JATENGONLINE, SUKOHARJO – Bagi Bakal Calon Kepala Desa Gentan, H. Moch. Samrodin, S.E., M.M., atau yang lebih akrab di sapa Mas Samrodin, konsep kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kemampuan untuk berbagi. Filosofi sederhana namun mendalam ini ia terjemahkan ke dalam program kerja nyata yang langsung menyentuh hajat hidup warga, menjadikan “berbagi” sebagai solusi utama atas berbagai persoalan sosial-ekonomi di Desa Gentan.
Mas Samrodin meyakini bahwa kesejahteraan desa tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi makro tanpa pemerataan. “Berbagi adalah solusi. Bukan sekadar memberi, tapi membangun kemandirian bersama,” tegasnya saat ditemui di sela-sela kegiatan silaturahmi dengan warga di Angkringan Mazda, Gentan.
THR: Berbagi Rezeki dari Kas Desa
Wujud paling nyata dari filosofi ini adalah program Bagi Hasil Warga Gentan (THR Tiap Tahun). Berbeda dengan bantuan sosial biasa yang bersifat karitatif sesaat, THR ala Mas Samrodin dirancang sebagai hak warga atas hasil pengelolaan aset desa. Pendapatan dari Pasar Raya Gentan dan Lapangan Gentan—yang selama ini sering kali hanya menjadi angka di laporan keuangan—akan dialokasikan secara proporsional untuk 2.385 Kepala Keluarga di Gentan setiap menjelang hari raya.
“Ini bentuk syukur kita sebagai pengelola desa. Ketika PADes naik karena pasar dan lapangan dikelola dengan baik, wajar jika warganya ikut merasakan manisnya,” jelas Mas Samrodin.
Program ini juga berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang mencegah kemiskinan ekstrem saat momen-momen kritis seperti lebaran atau tahun baru ajaran.
Gentan Berdaya: Berbagi Peluang, Bukan Sekadar Bantuan
Selain berbagi rezeki, Mas Samrodin juga fokus pada berbagi peluang melalui program Gentan Berdaya (Penguatan UMKM Warga). Ia menyadari bahwa memberi ikan hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi memberi kail dan mengajarkan cara memancing akan menyelesaikan masalah selamanya.
Program ini mencakup pendampingan teknis, akses permodalan mikro, hingga fasilitasi pemasaran digital bagi pelaku usaha lokal. Dari kios ngece di Lapangan Gentan hingga produsen kuliner rumahan, semua mendapat ruang untuk berkembang.
“Ketika UMKM warga kuat, roda ekonomi berputar di dalam desa. Uang tidak lari ke luar, tapi berputar antarwarga. Ini adalah berbagi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Layanan Digital: Berbagi Kemudahan Akses
Bahkan dalam hal birokrasi, semangat berbagi tetap hadir. Program Urus Surat Cukup dari Rumah via WhatsApp adalah bentuk berbagi kemudahan akses pelayanan publik. Warga yang sibuk bekerja, lansia, atau mereka yang tinggal jauh dari balai desa tidak perlu lagi mengorbankan waktu dan biaya transportasi hanya untuk mengurus surat pengantar.
“Berbagi juga berarti menghargai waktu dan tenaga warga. Pelayanan harus menyesuaikan kebutuhan rakyat, bukan sebaliknya,” tambah Mas Samrodin.

Kepemimpinan yang Mengalir Seperti Air
Bagi Mas Samrodin, pemimpin desa ibarat air: mengalir ke tempat rendah, mengisi celah-celah kekurangan, dan membawa kehidupan. Dengan kombinasi THR, pemberdayaan UMKM, dan layanan digital, ia ingin membuktikan bahwa berbagi bukanlah kelemahan atau pemborosan anggaran, melainkan investasi sosial tertinggi yang menjamin stabilitas dan kebahagiaan warga Gentan jangka panjang.
“Kalau kita bisa berbagi dengan tulus, insya Allah rezeki desa akan terus bertambah. Karena berkah itu datang dari keberkahan hubungan antarmanusia,” pungkasnya dengan senyum khas yang selalu dikenali warga. (*/ian)




















