JATENGONLINE, SOLO – Seorang tokoh masyarakat dan juga advokat sekaligus ustadz, beliau sangat dekat persahabatannya dengan mendiang Pakoe Boewono XII maupun Sinuhun PB XIII Keraton Kasunanan Surakarta yakni Dr. Muhammad Kalono SH., M.Si.
Terkait adanya sinyal ‘ontran-ontran’ yang terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, perebutan kekuasaan paska mangkatnya Sinuhun PB XIII,
“Masalah kekuasaan ini sebetulnya kan masalah tanggung jawab ya, Dan dalam konsep Islam, pemimpin itu adalah pelayan.” kata Kalono, ditemui saat olahraga pagi di Manahan. Jumat (7/11/2025).
Jadi mestinya tidak usah diperebutkan, akan tetapi sebaiknya dirembuk yang baik. Kemudian siapa yang duduk sebagai, kalau misalnya nanti jadi Rojo (raja) itu emang ‘neng dunyo’ (hanyalah di dunia).
“Nah, di akhirat (setelah wafat) itu nantinya tanggung jawab yang paling gede.” tegasnya lagi.
Namun, kalau mereka bersatu, kemudian menunjuk salah satu siapa yang berhak jadi raja (PB). Insyaallah harta kekayaan warisan para leluhur Kasunanan Surakarta dan Mataram Islam itu luar biasa. Karena tidak hanya di dalam negeri karena ada yang di luar negeri juga.
“Kalau sekarang yang berkuasa ini, misalnya nanti berkuasa jadi Rojo, jadi Sinuhun. Lalu, apa kemudian bisa menguasai itu?. Tidak! ” tegas Kalono.
Karena itu harta warisan, pasti nanti oleh yang menguasai sekarang harta warisan itu akan dibertanya siapa saja ahli warisnya. Tanpa adanya ahli waris siapa saja yang berhak menerimanya, maka harta warisan tersebut tidak bisa ‘dicairkan‘

“Maka siapa pun yang menjadi Raja, itu sejatinya hanyalah ‘sampiran’ saja.
Kalau jadi dinobatkan Sinuhun PB XIV, nanti hanya lah jabatan sementara saja.” jelasnya.
Sampiran hanya jabatan sementara. Yang nanti tanggung jawabnya itu sangat besar. Karena harta kerajaan, serta peraturan-peraturan yang banyak sekali. Dan tanggung jawabnya nanti mengurus itu semua dan harus menyertakan seluruh ahli waris Keraton Surakarta. Membagi dengan adil, dan itu berat sekali.
Saat ini disinyalir ada dua kubu yang mungkin agak ‘otot-ototan’ terkait siapa yang berhak menjadi penerus kepemimpinan PB XIII.
Menurut Kalono, ada aturan sebelum merdeka, dan ada aturan setelah merdeka, ada aturan sebelum PB XIII, ada aturan setelah PB XIII. Yang kesemuanya itu ada dinamikanya tersendiri. Dan itu biarlah dari keluarga Keraton Mataram Islam,
Kasunanan Surakarta itu nanti, “Biarlah mereka yang berembuk, mau dipilih siapa,” katanya.
Tetapi Kalono sekali lagi berpesan agar sebaiknya mereka itu bersatu. Sebab, yang namanya harta warisan Kasunanan Surakarta ini sangat besar sekali. Dan, jika tidak ada persatuan tidak mungkin bisa diurus. “Tidak mungkin bisa diurus. Padahal harta warisan itu bisa ribuan triliun.
Itu ada di Indonesia dan di luar Indonesia,” imbuh Kalono.
Maka, siapa yang berhak meneruskan tampuk kepemimpinan Sinuhun sebagai PB XIV. Kini muncul riak kecil polemik seperti tahun-tahun yang sudah, saat suksesi raja di keraton, diawali adanya pro dan kontra, adanya deklarasi dari Gusti Purbaya yang mengangkat dirinya sebagai PB XIV menjelang Sinuhun PB XIII dimakamkan ke Imogiri, Rabu (5/11/2025), lalu muncul pernyataan dari Perdana Menteri Gusti Tedjowulan, bahwa dirinya lah yang berhak atas pemimpin Keraton Surakarta, sebelum adanya PB XIV.
Deklarasi yang dilakukan oleh Gusti Purbaya sebagai penerus ayahandanya sebagai PB XIV, menurut Kalono, untuk segera juga melakukan ‘sowan’ kepada yang lainnya.
“Memang di masa lalu, ketika Raja itu mangkat itu, kemudian otomatis anak pertama yang menggantikan.
Itu di masa lalu. Tapi kini ada banyak, kemudian ada perkembangan, ada dinamikanya.” jawab Kalono, disinggung terkait deklarasi Gusti Purboyo.
Misalnya, lanjutnya, seperti kemarin ketika terjadi pada PB XII, saat itu yang melakukan deklarasi duluan Gusti Tedjowulan. Lalu dua pekan kemudian seluruh elemen kerabat keraton menanggapi. Lalu, ada solusi untuk melakukan rekonsiliasi, dan menentukan secara resmi Hangabehi menjadi PB XIII, dan Tedjowulan sebagai Maha Menteri.
.
“Dan saya tahu persis apa yang terjadi pada waktu itu, karena keduanya melibatkan saya.” tegas Kalono.
Terkait deklarasi yang dilakukan oleh Gusti Purboyo sebagai Putra Mahkota, mengangkat dirinya sebagai PB XIV itu, apakah sah?
“Pasti nantinya akan ada rekonsiliasi lagi.
Tapi rekonsiliasi itulah jalan terbaik dan saya berharap nanti yang terpilih nantinya sosok yang smart, cerdas, dan kuat untuk mengurus semua yang telah saya sampaikan tadi.” katanya wanti-wanti.
Untuk menyatukan kelompok kepentingan itu bukan hal mudah, inisiatif bersatunya beberapa kubu sudah diupayakan sejak tahun 2004 sampai detik ini pun, putra putri Sinuhun Pakoe Boewono XII 12 sulit untuk bersatu. Terkait hal itu, Kalono menyampaikan pendapat pribadinya “Saya melihat sebetulnya hanya pada motivasinya ya, sebab motivasinya selalu ingin memiliki dan menguasai sendiri semuanya,” jelas Kalono.
Maksudnya ‘milik’, lanjut Kalono, bahwa ada langkah-langkah itu yang terjadi. Dan dirinya siap membeberkan bukti-buktinya.
Bondo-bondo (harta warisan) Keraton Surakarta itu tidak bisa dimiliki oleh satu orang. Semuanya seperti itu.
Misalnya sekarang ada yang mengurus, tapi nanti begitu pembagian, yang sekarang menguasai itu pasti akan minta ahli warisnya mana saja.
“Yang mengurus bisa satu orang, tapi begitu membagikannya, harus. Melibatkan seluruh ahli waris,” ujarnya.
Ini diingat-ingat dengan baik, kekuasaan itu bukan segala-galanya, kekuasaan itu hanya ‘sampiran’, hanya sementara, dan tanggung jawabnya besar. Karena itu gelar Sinuhun Pakoe Boewono itu adalah “Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Ngalaga Abdurahman Sayyidin Panatagama Khalifatulah” yang mencerminkan posisinya sebagai pemimpin agama dan militer, yang secara harfiah berarti “pemimpin perang, hamba Tuhan yang taat, pengatur agama”. (*/ian)






















