JATENGONLINE, BANTUL—Minyak atsiri dari sereh wangi ( Cymbopogon nardus ) telah menjadi komoditas andalan bagi UKM Shafaluna di Dlingo, Bantul. Sejak didirikan secara legal pada tahun 2020, UKM ini memiliki 360 anggota yang tersebar di wilayah Bantul dan mengolah lahan seluas 400 hektare untuk membudidayakan sereh wangi.
Setiap bulannya, UKM Shafaluna mampu memproduksi 200 liter minyak atsiri. Namun, di balik kesuksesan produksi minyak, terdapat satu masalah besar: limbah cair penyulingan yang disebut hidrosol. Selama bertahun-tahun, hidrosol ini dibuang begitu saja ke saluran air karena dianggap tidak memiliki nilai jual, meskipun masih memiliki aroma sereh wangi yang kuat.
Padahal, hidrosol masih mengandung sekitar 0,2% minyak atsiri dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan jika dibuang sembarangan. Melihat potensi yang terabaikan ini, tim pengabdian masyarakat dari Politeknik Indonusa Surakarta turun tangan. Tim yang dipimpin oleh Ester Dwi Antari ini berupaya mengubah limbah hidrosol menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Solusi Tiga Pilar: Edukasi, Produksi, dan Pemasaran Program pengabdian ini berfokus pada tiga pilar utama yaitu:
Yang pertama Edukasi dan Penyuluhan: Tim memberikan penyuluhan kepada 62 anggota kelompok tani UKM
Shafaluna tentang manfaat hidrosol sereh wangi. Materi disajikan dengan metode
ceramah dan diskusi yang interaktif, membuat para peserta sangat antusias.
Kedua yaitu Pelatihan Produksi: Untuk mengoptimalkan proses, tim Politeknik Indonusa Surakarta memberikan satu set mesin filling hidrosol dan melatih anggota UKM cara menggunakannya.Ini menjadi langkah krusial untuk proses pengemasan yang lebih efisien.
Ketiga Pelatihan Pemasaran Digital: Tim juga memberikan pelatihan intensif tentang cara memasarkan produk hidrosol melalui media sosial dan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia.
Hasil Nyata: Dari Limbah Menjadi Laba
Kerja keras ini membuahkan hasil yang luar biasa. Indikator keberhasilan yang paling
mencolok adalah peningkatan nilai ekonomi bagi UKM Shafaluna. Pemanfaatan Limbah
yang dilakukan Dalam satu bulan, UKM Shafaluna berhasil menampung 10.000 liter
hidrosol yang sebelumnya dibuang.
Peningkatan Penjualan yang dirasakan Setelah mendapatkan pelatihan, UKM Shafaluna sukses menjual 1.000 liter hidrosol dalam sebulan melalui marketplace dan media sosial. Zero Waste Tercapai: Program ini membantu UKM Shafaluna mewujudkan target produksi “zero waste” dengan mengubah limbah cair menjadi produk yang laku di pasaran.
Optimalisasi proses penyulingan ini telah tercapai, membuka peluang baru bagi UKM
Shafaluna untuk terus mengembangkan produk turunan hidrosol di masa depan. Dengan inovasi ini, limbah yang tadinya tidak berguna kini telah menjadi sumber penghasilan baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan dampak positif bagi lingkungan. (*/ian)






























