Ketua FUI Desta Dadyo Hasto Kuncoro
JATENGONLINE, SUKOHARJO – Momentum penting mewarnai kegiatan Forum Umat Islam Desa Gentan FUI (Desta) kali ini. Tiga kandidat Kepala Desa Gentan yang akan bertarung dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahun 2026, yakni Uke Fransiska, Samrodin, dan Sentot Maryanto, secara kompak hadir dan berpartisipasi aktif dalam forum keumatan tersebut. Kehadiran mereka menegaskan komitmen bersama bahwa kontestasi demokrasi di tingkat desa harus tetap berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritualitas dan persatuan umat.
FUI Desta, sebagai lembaga independen yang mengusung visi “Mewujudkan Desa Gentan yang Religius, Maju, dan Mandiri”, menjadi wadah strategis bagi para calon pemimpin untuk mendengarkan aspirasi langsung dari tokoh agama dan aktivis dakwah. Sinergi antara pemerintah (calon kades) dan ulama ini merupakan implementasi nyata dari semangat kemerdekan bangsa yang bertumpu pada rahmat Allah SWT.
“Dalam kebersamaan membangun Desa Gentan, menjadikan perbedaan sebagai penyempurna kekurangan. dan memaknai perbedaan dengan saling memahami dan menghargai Insyaallah kegiatan ini akan
menjadi agenda rutin dari forum umat Islam Desa Gentang dengan tagline menguatkan iman dan merekatkan hati bersama membangun Gentan. Yang mana Forum Umat Islam Desa Gentan hadir atas kegalauan dan kegelisahan serta keinginan kami untuk berkontribusi bagi Desa Gentan.” kata Dadyo Hasto Kuncoro, dalam sambutannya.
Lebih lanjut Hasto berharap, semoga seluruh warga berkenan menerima ketulusan hati dan menyambut kehadiran FUI Desta sebagai saudara dalam kebersamaan, sebab tak kenal maka tak sayang.
Kepala Desa Gentan, Uke Fransiska mengucapkan selamat atas deklarasi keberadaan FUI Desta, yang kedepannya hanya diinginkan oleh pengurus-pengurusnya menjadi tempat tampungan keluh kesah khususnya umat muslim se-desa Gentan yang wilayah-wilayahnya terbagi menjadi 14 RW.
“Kalau mau sounding, kalau mau bercerita, itu katanya fui desta nanti akan menjadi tempatnya, Jadi saya harap semoga ini bukan obor-obor blarak,” kata Uke
Dari Pemerintah Desa Gentan, lanjut Uke, siap dengan tangan terbuka menyambut bagaimana FUI Desta nanti terus berkarya akan terus berkolaborasi dengan pemerintah desa gentan mewujudkan bahwa pemerintah desa gentan itu bisa bersinergi.
Dengan kegiatan-kegiatan umat muslim di Desa Gentan, kedepannya menginginkan lebih baik lagi.

Pilkades Beradab: Bersaing Sehat, Tetap Bersaudara
Kehadiran Uke Fransiska, Samrodin, dan Sentot Maryanto di tengah-tengah forum keumatan mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat: Pilkades Gentan 2026 bukan tentang perpecahan, melainkan tentang adu gagasan untuk kemaslahatan umat.
Dalam forum yang bertujuan meminimalkan sekat antar-kelompok dan memperkuat Ukhuwah Islamiyyah ini, para kandidat diajak untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai kompas utama dalam merumuskan program kerja. FUI Desta menekankan bahwa siapapun yang menang nanti, haruslah pemimpin yang mampu:
1. Menjalin komunikasi harmonis dengan seluruh elemen umat.
2. Mendorong kemandirian ekonomi berbasis syariat.
3. Menciptakan birokrasi desa yang agamis namun humanis.
Tujuh Pilar FUI Desta sebagai Barometer Kepemimpinan
Bagi ketiga kandidat, tujuan FUI Desta juga berfungsi sebagai “checklist” kepemimpinan ideal. Masyarakat Gentan kini memiliki parameter jelas untuk menilai visi-misi calon kades: Apakah program mereka mendukung pembinaan syari’at? Apakah mereka punya rencana konkret untuk ekonomi umat? Dan apakah mereka siap menjadi mitra dialog yang terbuka bagi lembaga keumatan?
Dengan dukungan penuh dari FUI Desta, Pilkades Gentan 2026 diharapkan menjadi pesta demokrasi yang santun, edukatif, dan bermartabat. Sinergi antara calon kades dan forum umat ini adalah fondasi kokoh agar Desa Gentan tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga sejahtera secara spiritual dan sosial.

Sinergi Ulama dan Pemdes, FUI Desta Hadirkan Wajah Baru Desa Gentan yang Religius & Mandiri Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang semakin kompleks, harmonisasi antara peran pemerintah dalam pembinaan masyarakat dan peran ulama dalam pembinaan umat menjadi kunci terciptanya tatanan sosial yang kokoh.
Semangat inilah yang melahirkan FUI Desta, sebuah wadah independen yang hadir bukan sebagai oposisi, melainkan sebagai mitra strategis untuk mewujudkan Desa Gentan yang religius, maju, dan mandiri.
Lahir dari kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat Allah SWT, FUI Desta menegaskan posisinya sebagai lembaga yang terbuka, non-partisan, dan bebas dari afiliasi kepentingan kelompok tertentu. Fokus utamanya tunggal: mencari ridho Allah SWT melalui dakwah Rasulullah SAW serta mendorong kebijakan desa yang bernafaskan nilai-nilai agama.

Tujuh Pilar Pemberdayaan Umat
FUI Desta tidak sekadar menjadi simbol seremonial, tetapi memiliki tujuh tujuan konkret yang menjawab tantangan zaman:
1. Merajut Persatuan: Mengikis sekat antar-kelompok dengan kembali pada persamaan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Ukhuwah Islamiyyah: Memperkuat persaudaraan sesama muslim sebagai fondasi sosial.
3. Saluran Aspirasi: Menjadi jembatan komunikasi dua arah antara umat dan pemerintah desa.
4. Pembinaan Syar’i: Meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan warga melalui pengajian dan kajian rutin.
5. Kolaborasi Pembangunan: Memastikan program desa selaras dengan kebutuhan spiritual umat.
6. Ekonomi Umat: Mendorong kemandirian finansial melalui pemberdayaan ekonomi syariah dan UMKM berbasis masjid.
7. Sosial Kemanusiaan: Memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga dan dukungan bagi pemerintah desa.
Visi-Misi: Dari Religius Menuju Mandiri
Dengan visi besar “Mewujudkan Desa Gentan yang Religius, Maju, dan Mandiri”, FUI Desta merancang lima misi strategis. Sinergitas dengan Pemerintah Desa Gentan menjadi prioritas utama, diikuti oleh optimalisasi potensi masjid dan lembaga keumatan lainnya.
“Kami ingin menciptakan ekosistem di mana pemerintah desa dan umat Islam saling mendukung, menghargai, dan percaya,” ujar Hasto.
Lebih jauh, forum ini juga bertekad menggerakkan roda ekonomi umat agar tidak hanya bergantung pada bantuan, serta mendorong terciptanya birokrasi desa yang agamis namun tetap humanis.
Kehadiran FUI Desta diharapkan menjadi oase di tengah arus modernisasi, mengingatkan bahwa kemajuan sebuah desa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kekuatan moral dan spiritual warganya. Dengan kolaborasi yang solid, Desa Gentan siap melangkah menuju masa depan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (*/ian)



















