Tanamkan Nilai Pendidikan Karakter dan Kemandirian Siswa Sekolah, Melalui MBG Dinas Dikbud Sukoharjo-YASMI Luncurkan Program Gizi BerKarsa 

Berita, Pendidikan670 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Godog, Sutardi, suport penuh atas peluncuran program Gizi BerKarsa yang dilakukan di SDN Pranan 01, Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Sabtu (10/1/2026)

Menurut Suhardi, bahwa keberhasilan awal implementasi program Gizi BerKarsa (Gizi Berbasis Karakter dan Ketahanan Pangan Sekolah) itu bisa sukses bila mendapat dukungan signifikan dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo beserta seluruh jajarannya. Mulai dari para Kabid, Pengawas, Kepala Sekolah, Guru, hingga siswa memberikan dukungan positif yang menjadikan program ini game changer dalam penguatan budaya sekolah.

banner 336x280

“Program ini dijalankan oleh dapur SPPG Godog dan sekolah dalam mendukung penguatan pendidikan karakter MBG.” kata Sutardi, ditemui di SPPG nya usai launching Gizi BerKarsa.

Selama ini, lanjut Sutardi, sekolah dan siswa sebagai objek dalam pelaksanaan program MBG yang telah bergulir selama kurang lebih satu tahun dan SPPG Godog terbukti meningkatkan pertumbuhan ekonomi warga sekitar.

“Adanya lapangan kerja baru. Banyak janda-janda yang sebelumnya menganggur tertolong bisa kerja membantu dapur SPPG ,” tutur Sutardi

Program Gizi BerKarsa mengubah paradigma tersebut dengan menempatkan sekolah dan siswa sebagai subjek aktif pembelajaran pendidikan karakter.

“Kami ingin menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dan kemandirian bagi para siswa. Jadi, ompreng yang telah dicuci di sekolah tetap akan dicuci ulang di dapur SPPG. Higienitas tetap nomor satu,” terang dia.

Sementara Ketua Yayasan Smart Madani Indonesia Dr Sri Kalono
mengatakan program Gizi BerKarsa merupakan inovasi pendidikan yang tidak hanya mendukung pemenuhan gizi  melainkan membangun karakter anak didik, tanggung jawab, dan kemandirian para siswa di sekolah.

“Kepala sekolah, guru dan pengawas memberikan dukungan positif dalam penguatan budaya sekolah. Termasuk membangun karakter dan kemandirian para siswa,” katanya

Para siswa yang menyantap menu makanan program MBG dilatih untuk mencuci tempat makan atau ompreng sendiri dan memilah sisa makanan. Mereka juga dilatih untuk membuat pupuk organik dari sisa makanan.

Menurut Dr Kalono pendekatan transformatif yang menitikberatkan pada pendidikan karakter dibutuhkan bagi generasi penerus bangsa.

Biasanya, setelah menyantap menu makanan program MBG, siswa hanya meletakkan ompreng di depan ruang kelas.

“Melalui program Gizi BerKarsa, para siswa membawa ompreng ke belakang sekolah untuk memilah sisa makanan dan mencuci ompreng sendiri,” pungkasnya. (*/ian) 

banner 336x280