JATENGONLINE, SOLO – Menanggapi pelantikan Sudaryono sebagai Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto, S. Maharani, Manajer Koperasi Pendowo 08 Indonesia, menyampaikan apresiasi penuh sekaligus harapan besar bagi keberlangsungan program ketahanan pangan nasional.
Pengangkatan Sudaryono menggantikan posisi ketua sebelumnya yang juga berasal dari lingkungan koperasi menandai komitmen pemerintah dalam menyelaraskan kekuatan ekonomi rakyat dengan tata kelola institusi negara.
Apresiasi terhadap Transisi Kepemimpinan yang Inklusif
S. Maharani menilai langkah Presiden Prabowo sebagai bentuk pengakuan terhadap peran strategis koperasi dalam ekosistem pangan nasional.
“Kami sangat mengapresiasi keputusan Bapak Presiden. Pergantian kepemimpinan di BGN tidak berarti meninggalkan akar rumput, melainkan justru menguatkan fondasi yang telah dibangun,” ujar Maharani saat dimintai keterangan, Selasa (21/7/2026)
Menurutnya, pengalaman ketua sebelumnya dari Koperasi Pendowo 08 Indonesia telah membuktikan bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu menyentuh lapisan masyarakat paling bawah secara efektif. Sementara itu, latar belakang Sudaryono diharapkan membawa profesionalisme manajerial yang diperlukan untuk skala implementasi yang lebih masif.
“Transisi ini bukan tentang siapa yang menggantikan siapa, tetapi tentang bagaimana kita menggabungkan spirit gotong royong koperasi dengan sistem manajemen negara yang akuntabel. Pak Sudaryono memiliki kapasitas untuk mengintegrasikan kedua kekuatan ini,” tambah Maharani.
Harapan Nyata untuk Kolaborasi Multipihak
Sebagai praktisi yang sehari-hari bergelut dengan pemberdayaan anggota koperasi dan UMKM pangan, Maharani menyampaikan sejumlah harapan konkret kepada Ketua BGN yang baru:
Pelibatan Aktif Koperasi dalam Rantai Pasok: Maharani berharap BGN tidak hanya menjadikan koperasi sebagai objek bantuan, tetapi sebagai mitra strategis dalam distribusi bahan pangan.
“Koperasi Pendowo 08 memiliki jaringan anggota yang luas dan pemahaman lokal yang mendalam. Kami siap menjadi ujung tombak penyaluran program Makan Bergizi Gratis di tingkat kecamatan hingga desa,” tegasnya.
Standarisasi yang Ramah UMKM: Dalam penetapan standar menu dan bahan pangan, Maharani meminta agar BGN tetap mempertimbangkan kapasitas produksi UMKM dan koperasi lokal.
“Standar gizi harus tinggi, namun jangan sampai mematikan pelaku usaha kecil. Berikan pendampingan dan fasilitas agar kami bisa naik kelas memenuhi standar tersebut,” pintanya.
Transparansi dan Akses Informasi: Keterbukaan informasi mengenai rencana pengadaan, kriteria pemasok, dan mekanisme pembayaran menjadi kunci kepercayaan.
“Agar kolaborasi berjalan lancar, kami membutuhkan kepastian dan transparansi dari BGN. Ini akan mendorong koperasi dan UMKM untuk berpartisipasi dengan serius,” jelasnya.
Pemberdayaan, Bukan Sekadar Transaksi: Maharani menekankan bahwa program gizi nasional harus bermuara pada peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.
“Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk program MBG harus berputar di ekonomi lokal. Jangan sampai bahan pangan didatangkan dari luar daerah sementara petani dan produsen lokal di sekitar lokasi program justru tidak terserap,” pungkasnya.
Komitmen Koperasi Pendowo 08 Mendukung BGN
Maharani juga menegaskan kesiapan Koperasi Pendowo 08 Indonesia untuk bersinergi dengan BGN di bawah kepemimpinan Sudaryono. Menurutnya, koperasi telah mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan anggota, dan memperkuat sistem administrasi agar dapat menjadi mitra yang handal bagi pemerintah.
“Pelantikan Mas Sudaryono adalah momentum tepat untuk memulai babak baru kolaborasi. Kami yakin, dengan sinergi yang solid antara negara dan koperasi, program gizi nasional tidak hanya akan berhasil memberi makan, tetapi juga memberdayakan dan menyejahterakan,” tutup Maharani optimis. (*/ian)



















