Guru Besar ISI Solo Eko Pace: Seni Harus Berdiri Sejajar dengan Sains dan Teknologi

banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Pengukuhan Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Prof. Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A. atau Eko Pace sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Koreografi di Pendopo Joyokusumo, ISI Surakarta, Rabu (28/10/2026) malam, menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi seni dalam ekosistem pendidikan dan pembangunan nasional.

Dalam orasi ilmiahnya, Eko Pace menekankan bahwa seni bukan sekadar pelengkap, melainkan disiplin ilmu yang memiliki potensi setara dengan bidang sains, teknologi, ekonomi, dan matematika (STEM).

banner 336x280

“Alhamdulillah, pencapaian ini ingin saya buktikan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa tidak hanya STEM yang penting, tetapi arts juga ada di dalamnya. Saya ingin menunjukkan bahwa seni bisa bersaing, berdaya guna, dan bersanding secara seimbang dengan sains dan teknologi,” ujar Eko Pace, ditemui sebelum pengukuhan.

Baginya, gelar guru besar ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa seni harus memiliki posisi tawar yang berimbang dengan bidang-bidang lain. Ia menegaskan bahwa baik seni tradisi maupun kontemporer harus terus dikuatkan dan dikembangkan sebagai sebuah ilmu yang dapat dicintai, dipelajari, dan diajarkan secara sistematis.

Koreografi sebagai Ilmu yang Terukur
Eko Pace juga menyoroti pentingnya koreografi sebagai cabang ilmu yang spesifik namun tetap relevan dengan berbagai konteks. Menurutnya, koreografi—baik yang berbasis tradisi maupun konten modern—adalah tentang menata dan mencipta tari yang memiliki nilai akademis dan praktis.

“Koreografi itu tetap seni tari, yaitu menata dan mencipta tari. Baik tradisi maupun yang berhubungan dengan koreografi secara umum, semuanya harus kita kuatkan dan imbangi sebagai ilmuwan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ilmu koreografi harus bisa “dijangkau” dan didampingi agar potensi kreatif anak bangsa dapat berdaya secara nyata, baik sebagai pekarya maupun profesi yang berkelanjutan.

Berkarya Tanpa Henti Meski Ada Keresahan
Menanggapi pertanyaan mengenai keresahan atau tantangan pasca-pengukuhan, Eko Pace justru melihatnya sebagai energi untuk memulai kembali proses berkarya. Baginya, menjadi guru besar bukanlah titik akhir, melainkan pembuktian bahwa ia harus terus bergerak dan menciptakan karya baru.

“Kalau keresahan, tidak ada yang pasti. Justru ini membuktikan saya harus memulai dari awal lagi untuk terus berkarya. Nanti bisa didengarkan dan dirasakan dalam orasi ilmiah saya,” pungkasnya.

Dengan semangat tersebut, Eko Pace berharap pengukuhan ini dapat menginspirasi generasi muda seniman Indonesia untuk terus memperkuat posisi seni, menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, serta menjadikan seni sebagai kekuatan yang sejajar dengan disiplin ilmu lainnya dalam membangun peradaban.

Rektor ISI Surakarta Apresiasi Guru Besar Jalur Kekaryaan                                          Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pengukuhan Profesor Eko Supriyanto sebagai Guru Besar jalur kekaryaan.

Dalam sambutannya pada Sidang Senat Terbuka, Rektor menegaskan bahwa capaian gemilang ini memperkuat kedudukan penciptaan seni sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

Dr. Bondet menilai bahwa latar belakang internasional Prof. Eko menjadi bukti nyata relevansi pendidikan tinggi seni dengan praktik kesenian global. “Pengalaman internasional Prof. Eko—mulai dari terlibat dalam tur dunia Madonna, produksi The Lion King, hingga karya-karya lintas budaya—menunjukkan hubungan yang erat antara pendidikan tinggi dan praktik kesenian global,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rektor menyoroti kontribusi akademik spesifik yang dibawa oleh Prof. Eko. Pendekatan ekodramaturgi dan koreografi epistemik yang dikembangkannya dinilai bukan sekadar teknik pertunjukan, melainkan warisan akademik penting yang memiliki landasan keilmuan kuat. Warisan ini, menurut Dr. Bondet, dapat dipelajari, diuji, dan dikembangkan lebih lanjut oleh generasi seniman dan akademisi berikutnya.

Sidang Senat Terbuka pengukuhan guru besar kali ini berlangsung unik karena diselingi dengan pementasan artistik (lecture performance) yang melibatkan para penari dan seniman pendukung. Format ini secara langsung mendemonstrasikan bagaimana teori dan praktik seni bersatu padu dalam satu ruang akademik.

Acara ditutup dengan doa bersama, menandai dimulainya babak baru kontribusi pemikiran dan kekaryaan Prof. Eko Supriyanto bagi perkembangan seni budaya Indonesia maupun dunia. Pengukuhan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa ISI Surakarta terus berkomitmen mengangkat standar keilmuan seni kreasi agar setara dan berdialog dengan disiplin ilmu lainnya. (*/ian) 

banner 336x280