Menemukan Rumah di Solo, Memeluk Sahabat di JKS, dan Menghidupkan Kenangan Lewat Katana Plat AD

Berita, Pernik43 Views
banner 468x60

“Solo bukan sekadar kota kelahiran saya 62 tahun lalu. Ia adalah tempat di mana rindu itu selalu punya alamat.” ungkap Mariono. 

Anggota Baru JKS | Pemilik Katana 1996 Plat AD | Anak Solo yang Merantau ke Bekasi

banner 336x280

Buat Om Mariono, Solo, tak hanya menjadi kota kelahirannya 62 tahun lalu. #solopantjenngangeni, demikian satu sticker kecil yang tertempel di kaca mobil kesayangannya. Bagaimana rak ngangeni, di masa kecilnya, di usia Sekolah Dasar, karena sejak 1969 Bapak dan Ibu memulai kehidupan di Jakarta, Om Mariono selalu bertandang ke Griya nipun Simbah Putri di Cengklik, dekat Nayu, setiap liburan sekolah. Main sledokan bambu dengan peluru buah lamtoro, makan bubur yang terbungkus daun jati, jajan hik yang setiap petang berkeliling kampung dan keliling bersepeda dari Cengklik, Nayu, Gilingan dan mbalik lagi ke Cengklik.

Sowan Cengklik menjadi agenda tersendiri, meski tidak setiap tahun, teristimewa saat Hari Raya Idul Fitri atau Natal, dimana seluruh keluarga besar berkumpul, melepas rindu dan bersilaturahmi. Sekarang, kalau pas kangen ke Solo, ya Om Mariono pun akan berangkat cusss… ke Solo, nambani kangen suasana kotanya, jajan jajanan khas Solo dan menikmati kuliner khas Solo, terutama yang ada di Pasar Gede. Bertemu bulik-buliknya, mas/mba sepupu sekaligus juga menjadi tombo kangen.

Lalu, Kenapa Katana? 
Seperti Kawan-kawan JKS tentu ada masa-masa dalam perjalanan hidup yang special karena bertemu dengan mobil model jip yang satu ini. Saat masa SMA di Jl. Gunung Sahari, Jakarta Pusat Tahun 1982/1983 dulu, Om Mariono punya teman sekolah yang diantar jemput dengan Suzuki Jimny Jangrik dengan warna bodi biru tua, dan itu yang membuatnya kesengsem.

Tahun 1988/1989 pun pernah merasakan menyetir Suzuki Jimny dengan bodi warna merah marun, punya teman kuliah. “Wah, keren banget waktu itu saya mendapat kesempatan nyetiri Jimny teman saya.” ceritanya.

Sampai disini, hanya bisa melirik keberadaan mobil model jip ini, dimana di-launch model Suzuki Caribian. Ya, hanya bisa melirik, kenang Om Mariono, karena hanya bekerja di salah satu perusahaan manufaktur, agen tunggal dan distributor otomotif besar di Indonesia, yang keduanya berkompetisi di pasar otomotif nasional.

Baru setelah masuk usia pensiun, kenang Om Mariono lagi, dan dengan pertimbangan efisiensi isi akun rekening di bank (tersenyum dalam hati) antara lain pajak kendaraan dan biaya operasional, serta mengingat rasa yang pernah ada tentang sebuah mobil model jip yang unique, yang cute, akhirnya memutuskan untuk punya Suzuki Katana.

Kenapa Plat AD Yang Dipilih? 
“Entah kenapa punya Katana yang Plat AD itu menjadi keinginan saya yang begitu kuat.” ternyata ini alasannya, “Lha wong… ada kenangan dengan Solo, ada kenangan tentang mobil Katana, sehingga yang kepikir, punya Katana Plat AD, itu saja.

Diakui Om Mariono, bahwa tidak terlalu mudah mencari apalagi mendapatkan unit pilihan Katana di seputaran Solo Raya, apalagi dirinya boleh dibilang sebagai pemula dan juga berdomisili saya di Bekasi. Alternatifnya ya dengan Googling, aplikasi mobil bekas dan media sosial, seperti Marketplace Facebook.

“Sempat ada waktu dimana saya ditemani adik saya, hanya berkeliling area Solo dan sekitarnya, pernah waktu itu dari Colomadu, area dekat Bandara, sampai ke Karangpandan yang sejuk dan indah. Tetapi itu semua dilalui tanpa hasil.” kenangnya.

Baru, pada sekitar pertengahan 2024, ketemu pemilik Katana menjual unitnya. Dengan bantuan keponakan dan montir bengkel temannya, minta dibantu untuk memeriksa Katana yang tersebut. Setelah diperiksa dan cenderung kondisi mobil baik, akhirnya, kembali lagi ke Solo dan berhasil mendapatkan Katana yang saat ini menemaninya kemanapun pergi.

Katana 1996 dengan -dekik cilik, tapi secara keseluruhan bodi yang lumayan mulus dan mesin yang saat itu dinilai lumayan baik. Rasanya gimana gitu, sungguh luar biasa saat duduk di jok pengemudi, mengelus, menggenggam dan memutar si Katana itu menyusur sebagian Jl. Slamet Riyadi di ruas Stasiun Purwosari.

