Momen Lebih Menguntungkan, Hotel Mulai Persiapkan Paket Idul Fitri

Berita, Horeka736 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Industri perhotelan berharap momen Lebaran 2026 jauh lebih baik dibandingkan perolehan Nataru 2025, didorong oleh optimisme pemulihan sektor pasca-tahun sulit.

Pada Nataru 2025/2026, okupansi hotel dinilai “masih berat” dan gagal mendongkrak kinerja signifikan akibat tantangan struktural seperti efisiensi anggaran pemerintah, penurunan mobilitas, dan tekanan ekonomi—dengan proyeksi penurunan occupancy hingga 20% di beberapa wilayah seperti Yogyakarta, Bali, dan Solo.

banner 336x280

Sementara, klaim bahwa tidak semua hotel menggelar program paket Natal dan Tahun Baru karena tidak menguntungkan memiliki dasar yang kuat, terutama di tengah pergeseran perilaku konsumen dan tantangan ekonomi. Meskipun ada harapan akan peningkatan wisatawan dan pendapatan selama Nataru, realitas profitabilitas dapat bervariasi antarhotel.

Petit Boutique Hotel Sol

Tantangan Profitabilitas Nataru 2025/2026
Pergeseran Perilaku Konsumen: Meskipun pemerintah memproyeksikan lonjakan wisatawan asing (1,36 juta hingga 2,1 juta pengunjung internasional) dan domestik (lebih dari 120 juta perjalanan) selama Nataru 2025/2026, yang berpotensi menghasilkan hingga Rp 29 triliun (US$1,83 miliar), perilaku belanja konsumen menunjukkan kehati-hatian.

Ada tren “frugal spending” dan peningkatan ketergantungan pada merek lokal, yang memengaruhi keputusan pembelian, termasuk untuk paket liburan. Bahkan Penjualan Natal dilaporkan “merangkak naik perlahan” di tengah kehati-hatian pengeluaran.

Kompetisi dan Tingkat Hunian: PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) memprediksi bahwa liburan Nataru 2025/2026 “masih berat” untuk mendongkrak kinerja industri perhotelan nasional, dengan tantangan struktural dan situasional membayangi tingkat hunian. Beberapa data menunjukkan bahwa tingkat hunian hotel di Indonesia selama Lebaran 2025 justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penurunan 20% di beberapa area seperti Yogyakarta, Bali, dan Solo. Meskipun InJourney Hospitality menargetkan okupansi 74-78% selama Nataru 2025/2026, ada juga proyeksi penurunan hingga di bawah 50% di beberapa wilayah

Biaya Operasional: Untuk hotel-hotel yang ingin menawarkan paket Nataru menarik, ada biaya tinggi yang terkait dengan dekorasi, hiburan khusus, staf tambahan, dan promosi. Jika tingkat hunian atau harga yang dapat dicapai tidak memenuhi target, investasi ini bisa menjadi tidak menguntungkan.

Lobi Petit Boutique Hotel

Dengan kondisi pasar yang dinamis, hotel perlu melakukan analisis yang cermat untuk memutuskan apakah paket Nataru akan menguntungkan. Beberapa hotel mungkin memilih untuk tidak berpartisipasi karena biaya yang tinggi dan prospek pengembalian yang tidak pasti, terutama jika target pasar mereka sangat sensitif terhadap harga atau jika mereka berlokasi di area dengan persaingan ketat dan permintaan yang lebih rendah.

General Manager Petit Boutique Hotel Solo, Wening Damayanti menyampaikan, di akhir tahun hotelnya tidak mengelar acara, menurutnya karna dekat dengan titik nol, dan tamu lebih memilih untuk jalan-jalan keluar.

“Kalau bikin acara malah bubruk (rugi), untuk okupansi bagus jelang akhir tahun. Mulai sebelum natal sudah naik. Semakin ke sini full tiap hari. Kenaikan harga ada tapi nggak terlalu tinggi, ya 30-40% dari publish rate,” terang Wening, Minggu (28/12/2025)

Diakui Wening, jika di awal-awal sempat pesimis, karena situasinya tidak menguntungkan. Untuk jelang akhir tahun 2025 penetapan harga nataru masih gojag gajeg. Belum berani spekulasi dan ternyata tamu mbludag. 

“Ya harga kita sesuaikan dengan kenaikan occ, dan itu hampir diterapkan sejumlah hotel di Solo. Didorong adanya tamu takut idak dapat hotel,” terang Humas PHRI Solo ini.

Ditanya seberapa signifikan pasar hotel ditaun depan, “2026 forecast nya belum terlihat. Di awal Januari seperti trend nya pasti turun. Februari puasa, pasti juga nggak bagus mengandalkan iftar. Nah lebaran, baru bisa berharap,” katanya.

Namun demikian Petit Boutique Hotel menyiapkan strategi khusus di 2026 yakni,
1. Menambah value untuk tamu, fasilitas-fasilitas di kamar dan area hotel dengan service yang lebih baik.
2. Push ke MICE dan F&B untuk subsidi silang kamar karena kemungkinan occ yang belum membaik.

“Bagian optimalisasi. Dan, harus putar otak bagaimana caranya yang penting running
Jangan sampai ada UPL. So far gak pernah unpaid leave walaupun ada pemangkasan anggaran. Belajar dari periode covid,” pungkasnya.

Untuk momen Idul Fitri atau Lebaran 2026, ekspektasi lebih tinggi dengan confidence revenue dan profitabilitas terkuat sejak pandemi, ditargetkan okupansi >70-80% dan potensi naik 20-30% dari rata-rata 50-60%).

Sektor hotel memproyeksikan pertumbuhan smarter melalui rate integrity, efisiensi operasional, dan F&B reinvented, dengan market size hospitality real estate dari USD 2,06 miliar (2025) ke USD 3,65 miliar (2030) CAGR 12,07%—didukung tourism dan kelonggaran regulasi. Ramadan/Lebaran tetap dorong spending FMCG makanan/minuman untuk iftar dan sahur, meski 2025 mudik turun 24% ke 146,48 juta orang.

PHRI optimis momentum awal 2026 krusial untuk sustain performance sepanjang tahun. Mulai saat ini, pelaku bisnis hotel bisa fokus strategi bundling staycation dan promo awal untuk transisi Nataru-Lebaran. (*/ian) 

banner 336x280