JATENGONLINE, SOLO – Perekonomian Soloraya dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan geliat yang cukup nyata. Aktivitas perdagangan dan jasa meningkat, UMKM tumbuh, pariwisata dan event semakin ramai, serta infrastruktur dasar terus diperbaiki. Kondisi ini patut diapresiasi. Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang tidak boleh dihindari: apakah Soloraya benar-benar sedang naik kelas, atau hanya tumbuh tanpa fondasi yang kokoh?
Pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tetapi hingga kini sebagian besar masih bertumpu pada konsumsi dan aktivitas jangka pendek. Nilai tambah ekonomi banyak yang tidak bertahan di dalam kawasan. Produk diproduksi di luar, keuntungan mengalir keluar, sementara Solo Raya sering kali hanya berperan sebagai pasar. Kota dan Kabupaten di Soloraya masih bergerak dengan logika masing-masing. Jika pola ini dibiarkan, Soloraya berisiko terjebak pada ilusi kemajuan-ramai di permukaan, rapuh di struktur.
Ketua Kadin Surakarta, Ferry S. Indrianto menyampaikan, bahwa tahun 2026 menjadi momentum yang sangat krusial, karena bertepatan dengan fase transisi perencanaan pembangunan daerah RPJMD.
“Pada titik inilah Soloraya dihadapkan pada pilihan strategis melanjutkan cara lama yang terfragmentasi, atau berani mengubah arah menuju ekonomi kawasan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan.” kata Ferry.
OUTLOOK 2026 – Kawasan Industri: Konsolidasi Mesin Ekonomi
Kerja sama kawasan tidak akan berjalan tanpa mesin ekonomi yang nyata. Disinilah peran kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi sangat menentukan. Kawasan industri bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan instrumen untuk memastikan proses produksi, pengolahan, dan penciptaan nilai tambah berlangsung di dalam kawasan.
“Tanpa kawasan industri yang terintegrasi, Soloraya akan terus berisiko menjadi pasar bagi produk dari luar wilayah, sementara nilai tambah dinikmati daerah lain.” jelas Ferry.
Dampaknya, lanjut Ferry, bukan hanya pada pendapatan daerah, tetapi juga pada kualitas lapangan kerja dan daya saing jangka panjang.
Sebaliknya, kawasan industri yang terencana dan terintegrasi akan membuka peluang kerja yang lebih luas, menghubungkan UMKM ke rantai pasok industri, serta memastikan ekonomi lokal memperoleh nilai tambah yang signifikan. Tanpa keputusan strategis terkait kawasan industri pada periode perencanaan 2025-2026, Soloraya berisiko kehilangan momentum investasi hingga satu dekade ke depan.
Reorientasi Sumber Daya Lokal: Dunia Usaha adalah Bangunan Utama dari Pertumbuhan.
Reorientasi ini menuntut perubahan cara pandang dari ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi dan proyek jangka pendek, menuju ekonomi yang dibangun oleh ekspansi kapasitas dunia usaha lokal. Pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak ditentukan oleh ramainya aktivitas ekonomi, melainkan oleh bertumbuhnya dunia usaha sebagai bangunan utama perekonomian kawasan. Tanpa itu, ekonomi hanya bergerak, tetapi tidak membentuk struktur nilai tambah yang berkelanjutan.
Sehingga sumber daya lokal Soloraya (tenaga kerja, pelaku usaha, UMKM, lahan, dan modal) bukan sekedar faktor pendukung program, melainkan ditempatkan sebagai instrumen utama pembentuk struktur ekonomi, yang pada akhirnya menentukan arah dan kualitas pertumbuhan ekonomi.
Identitas: Diferensiasi Ekonomi yang Tidak Bisa Ditiru
Soloraya memiliki kekuatan khas yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yaitu identitas budaya dan sejarah. Surakarta dengan Keraton bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan aset strategis untuk membangun ekonomi berbasis identitas. Pariwisata berkualitas, ekonomi kreatif, dan sektor jasa akan jauh lebih kuat jika bertumpu pada identitas yang jelas dan berkarakter. Identitas yang dikelola dengan baik bukan romantisme, melainkan diferensiasi ekonomi yang tidak mudah ditiru oleh daerah lain. Tanpa identitas yang kuat, Soloraya akan mudah tersaingi oleh kawasan lain yang menawarkan produk serupa.
2026: Titik Balik atau Kesempatan yang Terlewat
Solo Raya tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah kesepahaman arah dan keberanian untuk melangkah bersama. Tahun 2026 memberi kesempatan bagi pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menyusun kembali cara bekerja dan cara tumbuh.
Aglomerasi adalah sistem kerja bersama. Kawasan industri adalah mesin penggeraknya. Sumber daya lokal adalah tenaga pendorongnya. Identitas adalah pembeda yang memberi nilai lebih.
Jika seluruh unsur ini dijalankan secara konsisten, Soloraya tidak hanya akan tumbuh, tetapi naik kelas sebagai kawasan ekonomi yang kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan di Jawa Tengah.
“Tahun 2026 bukan soal program baru, melainkan keberanian mengubah cara bekerja: dari berjalan sendiri, menjadi bergerak sebagai satu kawasan.” pungkas Ferry. (*/ian)

























