JATENGONLINE, SOLO – Di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, penjual jamu, cleaning service, hingga karyawan garmen, sekitar 20 ibu anggota PKK RW 11 Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta mengikuti kegiatan berbeda dari biasanya. Minggu (23/8/2026).
Melalui program bertajuk “Peningkatan Emotional Well-Being melalui Art Therapy pada Ibu-Ibu PKK di Kelurahan Pucangsawit”, para ibu diajak berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana perasaanku hari ini?”
Kegiatan yang digelar di Balai Warga RT 01 RW 11 ini merupakan leadership project mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Solo Kelompok 5, di bawah bimbingan Prof. Dr. Anita Trisiana, S.Pd., M.H.
Berbeda dari kegiatan PKK yang umumnya berupa penyuluhan atau pelatihan keterampilan, sore itu para ibu diajak melakukan mindful drawing — menggambar bebas dengan penuh kesadaran sebagai salah satu bentuk art therapy.
Kegiatan berlangsung pukul 16.00 – 17.00 WIB. Diawali dengan psikoedukasi singkat tentang pentingnya menjaga kesehatan emosi dan mengenali tanda-tanda stres.
Media yang digunakan bukan kertas lukis, melainkan totebag kanvas polos yang dilukis bebas menggunakan cat akrilik. Tidak ada tema, tidak ada benar atau salah. Sebagian ibu melukis bunga dan pemandangan, sebagian menuliskan kalimat afirmasi, dan banyak yang menggambar simbol hati sebagai representasi perasaan.
“Mbak, menyenangkan sekali aku bisa meluapkan emosiku lewat gambar. Pas seneng, gambaranku apik, tapi pas kelingan masalah, gambaré dadi ora alus,” ujar salah satu peserta dengan jujur di sela kegiatan.
Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana emosi yang naik turun langsung tertuang lewat goresan kuas — sesuatu yang sulit diungkap dengan kata-kata, namun mudah keluar lewat gambar.
Sesi dilanjutkan dengan refleksi individu dan Focus Group Discussion (FGD). Di ruang aman ini para ibu saling berbagi cerita, keluh kesah, dan saling mendengarkan tanpa takut dihakimi. Suasana kekeluargaan menjadi capaian paling berharga dari kegiatan ini.
Hasil karya para peserta tidak langsung dibawa pulang. Seluruh totebag akan dikumpulkan dan dipamerkan pada acara gelar karya yang direncanakan November mendatang. Sebagai gantinya, setiap peserta menerima souvenir kenang-kenangan.
Tim penyelenggara berharap kebiasaan mengenali dan mengekspresikan emosi ini dapat berlanjut. Pengurus PKK RW 11 didorong mengintegrasikan sesi berbagi cerita atau aktivitas kreatif sederhana dalam pertemuan rutin agar dukungan antaranggota tetap terjaga.
“Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana ilmu Bimbingan dan Konseling dapat hadir langsung di tengah masyarakat. Lewat selembar totebag dan sapuan kuas, para ibu diajak menyadari bahwa merawat perasaan sendiri sama pentingnya dengan merawat keluarga dan lingkungan,” ungkap tim mahasiswa PPG BK UNISRI.
Universitas Slamet Riyadi Surakarta terus mendorong mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu melalui pengabdian langsung ke masyarakat, sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. (*/ian)






















