Harmoni Doa dan Sejarah: Njeng Sunan dan GM Petit Hotel Gelar “Umbul Donga” di Gedung Djoeang 45 Solo

Berita, Budaya67 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Gedung Djoeang 45 (DHC 45), Pasar Kliwon, Surakarta, saat acara “Umbul Donga” digelar. Kegiatan spiritual ini menghadirkan kolaborasi unik antara tokoh keraton, Njeng Sunan, dan perwakilan manajemen Petit Boutique Hotel, termasuk General Manager-nya, sebagai wujud syukur dan pelestarian nilai-nilai luhur di situs bersejarah tersebut.

Gedung Djoeang 45, yang kini berfungsi sebagai museum perjuangan sekaligus kawasan wisata heritage, dipilih sebagai lokasi karena makna filosofisnya yang mendalam. “Umbul Donga” bukan sekadar ritual doa biasa, melainkan upaya menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui ketenangan batin.

banner 336x280

Kehadiran Njeng Sunan memberikan sentuhan kearifan lokal dan spiritualitas Jawa yang kental, sementara partisipasi Petit Boutique Hotel mencerminkan komitmen sektor pariwisata dalam menjaga harmoni antara bisnis dan budaya.

General Manager Petit Boutique Hotel, Wening Damayanti mengungkapkan, bahwa keterlibatan pihaknya dalam acara ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar. Berlokasi tepat di belakang Gedung Djoeang 45, hotel boutique ini merasa memiliki ikatan emosional dengan situs cagar budaya tersebut.

“Kami ingin memastikan bahwa perkembangan pariwisata di Pasar Kliwon tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap sejarah dan tradisi,” ujarnya.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah pegiat budaya dan warga setempat yang antusias mengikuti prosesi doa bersama. Alunan tembang macapat dan pembacaan doa-doa pendek menciptakan atmosfer magis yang khas, mengingatkan peserta akan jasa para pahlawan yang pernah berjuang di gedung ini pada era revolusi fisik.

Kegiatan “Umbul Donga” ini menjadi bukti nyata bahwa situs DHC 45 tidak hanya hidup sebagai benda mati atau pajangan museum, tetapi terus bernapas melalui interaksi masyarakat modern.

Sinergi antara elemen keraton, pelaku usaha hospitality, dan komunitas lokal diharapkan dapat terus melestarikan warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas Kota Solo sebagai destinasi wisata yang kaya akan spiritualitas dan sejarah.

Duo Wening Jepank Hadirkan Shalawat “Tombo Ati” yang Menyentuh Hati   Suasana khidmat dan spiritual semakin terasa dalam rangkaian acara “Umbul Donga” di Gedung Djoeang ’45 (DHC 45), duo seniman lokal, praktisi branding kota Solo, Wening Jepank, berhasil memukau ratusan peserta yang hadir dengan lantunan shalawat “Tombo Ati” yang dibawakan dengan aransemen khas dan penuh penghayatan.

Penampilan Wening Jepank menjadi salah satu puncak emosional dari kegiatan doa tolak bala dan syukuran kemerdekaan ini. Lantunan shalawat klasik karya Sunan Bonang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan religi, tetapi juga sebagai media refleksi bagi para veteran, tokoh masyarakat, dan generasi muda yang hadir. Lirik-lirik tentang obat hati yang hakiki selaras dengan tema peringatan serangan umum dan ziarah kepada arwah pahlawan, menciptakan atmosfer kesalehan sosial yang mendalam.

“Shalawat Tombo Ati mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal fisik, tapi juga ketenangan jiwa. Ini adalah bentuk penghormatan terbaik bagi para leluhur yang telah gugur,” ujar Jepank Van Sambeng.

Apresiasi Walikota Solo dan Ketua DHC 45 atas Kegiatan “Umbul Donga”           Walikota Solo, Respati Ardi bersama Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) 45 Surakarta, Baskoro, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan ritual adat “Umbul Donga” yang digelar oleh Njeng Sunan di kompleks Gedung Djoeang ’45 (DHC 45), Pasar Kliwon, pada Senin (10/8/2026).

Kegiatan spiritual ini dinilai sebagai wujud pelestarian budaya sekaligus penghormatan mendalam terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Umbul Donga ini memiliki makna khusus karena dilaksanakan tepat sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tujuannya meliputi doa tolak bala, syukuran atas nikmat kemerdekaan, serta memperingati peristiwa heroik “Serangan Umum 4 Hari” yang pernah terjadi di Solo. Ritual ini juga menjadi momen hening untuk mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur demi mempertahankan kedaulatan wilayah Surakarta dari agresi militer Belanda.

Walikota Respati Ardi menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah kota, elemen masyarakat, dan tokoh adat seperti Njeng Sunan sangat penting dalam merawat memori kolektif warga Solo. “Gedung Djoeang ’45 bukan sekadar cagar budaya, tapi jiwa kota ini. Apresiasi kami kepada para pihak terkait yang telah menghidupkan kembali nilai-nilai luhur leluhur melalui cara yang santun dan bermakna,” ujar Respati yang disampaikan Agus Santosa, Kesbangpol Solo.

Sementara itu, Ketua DHC 45 Surakarta, Baskoro, menyambut baik dukungan penuh dari Pemkot Solo. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut sebagai sarana edukasi sejarah bagi generasi muda.

“Umbul Donga ini mengingatkan bahwa kemerdekaan diraih dengan darah dan air mata, sehingga harus dijaga dengan kesalehan sosial dan spiritual,” jelasnya.

Pelaksanaan “Umbul Donga” di situs bersejarah ini juga menjadi bukti harmonisasi antara tradisi Jawa dan semangat nasionalisme. Dengan dukungan aparatur daerah dan veteran, warisan budaya tak benda di Solo diharapkan tetap lestari tanpa kehilangan relevansinya di era modern, sekaligus memperkuat ketahanan mental dan spiritual masyarakat menghadapi tantangan zaman.(*/ian) 

banner 336x280