Penasaran ‘Kirab Pusaka’ Keraton Solo, Putra Putri Owner Ayam Bakar Wong Solo, Abu Bakar dan Geena Hadir Khusus di Prosesi Kirab

Berita, Pernik565 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Kirab Pusaka di Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu tradisi budaya yang paling dinantikan, terutama saat menyambut malam 1 Suro (tahun baru Jawa). Prosesi ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan perpaduan antara spiritualitas, penghormatan terhadap leluhur, dan pelestarian identitas budaya Jawa yang sangat kuat.

Termasuk kehadiran secara khusus putra putri Owner Ayam Bakar Wong Solo H. Puspo Wardoyo yakni Abu Bakar dan Geena pada acara kirab pusaka di Keraton Surakarta Hadiningrat, Selasa (16/6/2026) malam.

banner 336x280

Menurut Abu Bakar, ini adalah kali keduanya ke Solo, sebelumnya sekitar 3 tahun yang lalu. Ini pertama kali datang di acara kirab pusaka ini.

“Rasanya luar biasa, banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam acara kirab inj, banyak masyarakat yang peduli dan menjaga pelestarian budaya di Kota Solo ini.” jelas Abu Bakar

Kesan bahagia, begitu ujar Abu Bakar, karena banyak elemen masyarakat yang menjaga pelestarian budaya seperti halnya kirab pusaka ini.

Selain itu, ada kesan kaget juga demi melihat akan budaya di Kota Solo itu sangat terjaga. Dan ada poin yang unik, yakni unik disisi heritage-nya dan kesan Jawa-nya dapet banget, Jawa-nya sangat kental.

Ketika ditanya akan kembali lagi berkunjung ke Solo dilain waktu, Abu Bakar menjawab sangat pingin sekali.

“Kedepan, mungkin di setiap kirab saya bisa kesempatan untuk hadir, ataupun bisa datang di luar waktu kirab juga di Solo saya bisa hadir.” terangnya, sembari menyampaikan keinginannya untuk bisa mengikuti dan melihat jalannya kirab, mulai dari kebo bule keturun ‘Kiai Slamet‘ diposisikan sebagai ‘cucuk lampah

Abu Bakar dan Geena Puspowardoyo

Berharap tahun depan bisa mengikuti prosesi kirab dari awal hingga selesai, namun untuk kali ini karena sesuatu hal tidak bisa sampai rampung.

“Saya juga penasaran. Saya ngeliat beberapa video yang lewat ada kerbau nya itu yang warna putih (albino), saya juga penasaran.” ujarnya.

Disinggung mengenai Puspo Wardoyo yakni ayahnya yang selalu konsen dan peduli akan pelestarian budaya, utamanya di keraton Solo. “Saya juga terhitung orang yang suka kesenian, terutama juga budaya-budaya seperti cagar alam, kemudian pelestarian budaya, seperti kirab pusaka ini,
sebuah adat yang terus menerus tetap dijaga, saya suka dan terpukau juga akan adat yang dijaga turun-temurun sampai sekarang masih eksis, termasuk orang yang agresif dan suka dengan budaya seperti ini.” jelasnya

Selain budaya dan adat keraton, Abu Bakar menyampaikan, termasuk kesenian-kesenian seperti tari, kemudian alat musik Jawa, kemudian seni lukis, dan lain-lain, termasuk spiritual.

Ada harapan ke depan terkait dengan budaya yang ada di keraton mas?
#Harapannya pasti. Adat dan budayanya keraton makin banyak dikenal oleh masyarakat luas, apalagi anak-anak muda, kalangan-kalangan gen-Z.

“Makin banyak dikenal luas, makin dijaga kestarian budayanya, makin banyak orang yang sadar bahwa ini budaya yang perlu dijaga turun-turun.” lanjutnya..

Dampak yang dirasakan masyarakat di Solo sangat luar biasa. Mulai dari UMKM yang tergerak, perputaran ekonomi juga tergerak pastinya, dengan diadakannya malam kirab pusaka seperti ini.

Prosesi kirab pusaka keraton Surakarta

Ada keinginan juga ikut kirab dengan beskap? (pakaian adat Jawa) “Awalnya saya ingin, karena ini pertama kali dan saya juga pertama kali, jadi mungkin di lain waktu yang akan datang kirab di tahun depan, mungkin akan menggunakan pakaian yang sesuai gitu.” harapnya.

Sementara, kirab pusaka ini menjadi titik temu di mana keluarga Keraton, abdi dalem, dan masyarakat umum melebur menjadi satu dalam nuansa religius.

Bagi masyarakat Surakarta, kirab ini adalah pengingat akan akar budaya mereka. Kehadiran masyarakat yang memadati jalanan bukan sekadar untuk menonton, melainkan sebagai bentuk partisipasi aktif menjaga tradisi.

Kirab ini adalah manifestasi dari filosofi Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana” yakni (memperindah dunia) dan penghormatan terhadap keseimbangan antara dunia manusia dan alam spiritual. Suasana yang sunyi namun agung menjadi pembeda utama kirab di Surakarta dibandingkan dengan perayaan tahun baru lainnya. (*/ian) 

banner 336x280