Makanan Siap Saji Produk Wong Solo Group, Direspon Positif Jemaah Haji Indonesia 

Berita, Pernik432 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Respons positif pada makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) produksi Indonesia yang didistribusikan kepada jemaah haji di Arab Saudi.

Hal itu muncul ditengah padatnya aktivitas dan tantangan distribusi akan konsumsi selama puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Dimana selama ini makanan segar yang disediakan oleh katering setempat kalah dibandingkan makanan siap saji.

banner 336x280

Sebagaimana disampaikan oleh jemaah haji asal Indonesia lewat akun Tiktok-nya @quinakuembunku yang sedang menyantap semur ayam produk PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI). Dalam video unggahannya ia mengaku rasa semur ayamnya autentik dan benar-benar sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Menurutnya, nasi uduk, dengan ayam yang irisannya besar-besar, juga ada kentang lembut.

“Rasanya autentik bener-bener sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ujarnya dalam video tersebut.

Respon positif produk RTE dan apresiet disampaikan juga jemaah yang lain dengan akun @kang.susanto yang menyatakan jika jumlah lauknya sama banyak dengan jumlah nasinya, sembari memperlihatkan produk rendang daging.

Owner PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI), Puspo Wardoyo, demi melihat respon tersebut mengatakan, jika mayoritas jemaah menyukai menu RTE karena cita rasanya lebih dekat dengan lidah masyarakat Indonesia.

“Makanan ini lebih enak daripada makanan fresh. Bumbunya lebih terasa dan rasanya lebih Indonesia, dari berbagai komentar yang masuk,” ujar Puspo ketika dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Penggunaan RTE pada musim haji 2026, lanjut Puspo, bukan tanpa alasan. Saat seluruh jemaah mulai bergerak menuju Armuzna, sebagian dapur katering juga harus berpindah lokasi sehingga distribusi makanan segar menjadi lebih sulit.

Saat memantau proses distribusi makanan haji di Arab Saudi, pada 7 Zulhijah, Puspo Wardoyo menjelaskan, bahwa jemaah mendapatkan tiga kali makan menggunakan RTE, mulai sarapan, makan siang, dan makan malam.

Sedangkan pada 8 Zulhijah, RTE diberikan untuk sarapan sebelum jemaah bergerak menuju Mina dan Arafah.

Selama berada di Armuzna, skema konsumsi dilakukan secara hybrid. Dari lima belas kali makan yang diterima jemaah, tiga kali menggunakan RTE full meal yakni nasi dan lauk, enam kali makan Lauknya RTE -Nasi Fresh dan enam kali lainnya berupa makanan segar.

Munculnya sejumlah respons positif dari jemaah membuat harapan agar menu siap saji khas Indonesia tersebut tidak hanya diberikan pada saat puncak haji saja. Karena dengan adanya RTE ini, mereka merasa senang dan variatif.

“Harapannya mungkin tidak hanya di Armuzna, mungkin nanti kalau ke depan ya di Madinah maupun Makkah juga bisa diberikan sebagai variasi,” kata Puspo usai mendengar komentar pada jemaah haji tentang produknya.

Beberapa menu yang disajikan antara lain semur ayam, semur daging, rendang ayam, rendang daging, balado ikan, gulai ikan, hingga empal serundeng. Menurutnya, menu-menu tersebut memberikan alternatif rasa yang berbeda dibanding makanan yang biasa diterima jemaah selama berada di Arab Saudi.

“Distribusi makanan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji. Suhu udara yang mencapai 50 derajat Celsius, kepadatan jutaan jemaah, hingga keterbatasan akses distribusi sering menyebabkan keterlambatan bahkan kerusakan makanan.” kata Puspo Wardoyo.

Dimana kata Puspo, kondisi saat itu memang cukup sulit. Karena staff dan karyawan dapur juga bergerak ke Armuzna dan akses distribusi juga terbatas, maka pemerintah mengarahkan penggunaan makanan RTE.

Selain membantu jemaah, kehadiran RTE juga meringankan beban operasional dapur katering yang harus memasak dalam kondisi cuaca ekstrem dan infrastruktur terbatas.

Sehingga dapur terbantu karena kondisi di Armuzna sangat berat. Infrastruktur terbatas dan proses memasak dilakukan dalam suhu yang sangat panas.

Dijelaskan Puspo, jika Pemerintah Arab Saudi mulai melirik makanan siap saji sebagai salah satu solusi masa depan bagi pelayanan konsumsi jemaah haji karena lebih praktis, higienis, dan mudah untuk didistribusikan.

Penerapan aturan yang lebih ketat oleh Pemerintah Arab Saudi terhadap akses masuk Makkah dan Armuzna juga membuat pelaksanaan haji tahun ini dinilai lebih tertata dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang jauh lebih tertib. Penduduk dan mukimin selain Makkah, yang tidak memiliki izin tidak bisa masuk ke Makkah maupun Armuzna. Ini membuat pelayanan lebih terkontrol dan kepadatan bisa dikurangi, Beda jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Puspo.

Kedepan, Puspo berharap penggunaan produk makanan siap saji dari Indonesia dapat terus dikembangkan pada musim haji mendatang. Selain meningkatkan kualitas layanan, langkah tersebut juga dapat memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional melalui penggunaan bahan baku dan tenaga kerja dalam negeri.

Pak Puspo pun berjanji, siap mendukung pemerintah untuk memberikan pelayanan makanan yang lebih baik. Pengalaman di Arab Saudi, menurutnya, tidak bisa didapat secara instan karena harus memahami kultur, regulasi, hingga jaringan kerja.
“Itu yang selama ini kami bangun,” tegasnya..

Adapun di balik distribusi RTE tersebut, PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI) yang merupakan anak usaha Wong Solo Group menjadi salah satu pelopor penyedia makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia.

Selama empat tahun terakhir, perusahaan asal Solo itu telah mengirimkan total 5.342.606 produk makanan siap saji untuk kebutuhan haji. Rinciannya sebanyak 1.475.000 produk pada 2023, 1.496.010 produk pada 2024, 2.257.430 produk pada 2025, dan 2.042.441 produk pada 2026.

Pada musim haji tahun ini, PT HATI menyediakan makanan siap saji untuk sekitar 203.320 jemaah Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 1.041.452 lauk siap saji dan 1.000.989 paket nasi beserta lauk siap saji. Selain itu, perusahaan juga mengirimkan 150 ton bumbu pasta siap masak untuk pertama kalinya.

Produksi makanan tersebut melibatkan bahan baku dari Indonesia, antara lain 132 ton daging, ayam dan ikan, 2.416.154 butir telur ayam, serta 52 ton rempah-rempah. Proses produksi juga melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja.

Pemanfaatan produk dalam negeri untuk konsumsi haji, menurut Puspo, dapat memperkuat ekosistem ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah.

Makanan merupakan kebutuhan primer, makanan sehat, bergizi dan berkualitas, jamaah bisa menjalankan ibadah dengan baik. “Sebaliknya kalau tidak diperhatikan, risiko sakit juga bakal meningkat,” katanya.

Seluruh produk PT HATI telah mengantongi sertifikasi halal dan standar ISO 22000. Makanan diproses menggunakan teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi sehingga memiliki masa simpan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin.

Dengan berbagai tantangan distribusi yang terus meningkat setiap musim haji, makanan siap saji berbasis teknologi dinilai berpotensi menjadi salah satu tulang punggung layanan konsumsi jemaah Indonesia pada masa mendatang. (*/ian)

banner 336x280