JATENGONLINE, SUKOHARJO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo berkolaborasi dengan Yayasan Smart Madani Indonesia menginisiasi program gizi berbasis karakter dan ketahanan pangan sekolah melalui program Gizi BerKarsa, di SDN Pranan 01, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo. Sebagai upaya menggerakan program penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program membangun pendidikan karakter dan kemandirian siswa Gizi BerKarsa kali pertama dilaunching sebagai pilot project di sekolah tersebut. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (10/1/2026) dihadiri Kepala Disdikbud Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo, pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Godog Sutardi, Ketua Yayasan Smart Madani Indonesia Sri Kalono.
Pada kesempatan itu, Kepala Disdikbud Sukoharjo, Havid Danang Purnomo Widodo mengatakan, program Gizi BerKarsa tersebut merupakan inovasi pendidikan yang tidak hanya mendukung pemenuhan gizi , namun juga membangun karakter, tanggung jawab, dan kemandian para siswa di sekolah.
“Kepala sekolah, guru dan pengawas memberikan dukungan positif dalam penguatan budaya sekolah. Termasuk membangun karakter dan kemandirian para siswa.” papar Danang.
Para siswa, lanjutnya, sebelum makan menu makan program MBG yang disajikan, terlebih dahulu harus mencuci tangan, setelah makan juga harus membersihkan tempat makannya.
Kepala SDN 01 Pranan, Binar Kustanti, SPd. menambahkan, usai makan MBG siswa harus memilah sisa makanan ditempat sampah yang sudah disediakan, nantinya sisa makanan itu akan digunakan untuk membuat pupuk organik.
“Sebelum uji coba dilakukan, sekolah terlebih dahuulu berkoordinasi dengan wali murid dan akhirnya disetujui,” jelasnya
Ini merupakan langkah pendekatan transformatif, lanjut Binar, yang menitikberatkan pada pendidikan karakter dan dibutuhkan bagi generasi penerus bangsa.
“Biasanya, setelah makan, siswa hanya meletakkan tempat makannya di depan ruang kelas. Melalui program Gizi BerKarsa ini, kemudian membawanya kebelakang saja,” tandasnya
Sedangkan secara terpisah Pengelola dapur SPPPG Godog, Sutardi menyampaikan, program ini dijalankan oleh dapur SPPG Godog dan sekolah dalam mendukung penguatan pendidikan karakter MBG. Selama ini, sekolah dan siswa sebagai objek dalam pelaksanaan program MBG yang telah bergulir selama kurang lebih satu tahun.
Untuk itu, Program Gizi BerKarsa mengubah paradigma tersebut dengan menempatkan sekolah dan siswa sebagai subjek aktif pembelajaran pendidikan karakter.
“Kami ingin menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dan kemandirian bagi para siswa. Jadi, ompreng yang telah dicuci di sekolah tetap akan dicuci ulang di dapur SPPG. Higienitas tetap nomor satu,” terangnya
Ketua Yayasan Smart Madani Indonesia, Dr Sri Kalono menjelaskan, implementasi program Gizi BerKarsa diawali dengan pemasangan sarana dan prasarana tempat cuci dan pelatihan membuat pupuk organik dari sisa makanan yang dilakukan para siswa. Hingga sekarang sudah ada 4 sekolah sebagai pilot project program Gizi BerKarsa di wilayah Sukoharjo.
Para siswa, setelah menyantap makanan diharuskan memcuci tempat makanya masing-masing. Keempat sekolah itu masing-masing TK Godog 1 Polokarto, SDN Godog 01 Polokarto, SDN Pranan 01 Polokarto, dan SMPN 3 Polokarto.
“Penekanan program ini adalah membangun pendidikan karakter dan nilai-nilai kedisplinan serta kemandirian bagi para siswa. Hal ini diajarkan lewat program MBG di sekolah setiap hari,” paparnya
Sri Kalono berharap program ini menjadi model praktik pembelajaran pendidikan karakter siswa berbasis sekolah. Model praktik ini bisa diterapkan di sekolah lain di setiap daerah di Tanah Air.
Beberapa sekolah di Gunung Kidul, DIY dan Kota Bekasi, Jawa Barat yang ingin menerapkan program ini. “Cara ini kedepanya bisa diikuti oleh setiap sekolah, ” tegasnya. (*/ian)

























