Walikota Solo Respati Ardi saat membuka Pelatihan Duta Adipangastuti di Ballroom Asia Hotel Solo. Selasa (9/12/2025)
JATENGONLINE, SOLO – Wali Kota Solo Respati Ardi membuka secara resmi acara Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah 2025 di Ballroom Hotel Asia Solo. Selasa (9/12/2025)
Pelatihan yang berkaitan dengan program “Adipangastuti”, yang berfokus pada pelatihan dan diseminasi praktik baik di sekolah-sekolah di Jawa Tengah.
Program “Adipangastuti” bukanlah sebuah pelatihan untuk “duta” secara harfiah, melainkan sebuah inisiatif yang bertujuan untuk membangun karakter dan mempromosikan nilai-nilai positif, yang dikenal sebagai Hasthalaku, di lingkungan sekolah.
“Program Sekolah Adi Pangastuti, sudah ada di 69 sekolah Adi Pangastuti se-Jawa Tengah.” papar M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si. Ketua Solo Bersimfoni.

Duta Putra Putri Adi Pangastuti se-Jawa Tengah ini diikuti dari ujung yang paling barat sampai ujung yang paling timur sekolah propinsi ini.
Solo Bersimfoni, lanjut Farid, adalah NGO tingkat Jawa Tengah yang bertugas nguri-uri budaya Jawa khususnya Hasthalaku, yakni delapan nilai perilaku karena hastalaku ini sumbernya dari Mataram Islam dan kemudian nilai-nilainya di bawa ke sekolah sebagai sebuah upaya pencegahan.
Dalam rangka menegakkan pilar pencegahan yang terdiri dari kesiapsiagaan, diradikalisasi, dan kontraradikalisasi.
“Di awal-awal program. Adi Pangastuti ini bahwa yang terkait dengan interes pencegahan yang toleransi, radikalisme, dan terorisme, sekolah Adi Pangastuti bukanlah sekolah yang terpapar, tapi sekolah yang memiliki kesiapsiagaan untuk menangkal sesuatu yang belum atau tidak terjadi, supaya benar-benar tidak terjadi dan lebih menekankan lagi pada aspek perilaku yang berdasarkan nilai-nilai budaya Jawa.” terang Farid.
Saat ini di Jawa Tengah sudah ada 69 SMA yang melaksanakan program sekolah Adi Pangastuti. Di tiap sekolah, tiap kabupaten/kota jumlahnya antara 2 sampai 3 sekolah.
Seiring berjalannya waktu, maka nilai-nilai budaya Jawa ini dibuat sedemikian rupa
secara terstruktur di dalam sebuah program dengan menggunakan kurikulum basisnya adalah hastalaku.
“Dan hastalaku ini juga sudah menjadi perwali, yakni Perwali nomor 49 tahun 2019 bahwa karakter pemuda khususnya Kota Solo adalah hastalaku.” jelas Farid.
Hasthalaku meliputi Tepo Seliro, Gotong Royong, Lembah Manah, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Andhap Asor, Ewuh Pakewuh, Pangerten.
Sebelum membuka secara resmi pelatihan, Mas Walikota Solo Respati Ardi menyampaikan, jika program ini menekankan pada penanaman karakter dan praktik baik di kalangan siswa dan guru.
“Kami di posyandu sudah menambahkan psikolog klinis gratis di setiap posyandu.” kata Respati, sebagaimana disampaikan, di acara Solo Education Expo yang isinya guru pembimbingan konseling.
Menurut Respati, yang paling penting sekarang, di sekolah-sekolah, guru BK, juga harus disupport tambahan psikolog klinis. Sekarang anak-anak butuh sekali psikolog, suka sekali psikolog. Karena mereka.
Mereka butuh teman, teman butuh pola asuh, butuh cerita, maka ini penting sekali.

“Ini karena kita berbeda. Berbeda zaman, juga berbeda tantangan. Zaman kita dulu, zaman anak-anak zaman saya. Zaman kita ini kalau nonton berita hanya ada dunia dalam berita. Bukan salah teman-teman, ini dilahirkan pada zaman sekarang.
Dulu kalau saya menonton Doraemon, itu ngampetnya, seminggu untuk pengen nonton kartun Doraemon lagi,” kenang walikota.
Solo Bersimfoni menghadirkan narasumber: dari BNPT RI – Wakil Walikota Surakarta Astrid Widayani – M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si. Ketua Solo Bersimfoni – Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., Ak. CA., CFr.A. Direktur Program Solo Bersimfoni – Era Wijaya, Content Creator Solo.
Kedua pelatihan yang berlangsung Selasa-Rabu (9-10/12/2025) ini, dirancang saling melengkapi: guru sebagai perancang pembelajaran kreatif dan peserta didik sebagai agen perubahan dalam penguatan nilai budaya dan toleransi.
Dengan melibatkan 67 SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah, kegiatan ini diharapkan meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat budaya positif, serta menciptakan ekosistem sekolah yang aman, inklusif, kreatif, dan berdaya saing. (*/ian)

























