JATENGONLINE, SOLO – Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Kewirausahaan Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta berhasil lolos pendanaan Program Mahasiswa Berdampak: Aksara Mahasiswa, Skema Aksara Sirkular Tahun 2026. Melalui program bertajuk SMART CIRCULAR-3R, mahasiswa UTP akan mengembangkan inovasi pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk meningkatkan nilai ekonomi sampah di Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.
Program berjudul “SMART CIRCULAR-3R: Optimalisasi TPS 3R Berbasis Budidaya Maggot BSF dan Ekonomi Sirkular untuk Meningkatkan Nilai Tambah Sampah Organik di Desa Urutsewu, Kabupaten Boyolali” ini dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang usaha produktif bagi masyarakat.
Melalui program tersebut, mahasiswa UTP tidak hanya berupaya mengurangi sampah organik yang berakhir sebagai residu, tetapi juga mendorong pemanfaatan sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Pulosari di Desa Urutsewu. Sampah organik, seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan, akan diolah melalui budidaya maggot BSF. Larva maggot berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan, sedangkan kasgot atau residu hasil budidayanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk mendukung kegiatan pertanian.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan mengurangi material yang berakhir sebagai limbah. Dengan demikian, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Ketua tim dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Achmad Fatchul Aziez, MP, mengatakan bahwa program SMART CIRCULAR-3R menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan sekaligus menghadirkan solusi atas persoalan lingkungan di masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin mendorong mahasiswa agar tidak hanya mampu mengembangkan inovasi, tetapi juga memastikan inovasi tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot BSF memiliki potensi untuk menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar program ini dapat berjalan dan memberikan dampak dalam jangka panjang,” ujarnya.
Libatkan Mahasiswa Lintas Program Studi
Salah satu kekuatan program SMART CIRCULAR-3R terletak pada kolaborasi mahasiswa dari delapan program studi, yaitu Manajemen, Akuntansi, Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), Arsitektur, Bimbingan dan Konseling (BK), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Agroteknologi, dan Agribisnis.
Kolaborasi lintas disiplin ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai keahlian dalam menjawab persoalan pengelolaan sampah. Mahasiswa Manajemen dan Akuntansi berperan dalam mendukung pengembangan model usaha, pencatatan keuangan, serta perhitungan nilai tambah. Sementara itu, mahasiswa Agroteknologi dan Agribisnis berkontribusi dalam pengolahan sampah organik, budidaya maggot, pemanfaatan kasgot, hingga pengembangan peluang usaha.
Mahasiswa dari bidang pendidikan dan program studi lainnya turut mendukung edukasi masyarakat, komunikasi lingkungan, peningkatan partisipasi warga, serta perencanaan sarana sesuai kompetensi masing-masing.
Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan di masyarakat. Program ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Dosen Dampingi Program dan Pemberdayaan Masyarakat
Pelaksanaan SMART CIRCULAR-3R didampingi tim dosen pembimbing Ormawa Kewirausahaan UTP yang diketuai Prof. Dr. Ir. Achmad Fatchul Aziez, MP, bersama anggota Dr. Rini Adiyani, S.E., S.Sos., M.M., M.Pd., Aan Budi Santoso, S.Pd., M.Pd., dan Kurniawati Darmaningrum, S.E., M.M.
Tim dosen akan mendampingi mahasiswa dalam perencanaan program, penerapan teknologi, penguatan tata kelola kelompok, pengembangan kewirausahaan, edukasi masyarakat, hingga pemantauan dan evaluasi kegiatan. Pendampingan ini diharapkan dapat memastikan pelaksanaan program sesuai kebutuhan masyarakat serta memiliki peluang keberlanjutan setelah masa pendanaan berakhir.
Program ini juga direncanakan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Karang Taruna Desa Urutsewu. Keterlibatan kelompok masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat edukasi pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, pemberdayaan warga, serta pengembangan kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi desa.
Sebagai langkah awal, tim Ormawa Kewirausahaan UTP dijadwalkan melaksanakan penerjunan mahasiswa dan sosialisasi program di Desa Urutsewu pada 21 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan program kepada masyarakat, membangun komunikasi dengan kelompok sasaran, serta menyelaraskan rencana pelaksanaan bersama mitra lokal.
Tahapan program selanjutnya direncanakan meliputi penguatan pemilahan sampah, penerapan teknologi budidaya maggot BSF, pendampingan pengolahan hasil, pengembangan tata kelola usaha, serta edukasi dan pemantauan pengelolaan sampah.
Pendanaan program ini berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), melalui Program Mahasiswa Berdampak: Aksara Mahasiswa, Skema Aksara Sirkular Tahun 2026.
Keberhasilan ini menjadi kesempatan bagi UTP Surakarta untuk memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus mendorong kontribusi nyata mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui SMART CIRCULAR-3R, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta membuka peluang ekonomi dari pemanfaatan sampah organik.
Inisiatif ini sejalan dengan semangat UTP Surakarta sebagai kampus Juara dan Berdampak, yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat. (*/ian)



















