JATENGONLINE, SURAKARTA – Kementerian Kebudayaan bersama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara resmi memulai proses revitalisasi kawasan cagar budaya Keraton Surakarta pada Kamis, 24 September 2026.
Peresmian dimulainya proyek pelestarian bersejarah ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon di kompleks keraton, menandai babak baru dalam upaya perlindungan warisan budaya Jawa yang tak ternilai.
Kehadiran Menteri Fadli Zon di tengah-tengah keluarga besar Keraton Surakarta menjadi simbol kuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan institusi adat dalam menjaga identitas bangsa. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa revitalisasi ini bukan sekadar pemugaran fisik, melainkan komitmen nasional untuk memastikan Keraton Surakarta tetap hidup sebagai pusat kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan.
“Revitalisasi Keraton Surakarta adalah investasi bagi masa depan peradaban kita. Ini bukan hanya tentang memperbaiki bangunan tua, tetapi tentang merawat jiwa, nilai-nilai luhur, dan kearifan lokal yang telah mengakar selama berabad-abad,” ujar Menteri Fadli Zon usai meletakkan batu pertama.
Proyek revitalisasi ini dirancang dengan pendekatan heritage conservation yang menghormati pakem arsitektur asli sekaligus mengintegrasikan teknologi modern untuk keamanan, aksesibilitas, dan pengelolaan pengunjung. Fokus utama meliputi restorasi struktur bangunan bersejarah, penataan tata ruang terbuka hijau, peningkatan sistem drainase dan utilitas, serta pengembangan fasilitas edukasi interaktif bagi generasi muda.
Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi menyambut baik inisiatif ini sebagai wujud pengakuan negara terhadap peran strategis keraton dalam ekosistem budaya Indonesia. “Kami bersyukur bahwa Keraton Surakarta mendapat perhatian serius dari Kementerian Kebudayaan. Revitalisasi ini akan membantu kami menjalankan fungsi keraton sebagai tempat pembelajaran budaya, bukan hanya monumen masa lalu,” ungkapnya.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Kebudayaan menambahkan bahwa proyek ini juga melibatkan para ahli konservasi, arsitektur tradisional, dan komunitas lokal untuk memastikan setiap langkah pelestarian dilakukan secara partisipatif dan berkelanjutan. Target penyelesaian tahap awal direncanakan pada akhir tahun 2027, dengan evaluasi berkala melibatkan perwakilan keraton dan masyarakat Solo.
Dengan dimulainya revitalisasi ini, Keraton Surakarta diharapkan tidak hanya terjaga fisiknya, tetapi juga semakin relevan sebagai destinasi budaya kelas dunia yang memadukan keaslian sejarah dengan kenyamanan modern. Langkah kolaboratif ini menjadi teladan bagi pelestarian cagar budaya lain di seluruh Nusantara. (*/ian)



















