itu sebetulnya masih bagus banget, masih seksi, tapi ada tapi-nya. Tapi kita harus bisa mengkurasi lebih ekstra, diunikan dulu jangan hanya asal bangun aja, nggak bisa.” papar Dicky Sumarsono CEO & Founder Azana Hospitality, ditemui usai sebagai narasumber dalam acara Rakerda Indonesian Hotel General Manager Association ( IHGMA ) DPD Jawa Tengah di Solia Zigna Kampung Batik Laweyan. Rabu (25/6/2025).
Materi motivasi berbertemakan “Reinventing Hospitality Leadership: Mewujudkan Industri Perhotelan Yang Adaptif, Kolaboratif, dan Visioner”
Lebih lanjut disampaikan Dicky, bahwa kita harus bisa mengkurasi market, mengkurasi potensi, mengkurasi arah ke depan.
“Contohnya adalah hotel yang kita kelola, kalau kita kurasi dari awal, lokasinya sudah benar, konsep benar, dan investasi benar, itu masih ramai.” katanya.
Di kurasi dari awal yakni lokasi, konsep dan investasi. Tiga-tiganya harus pas benar nggak berlebihan, nggak salah semua. Meskipun demikian saat ini marketnya pun sudah berbeda denga yang dulu.
Disinggung, Apakah marketnya masih ada? Dijelaskan Dicky, market government masih ada, gak mungkin hilang total, walaupun mengecil.
Tapi yang lain bertambah, itupun tak segampang government. Untuk mendapatkannya dibutuhkan strategi jitu.
“Caranya ngedapetin harus pakai ekstra strategi, ekstra effort. Kalau saya sih tetap yakin ya, selama kita mengkurasinya tepat, itu bisnis hotel masih tetap bagus.” terangnya.
Dicky menyebut, disisa tahun 2025, pihaknya sudah posting juga di sosmednya, Juli sampai Desember akan ada buka 13 lagi hotel baru dan itu gede-gede semua.
Bahkan di tahun 2026 mendatang, sudah ada 10 hotel lagi yang akan buka, bahkan masih akan terus bertambah.
“Ditahun 2026 optimis masih 20 hotel dapat, ini saja sudah dapat 10.” kata Dicky.
Sementara terkait dengan imbas efisiensi perhotelan, meskipun situasinya tidak baik-baik saja dan sesulit apapun untuk tidak mem-PHK karyawan.
“Kalau saya sih jangan PHK karyawan, jadi reaksinya jangan seperti itu, karena kalau seperti itu kita udah nyerah duluan tuh. Jadi terkait dengan adanya efisiensi anggaran, otomatis kan kita bagaimana hotel ini bisa melakukan adaptasi dan shifting market yang baru. Yang paling penting adalah kita pun harus melakukan efisiensi, itu pasti, gak mungkin enggak. Tapi efisiensinya nggak boleh yang berlebihan sampai mem-PHK-kan karyawan.” terangnya.
“Dari hotel yang kita kelola sebanyak 86 nggak ada yang kita PHK sama sekali. Karena kita bisa sampaikan bahwa marketnya masih banyak, tapi harus ada ekstra effort untuk menggarap ini.” lanjut Dicky.
Nah, satu, harus efisiensi pasti. Kedua, shifting market yang baru. Yang ketiga, tidak semuanya bisa diselesaikan dengan marketing. Tapi juga introspeksi, jangan-jangan produk yang dijual sudah ketinggalan, sudah jadul.
“Yang perlu kita sesuaikan dengan profesi customer sekarang. Assisting market juga mungkin tidak gampang. Tapi itu memang harus, kalau gak pernah dicoba kan akhirnya kita bilang gak gampang terus.” jelasnya.
Tapi dicoba aja belum, ya kan gitu, pas rata-rata hotel-hotel kan bilang, ini sulit sih market, ya sulit, gak pernah dicoba. Sulit terus akhirnya. Tapi coba dulu aja. “Yang tadi saya bilang untuk literasi, coba, perbaiki, coba, perbaiki, pasti akan ketemu lama-lama. Kita industri yang growing. Cuma ada satu segmen besar yang melakukan efisiensi. Tapi industri ini tidak turun. Kalau turun, udah kolab parah sekali pasti.” katanya.
Tapi kan enggak, lanjutnya, Azana aja asih tetap bagus. Dari 86, yang jelek itu ada 6, rata-rata produknya yang enggak sesuai pasar.
Bahwa GM hotel sedikitnya harus melakukan tiga hal berikut untuk tetap eksis dan bertahan yakni, “Satu, harus adaptasi itu jelas. Dua, shifting market. Ketiga, harus mau repot untuk melihat bahwa pasar sekarang itu akan terpragmentasi. Terpecah-pecah, misalkan yang kecil banyak banget jumlahnya. Itu harus diambil, tapi nggak gampang itu. Harus ada extra effort. Kalau dulu kan, kalau mimpi kan hanya ada 6 segmen aja tuh. Sekarang ada lebih dari 20.” katanya.
GM hotel gak bisa hanya melihat dari sisi ini aja, tapi harus lebih luas lagi, karena sekarang sudah benar-benar cepat-cepat harus multi-segment, multi-revenue stream.
“Jadi hyper segmented sekarang ini, sekarang kecil-kecil, contoh misalnya grupnya cuma 10 orang, gak apa-apa, dulu kan gak? 400, jangan berharap lagi yang itu, ini kalau kita garap beneran banyak nih 10 orang, 15 orang, 12 orang, kecil-kecil grupnya tapi banyak gitu, nah itu yang harus dilakukan, lalu ilmunya pun juga ilmu yang digunakan,” imbuhnya.
Ilmiah juga diantaranya harus menguasai bagaimana supaya bisa mencapai iklan digital itu menjadi konversi masuk ke ini kita, itu kan antara lain. Lalu, kita mengerti tentang bagaimana caranya kolaborasi, “Kolaborasi bukan cuma judul doang, kita ngerti nggak caranya kolaborasi itu biar menguntungkan kita. Kita harus tahu ilmu itu,” nilah Dicky.
Menurut Dicky, GM hotel itu sebenarnya ilmunya itu ada tiga. Yakni ilmu mengamati, ilmu antisipasi, dan ilmu monetisasi.
“Jadi ilmu itu yang harus di kuasai GM hotel di era sekarang. Mengamati antisipasi serta monetisasi,” pungkas Dicky mengakhiri wawancara dengan media. (*/ian)



