“Ini dia Katana yang saya idam-idamkan! Tapi waktu Katana itu saya terima, rupanya penjual mengganti ban standar menjadi ban 31 dan anting peninggi sebenarnya secara teknis pada gilirannya harus disempurnakan, karena sepanjang perjalanan dari depan Solo Square menuju Bekasi, ban depan gembrodok beradu dengan chassis, apalagi saya memilih jalur Selo-Ketep-Muntilan. Sudah begitu, selepas Kartasura entah kenapa AC menjadi tidak dingin. Setelah tiba di Bekasi, dari montir, baru tahu, roda perlu dipasang spacer, supaya ban ngga mentok ke chassis, dan masih ada lagi yang memang perlu distel ulang, diperbaiki atau diganti.” kenang Om Mariono.

Mulai ‘Kepincut’ JKS
Memiliki Katana selama 2 tahun membuat Om Mariono terus berburu selalu mencari informasi soal perawatan, perbaikan, bahkan penggantian part, termasuk printilan aksesoris yang membuat Katana tampil lebih keren. Instagram, YouTube dan Facebook menjadi referensi-nya.

Belakangan, sekitar sebulan yang lalu, September 2026, searching-an berhenti pada Jimny Katana Solo (JKS). “Seingat saya, saya memutuskan untuk join di Akun Facebook JKS. Sampai suatu hari di Akun JKS ada upload-an Event JKS 4th Anniversary. Saya pandangi e-Flyer tersebut. Di pojok kiri bawah informasinya lengkap. Saya tertarik buat punya Kaos Event Anniv ini. Segera saja saya hubungi Bapak Fauzan, bolehkah saya ikut membeli kaosnya saja. Dan ternyata Pak Fauzan merespon dengan positif, saya bisa membeli Kaos Anniv JKS. Saya juga sempat menghubungi Pak Ariprie. Belum terpikir waktu itu saya bakal berangkat ke Solo.” ujarnya.

Tapi, karena ditemani Co-Driver yang tidak kau  adalah istrinya dan disertai bekal yang cukup Om Mariono pun bertekad untuk bisa hadir di Event JKS 4th Anniversary, 24-25 Oktober 2026 lalu Tawangmangu Wonderpark.

“Balasan yang ‘welcome’ dari panitia yakni Pak Fauzan dan juga Pak Ariprie di pesan Whatsapp pun terasa di JKS. Saat hari pertama bertemu dengan kawan-kawan di area camping Wonderpark. Sayang dan mohon maaf, jika saya dan istri saya tidak bisa ikut keceriaan acara makan-makan di Api Unggun dan pulang Jam 12:00an sebelum Acara usai. Suasana di JKS cukup hangat, untuk saling menyapa dan disapa dan berbagi cerita, juga rasa.” katanya penuh ceria.

Perjalanan 2 Hari ke Solo
Seperti perjalanan sebelumnya, ketika pulkam ke Solo yang belakangan hanya numpak Katana, maka perjalanan ke Event JKS 4th Anniversary di Tawangmangu akankah menjadi waktu petualangan baru lagi? Terngiang dalam benak Om Mariono.

Sebab sebelumnya Katana Om Mariono sempat naik truk towing Jasa Marga di Tol Pasteur-Padalarang, karena elemen atas radiator bocor, yang mana meski sudah diperbaiki di salah satu bengkel rekanan Jasa Marga, kondisi itu tetap mengharuskan untuk menjaga indikator suhu mesin dengan berhenti setiap 20 km.

“Dengan berdoa, memohon pimpinan dan penyertaan Tuhan, saya dan istri memutuskan berangkat! Kamis, 22 Oktober sekitar Jam 05:00 pagi berjalan meninggalkan Bekasi melalui Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Ada sedikit macet di area sebelum Exit Karawang Timur, tetapi selebihnya lancar jaya.” kilahnya.

Dengan mengendarai Katana Plat AD, menjelajahi Cirebon, dengan kecepatan rata-rata 70 sampai 80 km per jam, aman.
Di setiap perjalanan ke luar kota, istimewanya ke Solo, memang punya template untuk tidak langsung menuju Solo. Berkendara santai, ngga ngoyo, menikmati setiap moment yang dilintasi memiliki kesan tersendiri buat bernostalgia berdua. Memandang kehijauan sawah yang terbentang hijau. Menikmati kuliner yang menarik yang di temui dan itulah warna perjalanan ini, apalagi bersama si Katana.

“Kami terus berkendara di Tol Trans Jawa, tetapi kami memutuskan untuk keluar di Exit Toll Tegal, melanjutkan perjalanan melalui ‘Jalur Tengah’ mengarah ke Timur. Kami sempat berhenti di Teras Semilir, Bumiayu [https://maps.app.goo.gl/bDEDZJGtUgXtUvvA9], sekitar Jam 11:00 untuk beristirahat, mendinginkan mesin dan makan siang.” katanya.

Teras Semilir, lanjut Om Mariono, bisa direkomendasikan buat sejenak beristirahat, karena tersedia menu makanan yang menarik seperti Garang Asem, mujair goreng dan lokasinya di pinggir kali yang semilir.

