Blusukan Sambil Berbagi, Mas Samrodin Bukti “Berbagi Adalah Solusi” di Tengah Warga Gentan

Berita, Sukoharjo22 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Semboyan “Berbagi adalah Solusi” bukan sekadar slogan kampanye bagi Bakal Calon Kepala Desa Gentan, H. Moch. Samrodin, S.E., M.M. atau akrab disapa Mas Samrodin. Frasa tersebut hidup dalam setiap langkah kakinya saat melakukan blusukan ke pelosok dusun, menyambangi warga yang membutuhkan, dan duduk bersama menyerap aspirasi di ruang-ruang publik sederhana.

Bagi Mas Samrodin, berbagi memiliki makna ganda: memberikan bantuan materi kepada yang memerlukan, sekaligus membagi waktu dan perhatian untuk mendengar keluh kesah warga secara langsung. Dua hal ini ia yakini sebagai kunci menyelesaikan masalah desa yang sesungguhnya.

banner 336x280

Blusukan: Mendengar Sebelum Memutuskan
Di sela-sela agenda padat persiapan Pilkades 2026, Mas Samrodin rutin meluangkan waktu untuk turun ke lapangan. Ia tidak hanya datang saat ada acara resmi, tetapi juga hadir di momen-momen informal: di teras rumah warga lansia, di pinggir sawah saat petani istirahat, atau di angkringan tempat pemuda berkumpul.

“Banyak masalah di Gentan yang tidak terlihat dari balik meja kantor. Kita harus datang, duduk, dan mendengarkan sendiri. Keluh kesah warga tentang kebutuhan pokok, akses jalan rusak, atau kesulitan mengurus surat, baru bisa ditemukan solusinya kalau kita benar-benar hadir di tengah mereka,” ujar Mas Samrodin usai mengunjungi seorang janda tua di desa Gentan.

Dalam setiap kunjungan, ia selalu membawa paket sembako atau bantuan tunai simbolis bagi warga yang sedang menghadapi musibah atau keterbatasan ekonomi. Namun, yang lebih ia tekankan adalah kehadiran fisiknya. “Bantuan materi itu penting, tapi kehadiran pemimpin yang mau mendengar itu lebih berharga. Itu bentuk berbagi yang memanusiakan,” tambahnya.

Berbagi sebagai Fondasi Program Kerja
Filosofi berbagi yang dipraktikkan dalam blusukan ini menjadi dasar perumusan program unggulannya. Ketika warga mengeluhkan beban biaya hari raya, lahirlah program THR dari hasil pengelolaan aset desa. Ketika pelaku UMKM curhat soal sulitnya modal dan pemasaran, muncul inisiatif Gentan Berdaya. Ketika ibu-ibu lelah antre panjang demi surat pengantar, tercipta layanan digital via WhatsApp.

Setiap program adalah respons langsung atas apa yang didengarnya saat berbagi waktu dengan warga. “Saya tidak merancang program dari imajinasi. Semua lahir dari cerita-cerita warga yang saya dengar saat blusukan. Berbagi pengalaman itulah yang membuat kebijakan desa tepat sasaran,” jelasnya.

Membangun Kepercayaan Melalui Kedekatan
Pendekatan humanis ala Mas Samrodin ini ternyata efektif membangun kepercayaan publik. Warga merasa dihargai dan didengar, bukan sekadar dijadikan objek politik sesaat. Tokoh masyarakat Gentan, Pak Harjo (58), mengakui bahwa gaya kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan desa.

“Mas Samrodin itu beda. Dia nggak cuma janji pas kampanye, tapi sudah terbukti datang ke rumah-rumah, ngobrol santai, dan bantu yang butuh. Rasanya seperti punya saudara sendiri yang peduli,” ucap Pak Harjo.

Dengan terus menjaga tradisi blusukan dan semangat berbagi, Mas Samrodin ingin menegaskan bahwa kepemimpinan desa yang baik dimulai dari hati yang terbuka dan tangan yang siap memberi. Bagi beliau, solusi atas segala persoalan Gentan akan selalu bermula dari keberanian untuk turun ke bawah, berbagi beban, dan tumbuh bersama warganya. (*/ian)

banner 336x280