Ketua KADIN Solo Ferry Septi Indrianto saat menyampaikan sambutan pada forum outlook ekonomi Solo Raya, di Sunan Hotel. Rabu (4/2/2026)
JATENGONLINE, SOLO – Apresiasi yang tinggi disampaikan Ketua Kadin Kota Solo kepada sejumlah institusi maupun instansi yang hadir pada momentum penting ini, yakni dalam acara Outlook Ekonomi Soloraya 2026.
“Kehadiran kita di sini adalah wujud
komitmen bersama untuk memperkuat persatuan, mempererat kerja sama, dan melangkah maju demi kemajuan bangsa dan negara.” tegas Ferry Septi Indrianto, Ketua Kadin Solo saat memberikan sambutan.
Menurutnya, forum ini merupakan upaya untuk merangkum dan menggali wawasan, serta menyatukan perspektif, terutama dalam menyikapi persoalan-persoalan struktural yang selama ini mungkin
belum sepenuhnya di sadari sebagai kepentingan bersama.
“Secara nyata, Soloraya hingga hari ini belum mampu menyatukan kekuatan ekonominya secara kolektif, baik dari sisi hard power maupun soft power, dalam skala kawasan yang terintegrasi,” kata Ferry lagi.
Padahal, lanjutnya, Soloraya memiliki potensi sumber daya yang besar, kekayaan budaya dan sejarah, modal demografi yang kuat, aktivitas ekonomi yang hidup, serta didukung oleh jumlah pelaku usaha yang
tidak sedikit.
Namun, ketika potensi tersebut belum terkonsolidasi dan terintegrasi, maka ia hanya berproses sebagai aktivitas lokal dan berhenti pada batas alaminya masing-masing. Kondisi inilah yang secara nyata membatasi capaian kinerja ekonomi, sekaligus kemampuan kita untuk mendorong
pertumbuhan hingga 8 persen.
Komparasi Global: Mengapa Kita Tertinggal?
Ferry mengajak membuka lagi perspektif yang lebih luas. Hari ini, capaian ekonomi negara-negara maju berada pada tingkat 5 hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan mayoritas negara Asia Tenggara. Produk Domestik Bruto per kapita negara-negara
Barat berada di kisaran USD 45.000–70.000 per tahun, sementara mayoritas negara Asia Tenggara masih berada di kisaran USD 3.000–13.000 per tahun, terkecuali Singapura.
Kesenjangan capaian ini bukan terutama disebabkan oleh faktor sumber daya alam atau jumlah penduduk, melainkan oleh kemampuan negara-negara maju dalam memproyeksikan baik hard
power maupun soft power ke dalam ekosistem yang lebih besar, terintegrasi, saling menopang, dan memberi nilai tambah.
Sebagai contoh: – Negara-negara Eropa Barat dalam kerangka Uni Eropa. Uni Eropa bukanlah sebuah negara, namun justru menjadi mesin utama kemajuan negara-negara anggotanya seperti Jerman, Prancis, dan Italia.
Amerika Serikat yang mengoperasikan kawasan ekonomi terintegrasi dalam 50 negara bagian.
Negara-negara maju non-Barat seperti Jepang dan Korea Selatan.
Kata kuncinya adalah: negara-negara maju secara struktural lebih mampu memproyeksikan hard power dan soft power yang kuat, terpadu, dan terintegrasi dalam kerangka yang lebih besar.
“Inilah yang belum sepenuhnya terbentuk di kawasan Asia Tenggara, termasuk di kawasan Soloraya.” kata Ferry tegas.
Hari ini, katanya, pertumbuhan ekonomi Soloraya relatif stabil di kisaran 5%. Jika sepakat dengan agenda Pemerintah Pusat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, maka dibutuhkan tambahan sekitar 3%.
Delta 3% ini bukanlah angka kecil. Berdasarkan berbagai kajian, tambahan ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata, dan hampir mustahil dicapai apabila kita masih menggunakan pola lama—pola yang membiarkan program antar-daerah berjalan sendiri-sendiri, tanpa konsolidasi, tanpa keterpaduan, dan tanpa skala kawasan.
“Kita semua memahami bahwa tata kelola otonomi daerah berlandaskan prinsip subsidiaritas, yang menekankan pentingnya keputusan di tingkat daerah dalam mengelola urusannya masing-masing.” kata Ferry didepan Gubernur dan para Pimpinan Daerah.
Prinsip ini telah menghadirkan stabilitas dan ketertiban dalam pembangunan daerah.
