JATENGONLINE, SOLO – Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta mengukuhkan guru besar baru, Prof Dr Nanik Suhartatik, STP.MP yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (Fatipa), sekaligus meraih gelar profesor bidang mikrobiologi pangan. Dengan demikian Nanik menjadi guru besar pertama di Fatipa dan ke 10 di Unisri.
Ungkapan itu diutarakan Rektor Unisri Prof Dr Sutoyo MPd kepada wartawan, Rabu (15/4/2026) di Auditorium, Kampus 1 Unisri, seusai memberikan sambutanya dalam prosesi upacara pengukuhan tersebut.
“Kami mewakili Unisri mengucapkan puji syukur seiring bertambahnya guru besar, hal ini diharpkan menjadi tauladan dan motifasi bagi para dosen yang belum profesor,” ungkap rektor.

Lebih lanjut Prof Sutoyo mengapresiasi keberadaan guru besar yang merata hampir di seluruh fakultas di Unisri, dengan jumlah terbanyak di Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan (FKIP).
“Secara de facto Unisri telah mencetak sepuluh guru besar, hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, 8 orang masih aktif. Tercatat seorang telah meninggal dunia dan seorang lagi menjadi dosen di perguruan tinggi lain.” ungkap Sutoyo.
Rektor Unisri terus mendorong setiap fakultas memiliki guru besar dengan menargetkan, setiap Prodi memiliki setidaknya seorang guru besar. Hal itu sebagai pertimbangan, guru besar, adalah seseorang dengan kepakaran spesifik pada bidang ilmu tertentu. Dimana kehadiran guru besar akan menambah akreditasi dan prestasi.
Prof Dr Nanik Suhartatik, STP.MP kelahiran 1 Januari 1978 itu menyelesaikan program studi sarjana di Universitas Gadjah Mada jurusan/ProgramStudi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) di Fakultas Teknologi Pertanian.
Pada pengukuhannya di auditorium Unisri, Nanik dalam orasi ilmiahnya menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sampai saat ini terus menjadi perhatian masyarakat.
Menurut Prof Dr Nanik kasus-kasus keracunan pangan yang terjadi dalam pelaksanaan program MBG di berbagai daerah menunjukkan adanya kelemahan dalam pengendalian mutu dan keamanan pangan.
“Secara umum, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab. Pertama, kualitas bahan baku yang tidak sesuai standar, misalnya penggunaan bahan pangan yang sudah tidak segar atau terkontaminasi sejak tahap penerimaan.” kata Nanik.
Kedua, lanjutnya, sanitasi peralatan dan lingkungan produksi yang kurang memadai, sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang antara bahan mentah dan produk jadi.
“Higienitas pekerja yang tidak terjaga, baik karena kurangnya pelatihan maupun lemahnya disiplin dalam menjaga kebersihan personal.” pungkas Nanik. (*/ian)

























