Fenomena Padel: Mengapa Pengusaha Berlomba Investasi di Olahraga yang Sedang “Naik Daun”? Ini Kata Sabiq Putra Puspo Wardoyo 

Berita, Olahraga28 Views
banner 468x60

Sayyid Sabiq Abu Bakar Puspo Wardoyo

JATENGONLINE, SOLO  – Dalam beberapa tahun terakhir, pemandangan baru muncul di kawasan Solo Raya, lapangan olahraga berdinding kaca dengan ukuran lebih kecil dari tenis, namun ramai oleh eksekutif muda, selebritas, dan komunitas bisnis. Itu adalah Padel, olahraga racket asal Spanyol yang kini menjadi tren gaya hidup sekaligus ladang investasi baru.

banner 336x280

Bukan sekadar ikut-ikutan tren, masuknya para pengusaha ke sektor Padel didasari oleh kalkulasi bisnis yang matang. Berikut alasan fundamental Sayyid Sabiq Abu Bakar Puspo Wardoyo, pengusaha muda berusia 23 tahun, Padel menjadi pilihan favorit bagi pengembangan portofolio usaha saat ini,

Putra pengusaha kuliner Ayam Bakar Wong Solo, Puspo Wardoyo ini mulai merambah bisnis olahraga dengan membuka lapangan padel Black Steel di Pabelan, Sukoharjo. Langkah ini menjadi babak baru bagi Sayyid Sabiq tersebut untuk mengembangkan usaha di luar bisnis keluarga.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga padel, menjadi peluang bisnis yang dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan. Dan, keputusannya terjun ke industri ini bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer. Namun, potensi padel tidak hanya terletak pada penyewaan lapangan, tetapi juga pada pertumbuhan komunitas, penyelenggaraan turnamen, hingga perkembangan ekosistem olahraga.

Menurut Sabiq, dilihat dari forecast proyeksi melihat padel ini olahraga yang semakin tumbuh, tidak hanya FOMO semata.

“Bagi manajemen, kita melihat ada opportunity lebih dari olahraga padel ini,” jelas Sabiq ditemui di Black Steel Padel, Sabtu (3/10/2026).

Sabiq menilai perkembangan padel saat ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun bisnis yang tidak hanya mengandalkan tren sesaat. “Tingkat keterisian lapangan Black Steel menunjukkan perkembangan positif, seiring bertambahnya komunitas yang rutin bermain.” tambah Sabiq.

Pihaknya pun aktif menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas olahraga, untuk strategi pengembangannya. Salah satunya melalui turnamen yang digelar bersama komunitas Porsebank.

Kolaborasi yang dilakuan tersebut, kata Sabiq, menjadi salah satu cara untuk memperluas jaringan sekaligus membuka kesempatan bagi komunitas lain menyelenggarakan kompetisi di Black Steel Padel.

Dengan banyaknya komunitas yang terlibat bermain di lapangan Black Steel itu bagian dari bentuk community engagement. “Kita mengajak, menjalin koneksi dengan komunitas-komunitas untuk menaikkan okupansi kita,” ujar alumi Manajemen Bisnis Telkom University tersebut.

Selain itu, Black Steel juga berpartisipasi dalam Indonesian Padel League sebagai klub yang mewakili Jawa Tengah. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya mereka mengikuti perkembangan kompetisi padel di tingkat nasional.

Black Steel Tawarkan Konsep Sport and Lifestyle                                                          Black Steel Padel mengusung konsep olahraga sekaligus tempat berkumpul. Selain empat lapangan yang terdiri dari dua lapangan berwarna merah muda dan dua lapangan berwarna biru, tersedia pula fasilitas pendukung seperti sauna, cold plunge untuk pemulihan setelah berolahraga, area makanan dan minuman, tempat bermain anak, serta area parkir yang luas.

Konsep tersebut diperkuat dengan pembukaan Sejati Coffee Shop yang berada di kawasan yang sama. Kehadiran kafe diharapkan menciptakan pengalaman yang terintegrasi bagi pengunjung, baik sebelum maupun sesudah bermain padel.

Harapannya selain menaikkan okupansi dan revenue juga dan menjadi one stop destination. Dimana ketika orang mau ngopi kemudian bisa main padel ataupun sebaliknya. Habis main padel bisa juga berkunjung dan menikmati coffee shop.

Black Steel Padel saat ini masih berada dalam tahap soft launching. Pengelola berencana mengembangkan fasilitas tambahan di gedung sebelah dengan konsep lapangan yang lebih premium. Grand launching ditargetkan berlangsung paling lambat Novermber 2026.

Untuk tarif sewa, harga lapangan pada jam ramai atau prime time dipatok Rp175.000, sedangkan di luar jam ramai sebesar Rp125.000.

Terjunnya Sabiq ke bisnis olahraga mendapat dukungan penuh ayahnya, Puspo Wardoyo, owner Wong Solo Group. Selain juga memberikan kebebasan anak-anaknya untuk menentukan bidang usaha sesuai minat masing-masing, tidak harus mengikuti bisnis kuliner pendahulunya.

“Saya beri kebebasan. Silakan mau apa ya, yang penting tak modali dulu, anak saya kan sudah remaja semua ya, sudah gede semua jadi tidak semuanya kan harus ikut saya.” kata Puspo.

Khusus untuk bisnis padel, Puspo mengarahkan Sabiq agar bekerja sama dengan pihak yang memahami industri tersebut. Karena, langkah itu dapat membantu anaknya memulai usaha dengan bekal pengalaman dari mitra yang lebih dahulu berkecimpung di bidang terkait.

Puspo juga menilai Sabiq memiliki bekal organisasi sejak masih sekolah. Putranya itu pernah dua kali menjadi ketua OSIS dan memiliki ketertarikan pada sejumlah cabang olahraga, termasuk basket dan tenis.
Dukungan tersebut menjadi ruang bagi Sabiq untuk membangun identitas bisnisnya sendiri.

Melalui Black Steel Padel, ia ingin ikut mendorong pertumbuhan olahraga padel di Solo Raya, mulai dari pengembangan komunitas hingga penyelenggaraan turnamen secara rutin. Sabuq pun juga melihat peluang merambah sektor wellness dan olahraga lain yang berkembang, seperti Yoga dan Hyrox. (*/ian) 

 

banner 336x280