Namun, dalam praktiknya, prinsip subsidiaritas ini kerap dipahami secara terbatas seolah-olah kebijakan dan program harus sepenuhnya berhenti pada batas yurisdiksi administratif.
“Cara pandang inilah yang secara nyata melahirkan fragmentasi kebijakan dan program antardaerah.” imbuhnya.
Jika dibiarkan secara struktural, kondisi ini akan mendegradasi potensi itu sendiri secara
potensi yang sejatinya saling terhubung, namun tidak pernah terakumulasi menjadi daya ungkit kawasan. Inilah persoalan struktural Soloraya hingga hari ini.
“Persoalan serupa juga terjadi di banyak wilayah lain di Indonesia, khususnya kawasan eks-karesidenan. Oleh karena itu, jika kita sepakat bahwa persoalan ini bersifat struktural, maka konsekuensinya
jelas: solusinya tidak bisa lagi bersifat parsial, sektoral, atau jangka pendek. Solusinya juga harus bersifat struktural.” kata Ferry.
Di titik inilah diperlukan kesepahaman dan norma baru yang menekankan integrasi kawasan melalui pendekatan Aglomerasi.
Aglomerasi merupakan mekanisme yang ideal untuk menyinkronkan serta memastikan potensi antar-daerah tetap terhubung, terkonsolidasi, dan terintegrasi tanpa mengurangi kewenangan
daerah dan tanpa menabrak prinsip subsidiaritas dalam tata kelola otonomi daerah.
Melalui pendekatan aglomerasi, akan terbentuk kapasitas baru berupa ekonomi kawasan yang terintegrasi lebih kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dalam kerangka inilah, tambahan pertumbuhan ekonomi sebesar 3% menjadi masuk akal secara struktural, bukan sekadar target di
atas kertas.
“Dalam kerangka ini, kepemimpinan di tingkat provinsi memegang peran strategis, bukan sebagai pengambil alih kewenangan daerah, melainkan sebagai integrator dan pengarah kepentingan kawasan melalui pengimplementasian aglomerasi, agar Soloraya dapat bekerja sebagai satu sistem
ekonomi yang kuat dan berkelanjutan,” lanjut Ferry.
Diakhir sambutannya Ferry mengutip pernyataan Albert Einstein, yakni “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.”
(Melakukan hal yang sama secara berulang-ulang, namun mengharapkan hasil yang berbeda, adalah definisi dari kegilaan).
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, bahwa aglomerasi Soloraya yang diinisiasi KADIN Soloraya merupakan pilot project pertama di Jawa Tengah dan diharapkan menjadi barometer pengembangan ekonomi kawasan.
“Melalui penyamaan persepsi dan kolaborasi lintas daerah, Soloraya diarahkan menjadi titik pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing dan berkelanjutan,” jelas Luthfi.
Penyelenggarakan Outlook Ekonomi Soloraya 2026 sebagai forum strategis untuk merumuskan arah pembangunan ekonomi kawasan melalui pendekatan aglomerasi. Forum ini menjadi ruang konsolidasi lintas pemerintah daerah, akademisi, dan dunia usaha dalam menjawab tantangan struktural pertumbuhan ekonomi Soloraya menuju target 8 persen.
Hadir dalam forum tersebut Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol. (Purn) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., Walikota Surakarta Respati Achmad Ardianto, S.H., M.Kn., Para Bupati, Ketua DPRD Kota/Kabupaten, Sekretaris Daerah beserta seluruh jajaran Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota/Kabupaten, Pimpinan Perguruan Tinggi Kota/Kabupaten, Pimpinan Perbankan Kota/Kabupaten se-Kawasan Soloraya.
Ketua KADIN Jawa Tengah, Harry Nuryanto Soediro, S.E., M.M., Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kota Surakarta, Bapak Dwiyanto Cahyo Sumirat., Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Surakarta, Eko Hariyanto, S.E., M.M., Akademisi FEB Universitas Sebelas Maret, Dr. Lukman Hakim, S.E., M.Si., Ph.D., Akademisi FEB Universitas Sebelas Maret, Dr. Malik, M.Si., Ketua PWI Surakarta Anas Syahirul Alim, Pimpinan Bank Jateng, serta Bank BJB Surakarta.
Para pimpinan Organisasi Ekonomi, Asosiasi Profesi, Komunitas UMKM se-Soloraya. (*/ian)

























