Long Stay Tourism sebagai Strategi Pemulihan Kinerja Pariwisata Surakarta

banner 468x60

Oleh: M. FARID SUNARTO – Wakil Ketua Kadin Kota Surakarta

JATENGONLiNE – Hotel mulai ramah, tapi belum meriah. Data terbaru BPS Kota Surakarta memberikan gambaran penting mengenai arah kinerja sektor perhotelan dan pariwisata kota ini. Pada Oktober 2025, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang naik dari bulan sebelumnya, dari 49,52% menjadi 53,88%. Kenaikan ini menunjukkan pemulihan aktivitas wisata dan MICE dalam jangka pendek.

banner 336x280

Namun, TPK mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya (Oktober 2024), turun 3,84 poin dari posisi 57,72%, yang mengindikasikan bahwa pemulihan ini belum bersifat struktural. Selain itu, rata-rata lama menginap (RLM) hotel bintang menurun dari 1,48 hari menjadi 1,45 hari, dan hotel non-bintang dari 1,11 hari menjadi 1,10 hari

Data ini menunjukkan bahwa wisatawan cenderung hanya singgah, bukan tinggal lebih lama untuk menikmati pengalaman destinasi. Temuan ini harus menjadi dasar penyusunan strategi baru berbasis pengalaman (experience-driven tourism) dan long stay tourism. Pada saat yang sama, kedatangan penumpang melalui Bandara Adi Soemarmo meningkat 5,00% dibanding bulan sebelumnya, dengan total 40.228 penumpang domestik Ini adalah sinyal positif bahwa mobilitas masuk ke Surakarta meningkat.

Namun kenaikan mobilitas ini belum sepenuhnya terkonversi menjadi peningkatan durasi menginap maupun belanja wisatawan. Artinya, aksesibilitas sudah membaik, tetapi pengalaman wisata kota belum cukup kuat untuk mendorong wisatawan menetap lebih lama. Untuk kota yang memiliki potensi besar di sektor budaya, kuliner, sejarah, dan MICE, gap ini merupakan peluang strategis untuk ditutup melalui inovasi kebijakan dan sinergi multipihak.

Solo Itu Menarik, Tapi Masih Kurang Alasan Buat Lama-Lama
Dari sudut pandang ekonomi, long stay tourism memberikan dampak berlipat dibanding kunjungan singkat. Wisatawan yang tinggal tiga hingga lima hari akan membelanjakan lebih banyak pada sektor hotel, kuliner, transportasi, UMKM, dan atraksi budaya. Untuk itu, Kadin Kota Surakarta mendorong pemerintah Kota Surakarta untuk memperkuat paket wisata tematik seperti heritage trail, kuliner, wellness, kampung wisata budaya, serta paket yang melibatkan pelaku seni lokal.

Selain itu, perbaikan layanan last-mile transport seperti Batik Solo Trans, shuttle hotel, konektivitas antar objek wisata, dan integrasi perjalanan KA juga menjadi faktor penentu kenyamanan wisatawan dalam memperpanjang masa tinggal.

Selain itu, Solo perlu menghadirkan “anchor experience” yang membuat wisatawan merasa sayang untuk pulang cepat. Kota ini sebenarnya memiliki banyak modal budaya, sejarah, dan kreativitas, tetapi masih perlu dikemas menjadi signature experience yang hanya bisa ditemui di Surakarta. Misalnya, menghadirkan rangkaian agenda malam seperti Solo Night Cultural Route, pertunjukan seni terjadwal di ruang publik, paket living culture di kampung batik, workshop kerajinan, hingga pengalaman kuliner khas yang dikurasi.

Ketika wisatawan mendapat pengalaman unik yang tidak mereka temukan di kota lain mulai dari interaksi budaya, suasana kota yang humanis, hingga storytelling sejarah yang kuat mereka punya alasan emosional dan rasional untuk memperpanjang tinggal di Solo. Inilah yang akan menjadi pembeda dan membuat Solo bukan hanya kota singgah, tetapi kota yang layak dinikmati lebih lama.

Pentahelix: Kalau Kompak, MICE Bisa Melompat
Penting juga menyoroti sektor MICE, yang terbukti menjadi kontributor kenaikan okupansi hotel bintang 4 dan 5 pada Oktober 2025. Data BPS menunjukkan hotel kelas ini mengalami kenaikan TPK bulanan sebesar 6,17 poin.

Kadin menilai bahwa Pemerintah Kota Surakarta perlu mendorong MICE sebagai engine of growth bagi sektor jasa. Langkah konkret mencakup penyusunan annual MICE calendar, pemberian insentif bagi penyelenggara event skala nasional seperti Soloraya Great Sale, penguatan venue, serta peningkatan standar layanan.

Kota Surakarta memiliki reputasi kuat sebagai Kota Event; karena itu, pendekatan jangka panjang berbasis event sustainability harus dirumuskan dengan matang.
Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas-stakeholder, yang menjadi tanggung jawab penting kepala daerah untuk mengorkestrasi.

Ekosistem pariwisata tidak dapat bergerak optimal tanpa kolaborasi model Pentahelix: (1) Pemerintah, (2) Pelaku Usaha, (3) Akademisi, (4) Komunitas/Media, dan (5) Asosiasi Profesional. Kolaborasi tersebut harus diarahkan untuk membangun pola kerja bersama yang terintegrasi, mulai dari penyusunan agenda wisata, pembiayaan, pemasaran digital, hingga manajemen event kota.

Dalam konteks ini, PHRI Kota Surakarta memiliki peran strategis yang perlu dioptimalkan. Tidak hanya sebagai asosiasi hotel dan restoran, tetapi juga sebagai co-creator dalam pembangunan ekosistem pariwisata kota. PHRI dapat memperkuat business intelligence sektor perhotelan, menyusun data pasar bersama, mengembangkan paket bundling akomodasi dan atraksi, serta menjadi mitra aktif pemerintah dalam menciptakan inovasi layanan.

Kadin mendorong PHRI untuk lebih proaktif dalam strategi pemasaran digital kolektif, standardisasi layanan, serta pengembangan pengalaman tamu berbasis narasi budaya Surakarta.

Pada akhirnya, data BPS harus dipahami bukan sekadar angka, tetapi sebagai instrumen navigasi. Kenaikan okupansi bulanan adalah momentum, sedangkan penurunan tahunan adalah peringatan. Kota Surakarta memiliki peluang besar untuk memperkuat kualitas pariwisata, meningkatkan lama tinggal, dan menjadikan MICE sebagai lokomotif ekonomi daerah. Dengan strategi yang terarah, kebijakan yang responsif, dan kolaborasi lintas-stakeholder yang solid, pariwisata Surakarta dapat bertransformasi dari sekadar “kota persinggahan” menjadi “kota pengalaman” yang berdaya saing dan berkelanjutan. (*) 

banner 336x280