Mangkunegaran Gelar Dhaup Ageng Gusti Sura & Adimas Rosdian: Merawat Tradisi, Berbagi Kebahagiaan dengan Masyarakat Solo

Berita, Budaya65 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Pura Mangkunegaran kembali menjadi pusat perhatian budaya nasional jelang pelaksanaan Dhaup Ageng (pernikahan agung) G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian. Rangkaian hajat dalem ini tidak hanya menandai penyatuan dua insan dan dua keluarga besar, tetapi juga menjadi momen penting dalam merawat warisan tradisi Jawa yang terus dipraktikkan lintas generasi.

Acara puncak pernikahan akan berlangsung pada 3–7 November 2026, dengan prosesi sakral seperti Sengkeran, Siraman, Midodareni, hingga Dhaup Suci dan Panggih pada 6 November. Sebagai putri dalem K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX dan kakak dari Pengageng saat ini, perjalanan Gusti Sura menuju rumah tangga disertai tata cara yang sarat makna doa, restu, dan tanggung jawab moral.

banner 336x280
Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, R.Ay.T. Ayu Rosetyastutii

Kirab Pengantin: Jembatan Keluarga dan Masyarakat
Salah satu momen yang paling dinantikan adalah Kirab Pengantin yang dijadwalkan pada Sabtu, 7 November 2026, mulai pukul 16.00 WIB. Kirab ini bukan sekadar parade, melainkan wujud keterbukaan keluarga keraton terhadap masyarakat. Kedua mempelai akan diarak menggunakan busana Kasatriyan disertai barisan bregada dan alunan gamelan, memberikan kesempatan bagi warga Solo untuk turut menyambut dan menyampaikan pangestu (doa restu).

“Kirab menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya. Susunan iring-iringan, busana, dan tata lakunya merupakan bagian dari tradisi yang kami jaga agar tetap hidup,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti.

Terdapat tiga kereta yang digunakan untuk kirab, masing-masing namanya adalah kereta Glasslandauer, Landaulet Dan Berline I. Susunan barisan kirab: parabregada, disusul kereta Glasslandauer yangditumpangi oleh kedua mempelai.Selanjutnya, terdapat kereta Landaulet yangditumpangi oleh G.K.P. Mangkoenagoro IX dan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, serta kereta Berline I untuk tumpangan K.P.Yustinus Soeroso dan Ibu Yustina Rahyuni sebagai besan. Rute kirab: Regol Selatan -Jl. Ronggowarsito – Jl. Gajah Mada – Jl.Slamet Riyadi – Gladak – Jl. Ronggowarsito- Regol Selatan.

Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Drs. Tjuk Susilo, MPA

Mangayubagyo: Berbagi Rasa dan Jamuan untuk 2.000 Warga
Sebagai ungkapan syukur, Mangkunegaran menyelenggarakan Mangayubagyo Dhaup Ageng bertajuk “Srawung Kabagyan” di Pamedan Pura Mangkunegaran pada 6–8 November. Acara ini mengusung semangat Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu (menyambung rasa, bersatu dalam doa restu).

Wujud nyata kebersamaan ini terlihat dari pembagian Segahan Pahargyan (jamuan makan) kepada sekitar 2.000 orang setiap harinya. Jamuan yang melibatkan pelaku UMKM lokal ini dibagikan kepada warga dari lima kecamatan di Surakarta serta panti asuhan dan panti wreda. Selain itu, masyarakat dapat menyampaikan doa melalui Buku Pangestu, Pohon Pangestu, dan Suwanten Pangestu yang akan diserahkan langsung kepada kedua mempelai.

Seni Budaya sebagai Jiwa Tradisi
Keseluruhan rangkaian acara diperkaya dengan sajian seni klasik gaya Mangkunegaran. Mulai dari tari Langenpraja, pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional, hingga persembahan dari lima kabupaten yang memiliki ikatan sejarah dengan Mangkunegaran. Pada prosesi Panggih, kedua mempelai akan mengenakan Dodot Ageng Bango Buthak, simbol keagungan dan kesakralan pernikahan adat Jawa.

Melalui Dhaup Ageng ini, Mangkunegaran menegaskan bahwa tradisi bukanlah artefak masa lalu, melainkan praktik hidup yang relevan. Keramahan, kebudayaan, dan doa yang mengalir dalam setiap prosesi membuktikan bahwa nilai-nilai luhur tetap mampu menyatukan keluarga keraton dengan masyarakat modern di Kota Solo. (*/ian) 

banner 336x280