JATENGONLINE, SOLO – Rembug Budaya ‘Keroncong Musik Masa Lalu atau Masa Depan Kota Solo?’ menghadirkan nara sumber Bondan Aji Manggala Ketua Jurusan Etnomusikologi ISI Solo, Didiet Raykapoor Creative Director Solo Kroncong Festival, inisiator Wening Damayanti Aktivis City Branding dan Mr Jepank Van Sambeng Konsultan Musik Industri, menampilkan Mahasiswa mahasiswi ISI Solo.
Suasana hangat menyelimuti Kedai Bedjono Solo Nyah Nyoh pada Kamis (11/6/2026) sore. Sejumlah pegiat seni, akademisi, dan penikmat musik berkumpul dalam sebuah forum “Rembug Budaya”.
Diskusi ini berangkat dari kegelisahan akan eksistensi keroncong, genre musik yang selama ini telah menjadi identitas kultural yang melekat kuat dengan Kota Solo.
Antara Nostalgia dan Inovasi
Dalam forum tersebut, muncul mengenai posisi keroncong saat ini. Sebagian peserta berpendapat bahwa keroncong sering kali terjebak dalam romantisme masa lalu, di mana musik ini hanya dianggap sebagai konsumsi generasi tua.

“Jika kita hanya melestarikan tanpa melakukan adaptasi, keroncong berisiko hanya menjadi pajangan museum,” ujar Bondan Aji Manggala.
Sebetulnya dengan hadirnya industri keroncong yang dibuka lebar, dan tetap menjaga tradisi atau dogma, tetapi tidak juga bisa menutup perkembangan keroncong sesuai zamannya, itu adalah cara untuk menarik generasi-generasi itu masuk ke keroncong.
“ISI banyak melahirkan musik-musik yang sekarang hadir di kota Solo.
Dengan hadirnya anak muda itu akan menarik dengan sendirinya anak muda yang tidak dari ISI.” jelas Bondan
Sementara itu di dunia keroncong, itu ada satu dogma, yang sebetulnya tidak menguntungkan, tapi meskipun demikian masih ada generasi hidup yang seperti itu, bukan sudah gak ada keroncong, dan masih banyak dan tetap jalan hingga saat ini.
“Biarlah tetap berjalan. Dan saya melihat sumbangsih dari Institut Seni Indonesia Surakarta sangat-sangat luar biasa sekali. Dari 100 keroncongan di Kota Solo, itu 75 persen itu produk dari ISI dan SMKI.” papar Didiet Raykapoor.
Di Solo, lanjut Didiet, bisa dilihat komunitas itu hampir 100 persen ISI. Sisanya hanya beberapa. Lalu, pendekatan apa yang harus dilakukan untuk menarik generasi muda, generasi yang akan datang.
“Kalau kita lihat dari sisi Solo Keroncong Festival (SKF), kami membuka beberapa peluang. Artinya SKF itu tidak hanya sebagai totontonan. Kita juga ada edukasi, ada pembimbingan, dan kami mengadakan lomba nyanyi keroncong bukan musik keroncong. Itu kita batasi yang tidak masuk ke dalam daftar itu hampir 15O orang.
Berarti membludak ini pesertanya.” terang Didiet.
Munculnya geliat musisi muda Solo yang mulai bereksperimen. Diskusi menyoroti bahwa masa depan keroncong justru terletak pada keberanian untuk melakukan fusi. Penggabungan elemen musik keroncong dengan genre modern seperti pop, jazz, bahkan sentuhan elektronik, dianggap sebagai kunci agar musik ini tetap relevan di telinga generasi Z dan milenial.

Solo Sebagai Laboratorium Keroncong
Solo, sebagai kota dengan akar tradisi yang kuat, dipandang sebagai laboratorium paling ideal bagi perkembangan keroncong.
Para peserta pun, sepakat bahwa dukungan ruang publik seperti Kedai Bedjono Solo Nyah Nyoh ini sangat vital sebagai tempat bertemunya para kreator lintas generasi.
Beberapa poin penting yang dihasilkan dari Rembug Budaya diantaranya:
Rejuvenasi Aransemen: Pentingnya penulisan lagu baru yang mengangkat tema kekinian namun tetap memegang teguh pakem dasar keroncong.
Digitalisasi: Pemanfaatan platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas, bukan sekadar menunggu panggung konvensional.
Edukasi Kolektif: Mengajak komunitas untuk lebih masif memperkenalkan instrumen keroncong (seperti cak, cuk, dan cello) ke lingkungan sekolah dan sanggar seni.
Bukan Sekadar Musik, Tapi Identitas
Menutup diskusi, bahwa keroncong tidak bisa dipisahkan dari napas Kota Solo. Keroncong bukan sekadar musik masa lalu, melainkan sebuah instrumen budaya yang sangat luwes. Tantangannya kini adalah bagaimana para pelaku seni mampu mengemas “masa lalu” tersebut agar menjadi “masa depan” yang tetap otentik, namun bisa diterima oleh siapa saja.
“Pasti kita sedang membandingkan.
Keroncong dengan genre musik yang lain, baik itu jazz, pop, dangdut, dan musik yang lain. Keroncong dianggap musik yang biasa,
tapi sebetulnya keroncong itu adalah luar biasa,” ujar Didiet Raykapoor, menutup diskusi.
“Ya, konklusi, ngomongin keroncong masa lalu dan masa depan, Kalau saya optimis keroncong adalah masa depan Solo gitu.
Dan persoalannya mungkin mulai kita harus membenahi beberapa persoalan di dalam keroncong dan membuat keroncong itu jadi gerakan yang besar.” tutup Bondan Aji Manggala.
Rembug Budaya di Kedai Bedjono sore itu menjadi bukti bahwa Solo masih memiliki gairah besar untuk terus menghidupkan ekosistem musiknya, memastikan bahwa alunan cak dan cuk akan terus terdengar, bukan hanya sebagai gema masa lalu, tapi sebagai irama yang mewarnai masa depan kota. (*/ian)


















