JATENGONLINE, SOLO – Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, ustaz Dwi Jatmiko memegang wayang karakter untuk sosialisasi pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan, sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia nomor 41 tahun 2014.
Bertajuk gerakan kecil untuk dunia bebas sampah plastik. Sampahku Tanggung Jawabku yang muaranya lingkungan menjadi bersih dan bentuk cinta kita semua kepada bumi, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang berkolaborasi dengan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta di bawah pimpinan Sri Sayekti dan diperkuat budayawan berkemajuan Ki Agung Sudarwanto SSn MSn.
“Terima kasih atas tugas dari panitia Akademi Dakwah Digital 1, kepala sekolah Sri Sayekti dan budayawan Agung Sudarwanto dalam rangka mendukung Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Fatwa Nomor 41 tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan,” ujarnya.
Sesuai firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 222. Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.
Permasalahan sampah bisa dikatakan menjadi permasalahan nasional, yang berdampak buruk bagi kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan.
Dalam fatwa MUI itu disebutkan setiap Muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan.
“Muslim diminta menghindarkan diri dari berbagai penyakit, serta perbuatan tabdzir atau menyia-nyiakan dan israf atau berlebih-lebihan,” bebernya.
Guru PAI dan Bahasa Arab SD Muhammadiyah 1 Solo itu menjelaskan Wayang SSP (Wayang Sak Semen Press) adalah seni kriya wayang alternatif yang menggunakan bahan baku daur ulang berupa kertas atau sak semen bekas sebagai pengganti kulit hewan.
Ciri-Ciri dan Karakteristik Wayang SSP dengan bahan baku utama yang menggunakan 8 hingga 12 lembar bekas kantong/sak semen yang direkatkan menggunakan lem kayu.
Dalam proses pembuatan dengan lembaran kertas semen dibersihkan, dilapisi lem secara berlapis, lalu dipress menggunakan papan kayu dan dikeringkan secara diangin-anginkan (tidak terkena sinar matahari langsung). Dilanjutkan dengan pembuatan sketsa, proses tatah/pahat detail karakter, hingga penyunghingan (pewarnaan) layaknya wayang kulit tradisional.
Sementara itu Gapit. Menggunakan kombinasi material pendukung seperti kayu (misal kayu sawo) atau rotan agar wayang dapat berdiri kokoh saat dimainkan.
“Keunggulannya menjadi solusi seni yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan dengan kemiripan tekstur serta kelenturan mencapai sekitar 90% menyerupai wayang kulit asli,” bebernya.
Ditemui pada kesempatan yang sama, Budayawan Agung Sudarwanto menyebutkan dari sisi tinjauan budaya yaitu hadirnya edukasi dan estetika lingkungan.
Budaya bersih juga berkaitan erat dengan estetika dan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap ruang publik.
“Ketika masyarakat dididik untuk bangga terhadap kebersihan daerahnya, membuang sampah sembarangan akan dianggap sebagai tindakan anti-sosial dan tabu secara budaya. Integrasi kurikulum lingkungan sejak usia dini membentuk budaya sadar sampah yang melekat hingga dewasa,” pungkasnya. (*/ian)




















