Terancam Bubar di Seri ke-20, Event Sabtu Malam Pasar Jongke Terjepit Biaya Listrik dan Minimnya Dukungan UMKM

Berita, Pernik75 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO  – Ambisi mengubah halaman parkir dan koridor depan Pasar Jongke menjadi destinasi weekend yang hidup terancam kandas. Event rutin yang digelar setiap Sabtu malam kini berada di persimpangan jalan. Setelah melewati seri ke-14 dengan peserta yang stagnan di angka belasan—jauh dari target Break Even Point (BEP) sebanyak 30 stan—penyelenggara menetapkan ultimatum: jika hingga seri ke-20 respons masih minim, event ini terpaksa harus dievaluasi total atau bahkan dibubarkan.

Bazar Kulineran Minang-Jawa di Pasar Jongke beberapa waktu lalu

Dari Kuliner ke Hiburan: Strategi Bertahan Hidup                                              Penyelenggara dan penggagas, Yayok Aryoseno mengakui, bahwa orientasi usaha event ini telah bergeser. Awalnya fokus pada bazar kuliner murni, kini konsep diubah menjadi kombinasi bazar kuliner dan pertunjukan musik hidup (live music). Tujuannya untuk menciptakan daya tarik yang lebih kuat bagi pengunjung. Bahkan, ada wacana untuk mencari investor guna menghadirkan wahana permainan atau games nostalgia serupa THR (Taman Hiburan Rakyat) tempo dulu sebagai magnet utama.

banner 336x280

Namun, perubahan konsep ini belum mampu menutupi fundamental masalah yang membelit. Lokasi yang tidak strategis (not one trap), daya beli calon pengunjung yang rendah, serta ketiadaan infrastruktur listrik permanen menjadi penghambat utama.

Bazar Kulineran Minang-Jawa di Pasar Jongke beberapa waktu lalu

Beban Listrik dan Ego Sektoral UMKM    Kendala paling mendesak saat ini adalah ketersediaan listrik. Karena tidak ada colokan resmi dari pasar, penyelenggara harus menyewa genset pribadi dengan biaya yang sangat memberatkan.

“Sewa genset itu mahal. Untuk BEP saja butuh minimal 30 UMKM, tapi pesertanya tidak pernah lebih dari 15. Saya sudah nombok biaya listrik di awal-awal, tapi kalau terus begini tidak akan sustain,” ujar Yayok.

Ironisnya, kesulitan ini tidak diimbangi dengan solidaritas antar-pedagang. Paguyuban Pasar Jongke maupun Pasar Kabangan tercatat tidak ada yang mau berpartisipasi aktif. Ego sektoral antar-UMKM lainnya juga membuat kolaborasi sulit terjalin; mereka cenderung saling mendukung kelompoknya sendiri alih-alih membangun ekosistem pasar secara bersama-sama. Akibatnya, jumlah peserta mandek di angka 10-an per minggu.

Bazar Kulineran Minang-Jawa di Pasar Jongke beberapa waktu lalu

Harapan Tipis pada Pemkot: Butuh 20 Ribu Token Saja                                                           Di tengah kebuntuan ini, penyelenggara masih menggantungkan harapan pada intervensi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Permintaannya tergolong sederhana: akses penggunaan listrik dari Pasar Jongke untuk keperluan event. Estimasi biayanya pun sangat kecil, hanya sekitar Rp20.000 per acara jika menggunakan sistem token.

“Kami harap Pemkot bisa memfasilitasi paguyuban UMKM untuk didukung ikut acara ini. Kebutuhannya sangat minim, tapi dampaknya besar bagi keberlangsungan event,” tegasnya.

Tanpa dukungan infrastruktur dasar dan ego sektoral para pedagang, mimpi menghidupkan malam Sabtu di Pasar Jongke mungkin hanya akan tinggal kenangan. Seri ke-20 nanti akan menjadi penentuan: apakah event ini bubar opo terus” (bubar atau terus).

Meski demikian di seri Malam Minggu ke 15 nya ini Yayok masih berupaya untuk menampilkan konsep event yang berbeda yakni, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, akan menggelar acara bertajuk “Bazar Raya Pasar Jongke”. Event yang mengusung tema “Mari ke Jongke” Sabtu, 8 Agustus 2026, mulai pukul 16.00 hingga 23.00 WIB di Pelataran Pasar Jongke.

Acara ini menawarkan konsep hiburan yang lengkap, memadukan kuliner, kerajinan tangan (craft), fashion, dan komunitas. Sebagai daya tarik utama, panitia menghadirkan pertunjukan musik spesial “Tribute Iwan Fals” yang akan dibawakan oleh grup musik Solo Fals Mania. Kehadiran mereka diharapkan dapat membangkitkan nostalgia dan semangat kemerdekaan bagi pengunjung.

Selain hiburan musik, Bazar Raya Pasar Jongke juga memanjakan lidah pengunjung dengan beragam pilihan tenant kuliner lokal maupun modern. Daftar tenant yang hadir meliputi Tongseng Ceker, Thaitea, Bakso, Es Krim, Susu Segar, Pizza, Kebab, Max and Cheese, Nasi Kebuli, Katsu Paru, Oseng Koyor, Es Pisang Ijo, Es Coklat, Kopi, Toast, Sate Kere, Dimsum Mentai, Long Potato, hingga Donut Kentang. Tidak hanya makanan, tersedia juga stan fashion dan craft untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup warga Solo.

Untuk menghibur keluarga dan anak-anak, panitia juga menyediakan wahana bermain anak berupa Remot Control (RC) dan area mewarnai. Hal ini menjadikan event tersebut cocok sebagai destinasi wisata malam bagi seluruh kalangan usia.

Melalui Bazar Raya Pasar Jongke, diharapkan dapat menghidupkan kembali suasana pasar tradisional sekaligus menjadi wadah bagi UMKM lokal untuk karya dan produk terbaik mereka kepada masyarakat luas. (*/ian) 

banner 336x280