ISI Surakarta Gelar HWD ke-12: Gali “Mutiara” Cerita Lokal, Bawa Wayang dari Jagat Desa ke Panggung Global

banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menjadi tuan rumah perayaan Hari Wayang Dunia (HWD) ke-12 yang akan digelar pada Minggu, 1 November 2026. Mengusung tema “Urubing Blencong: Menjaga Nyala Wayang dari Jagat Lokal ke Panggung Global”, acara tahun ini menegaskan komitmen kuat untuk tidak hanya melestarikan wayang sebagai warisan budaya, tetapi juga memperluas apresiasi keragaman gaya pedalangan nusantara hingga ke tingkat internasional.

Ketua Jurusan Pedalangan ISI Surakarta sekaligus Pengarah HWD 2026, Tafsir Huda, M.Sn., menjelaskan bahwa perhelatan kali ini memiliki misi khusus untuk menyeimbangkan narasi pewayangan yang selama ini didominasi oleh epik Ramayana dan Mahabharata. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang lebih besar bagi cerita-cerita asli Indonesia yang sarat nilai filosofis namun belum banyak dikenal publik luas.

banner 336x280

“Selama ini kisah Ramayana dan Mahabharata telah begitu populer. Karena itu, HWD 2026 ingin menggali mutiara-mutiara kita, mengangkat cerita-cerita asli lokal untuk kemudian dipublikasikan agar masyarakat mengenal dan memahami ajaran-ajaran yang begitu dalam di dalamnya,” ujar Tafsir Huda.

Tema “Urubing Blencong”: Simbol Keberlanjutan dan Ekspansi
Tema “Urubing Blencong” dipilih sebagai metafora atas upaya menjaga nyala api kebudayaan wayang agar tidak padam, sekaligus menerangi jalan menuju panggung global. Ketua Panitia HWD 2026, Dr. Tatik Harpawati, M.Sn., menyatakan bahwa tema ini merefleksikan dua arah gerak sekaligus: merawat kekhasan lokal di akar rumput, sembari membuka dialog budaya dengan dunia luar.

Halintar Cokro Padnobo, M.Sn., selaku Sekretaris Jurusan dan Direktur Acara/Kreatif HWD 2026, menambahkan bahwa perayaan ini akan menampilkan keragaman gaya pedalangan dari berbagai daerah. Hal ini bertujuan menunjukkan bahwa wayang bukan monolit, melainkan ekosistem seni yang dinamis dan kaya variasi.

Sementara itu, Seruni Widawati, M.Sn., sebagai Sekretaris Panitia, memastikan seluruh rangkaian acara dikemas secara profesional untuk menarik minat generasi muda maupun penikmat seni internasional.

Dari Akar Lokal Menuju Apresiasi Universal
Melalui HWD ke-12, ISI Surakarta berharap dapat mengubah persepsi bahwa wayang hanyalah tontonan masa lalu. Dengan mengangkat cerita lokal yang autentik, institusi pendidikan seni tertinggi di Surakarta ini ingin membuktikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal Indonesia memiliki relevansi universal yang mampu resonan dengan audiens global.

Perayaan pada 1 November 2026 nanti diharapkan bukan sekadar festival tahunan, melainkan momentum strategis untuk memetakan ulang peta pewayangan Indonesia—di mana setiap daerah memiliki “mutiara” ceritanya sendiri yang layak dinyalakan blencongsnya di hadapan dunia. (*/ian) 

banner 336x280