Penyerahan wayang kulit dari Walikota Surakarta Respati Ardi kepada Dalang Ki Amar Pradopo di saksikan rektor UTP Prof Winarti, Kamis (16/7/2026) malam.
JATENGONLINE, SOLO – Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya Jawa melalui pagelaran seni tradisional. Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-46 sekaligus menyambut malam 1 Suro 1960 Saka (Tutup Suro), UTP menggelar pergelaran wayang kulit dengan lakon “Pandawa Syukur” pada Kamis, 16 Juli 2026.
Acara yang dimulai pukul 18.30 WIB ini menghadirkan dalang kondang Ki Amar Pradopo, S.I.Kom sebagai dalang, lakon “Pandawa Syukur” dipilih secara khusus karena mengandung pesan moral tentang rasa terima kasih, introspeksi diri, dan harapan akan keberkahan di tahun baru Jawa, yang sangat relevan dengan semangat Dies Natalis perguruan tinggi.
Harmoni Akademik dan Budaya
Rektor UTP Surakarta, Prof. Dr. Dra. Winarti, M.Si. menyatakan, bahwa kolaborasi antara perayaan akademik dan tradisi budaya merupakan wujud nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian masyarakat dan pelestarian kebudayaan.
“Wayang bukan sekadar tontonan, melainkan media pendidikan karakter. Di momen Tutup Suro ini, kita diajak untuk bermuhasabah dan mensyukuri pencapaian selama satu tahun terakhir, sekaligus berdoa agar tahun depan membawa kebaikan bagi civitas akademika dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Antusiasme Masyarakat
Lokasi pertunjukan di kampus UTP Surakarta dipadati oleh ratusan penonton, mulai dari mahasiswa, dosen, alumni, hingga warga masyarakat sekitar. Suasana khidmat terasa saat Ki Amar Pradopo membawakan adegan-adegan sakral menjelang pergantian tahun Saka, diselingi dengan candaan segar yang khas dari gaya pedhalangan Slenk.
Selain sebagai hiburan, acara ini juga menjadi sarana silaturahmi antar elemen masyarakat. Panitia juga menyediakan berbagai stan kuliner dan pameran produk UMKM binaan UTP, sehingga gelaran wayang ini turut menggerakkan ekonomi lokal.
Pelestarian Warisan Leluhur
Melalui event tahunan ini, UTP Surakarta berharap dapat terus menanamkan kecintaan terhadap wayang kulit di kalangan generasi muda. Kehadiran dalang muda berprestasi seperti Ki Amar Pradopo diharapkan mampu menjembatani nilai-nilai luhur tradisi dengan selera kontemporer tanpa menghilangkan pakem aslinya.
Pagelaran wayang kulit Dies Natalis UTP dan Tutup Suro ini resmi ditutup sekitar pukul 04.00 WIB dini hari dengan doa bersama dan pembagian berkah, menandai dimulainya lembaran baru tahun 1960 Saka yang penuh harapan. (*/ian)






























