Widiastuti Hartono Inisiator Konser Musik Angklung Kolosal di CFD Ngarsopuro: Ajak Masyarakat Solo Raya Lestarikan Budaya Bambu! 

Berita, Solo Raya47 Views
banner 468x60

Widiastuti Hartono

JATENGONLINE, SOLO – Kawasan Ngarsopuro berubah menjadi lautan warna merah dan putih pada Minggu (9/8/2026) pagi. Ratusan peserta, mayoritas ibu-ibu yang tergabung dalam berbagai organisasi wanita dan komunitas seni, tampil seragam memainkan alat musik angklung dalam acara “Konser Musik Angklung Kolosal”. Event ini digelar sebagai bagian dari perayaan HUT RI ke-81, mengusung semangat kebersamaan dan pelestarian budaya.

banner 336x280

Pentas kolosal yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut melibatkan 12 grup angklung dengan total 381 pemain. Terlihat jelas pada spanduk utama, konser ini merupakan hasil kolaborasi masiv berbagai elemen masyarakat Solo Raya.

Para peserta berasal dari sejumlah komunitas, di antaranya Angklung DWP UNS, Simponi Angklung Kiryani Mbah Wongso Soekarjo, Angklung PERPEN Bank Jateng Wilayah Surakarta, Angklung KJNI Solo, Angklung PMHK STIE Surakarta, serta kelompok angklung dari Boyolali, Karanganyar, dan Surakarta.

Keseragaman busana—kombinasi atasan merah, bawahan batik motif daun, dan hijab putih atau merah—menciptakan visual yang memukau dan simbolis, merepresentasikan semangat nasionalisme yang kental.

Di tengah barisan, beberapa personel pria juga turut serta, menunjukkan bahwa event ini benar-benar inklusif dan lintas gender.

Widyawati Hartono dari Persatuan Wanita UNS, yang sebelumnya disebut sebagai penggagas ide kolosal ini, tampak membaur di antara para pemain. Kehadirannya menegaskan bahwa event ini bukan sekadar pertunjukan panggung, melainkan gerakan akar rumput yang digerakkan oleh peran serta aktif perempuan-perempuan hebat di Solo Raya.

Suara gemuruh angklung yang dimainkan secara serentak oleh ratusan tangan menciptakan harmoni yang luar biasa. Pengunjung CFD Ngarsopuro yang lewat tak henti-hentinya memberikan tepuk tangan, terpesona oleh disiplin dan kekompakan para pemain.

Konser Musik Angklung Kolosal ini berhasil membuktikan bahwa tradisi bisa dikemas dengan cara yang modern, massal, dan tetap menyentuh hati. Ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan cinta budaya masih hidup subur di Solo Raya.

Konser Musik Angklung Kolosal ini menjadi pentas perdana musik angklung di kawasan CFD Kota Surakarta. Pemilihan ruang publik diharapkan membuat angklung semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya dimainkan dalam lingkungan komunitas.

“Pentas musik Angklung Kolosal ini diikuti oleh 12 grup Angklung Se-Solo Raya yang melibatkan 381 pemain angklung,” ujar Widiastuti.

Widiastuti menjelaskan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antar komunitas pencinta angklung. Masih terdapat sejumlah grup angklung di Surakarta dan wilayah Solo Raya yang belum bergabung dalam paguyuban. Karena itu, Dharma Wanita Persatuan UNS berupaya memprakarsai terbentuknya Paguyuban Pencinta Angklung Se-Solo Raya sebagai wadah silaturahmi dan penguatan gerakan pelestarian musik angklung.

“Semoga di waktu mendatang akan semakin banyak grup angklung yang bergabung, sehingga semangat pelestarian budaya ini semakin berkembang,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan diawali sesi persiapan sejak pukul 05.30 WIB berupa pemotretan masing-masing kelompok, pengecekan sound system, serta pengarahan oleh Coach Edhi. Pada pukul 06.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, sambutan ketua penyelenggara, serta perkenalan masing-masing grup dan ketuanya.

Memasuki sesi pertunjukan, para pemain membawakan sejumlah lagu secara berkelompok maupun kolosal. Beberapa lagu yang masuk dalam rangkaian pentas di antaranya Hip Hip Hura, Suket Teki, Karanganyar Kemayoran, Anak Sekolah, Seperti Mati Lampu, Memakai Kacamata Hitam, You Raise Me Up, Taman Jurug, dan Cendol Dawet.

Widiastuti menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelatih, panitia, komunitas peserta, dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Menurutnya, pentas di ruang publik seperti CFD menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan angklung kepada masyarakat yang lebih luas.

WidIastuti berharap Paguyuban Angklung Se-Solo Raya semakin berkembang, semakin kompak, dan semakin banyak kelompok baru yang bergabung untuk bersama-sama melestarikan budaya bambu. (*/ian) 

banner 336x280