“Jam 14:00 saya masih sempat-sempatnya memimpin Zoom Meeting di Breezel Coffee [https://maps.app.goo.gl/GNvcNdAYBrkCEiUX9] yang berada di sebelah Teras Semilir.
Setelah rampung, kami pun melanjutkan perjalanan.” terangnya.

Seperti yang biasa kami lakukan, kata Om Mariono, ketika menjelang petang, selalu memilih untuk beristirahat dan menginap di penginapan. Selain hanya kegelapan yang akan dilalui, untuk kenyamana dan keamanan perjalanan, maka sekitar Jam 19:00 memilih untuk menginap di Wonosobo.

“Jumat, 23 Oktober 2026 Jam 07:00, kami melanjutkan perjalanan. Hari itu kami sudah berencana main dan juga belanja ke Gula Jawa Borobudur [https://maps.app.goo.gl/bxZSznMyoSEBALQG6]. Sekitar Jam 09:00 kami tiba di tujuan. Kami masuk ke halamannya, menikmati rindang dan hijaunya pepohonan dan tanaman disana, sambil mencicipi gula jawa jahe sebagai hasil olahan rumahan dengan segelas the hangat.” jelas Om Mariono.

Unik juga ya, kenang Om Mariono, gigit-gigit sedikit gulanya, kemudian sruput teh hangatnya! “Wah, seperti ngga kepingin buru-buru meninggalkan tempat itu.”

“Namun, tak lama berlalu, kami pun beranjak pergi, di etape ini kami memilih untuk berkendara ke arah Prambanan melalui Tol Jogya-Solo, langsung menuju Tawangmangu. Ini perjalanan pertama saya di Tol Jogya-Solo. Pemandangan sekitar jalan Tol masih bisa dinikmati, jalan Tol Jogya-Solo pun masih terasa lengang. Tak terasa, kami sudah melintas Colomadu, Bandara dan Mojosongo. Wuih, dadi kangen ngomah!”

Lalu, mengambil jalur keluar di Exit Toll Karanganyar. Melewati jalur alternatif menuju Karanganyar menjadi menarik, karena berkendara di jalan dimana di kiri-kanan jalan masih terbentang sawah yang menghijau.

Jam 14:00 sudah masuk salah satu Hotel di Tawangmangu. Menjelang Jam 19:00, keluar Hotel untuk makan malam.Tak jauh, hanya berjarak sekitar 100 meter dari Hotel. Selesai makan malam, kembali ke Hotel untuk beristirahat.

Sabtu, 24 Oktober 2026
Pagi hari Sabtu, 24 Oktober 2026 sudah berada di Tawangmangu. Nah, siang hari pun menyempatkan untuk melihat dan berkunjung ke kawan-kawan JKS

Minggu, 25 Oktober 2026
Pagi hari Jam 08:00 sudah berada di Lokasi Acara. Mengikuti Acara sampai Jam 12:00, karena harus bersiap Kembali ke Bekasi.
Diawali dengan doa, jalur pulang lewat Matesih baru tahu… jalur tracknya lebih sederhana ketimbang jalur utama Karangpandang-Karanganyar… selebihnya Tol Solo-Prambanan…
“Katana dan kami berdua mencoba lintas Selatan Jogya, Bantul. Melewati Jembatan Kabanaran [https://maps.app.goo.gl/URJThq5Pq87SqJiZ6], terus menyusur lintas paling Selatan.
Matahari telah tenggelam, pandangan gelap di depan. Terus melaju ke Utara. Perhitungan, kota terdekat adalah Gombong. Sambil berkendara, Co-Driver yang adalah istri Om Mariono melakukan reservasi penginapan. Tapi karena sudah menjelang jam makan malam, mampir di Gilingan Pari Kafe, Gombong [https://maps.app.goo.gl/6hmRKZNRJUeFMQZL8]. Tempatnya unik, karena memang sebelumnya menjadi tempat penggilingan padi. Sebagian property masih dipertahankan. Menu pilihannya menarik dengan layanan ramah penuh sspa dan senyum. Jam 20:00 kami masuk Hotel dan bermalam.

Senin, 26 Oktober 2026
Melanjutkan perjalanan Kembali ke Bekasi. Ritual isi air pendingin di box. Buka kap mesin, pasang besi penahan. Buka tutup box plastic air Cadangan radiator, dan isi deh. Kami berangkat Jam 07:00.
Perjalanan tetap melaju santai, kecuali di track yang membutuhkan kecepatan ya gas aja!

“Kami mengarah ke Simpang Tiga Akses Tol di jalur Pantai Utara (Pantura), Pejagan [https://maps.app.goo.gl/MQ2ZMSSDqdqXW2st9]. Tidak mengambil jalur jalan Tol Trans Jawa. Terus mengarah ke Indramayu. Co-Driver pun kepingin mangga. Kami melambung ke jalur Indramayu dan sayang seribu sayang”

Solo pantjen ngangenii… JKS pantjen ngangenii… Katana pantjen ngangenii..— Mariono

banner 336x280