Makanan Siap Saji Khas Indonesia Untuk Jemaah Haji Bagian Inovasi PT HaTI

Berita, Pernik407 Views
banner 468x60

JATENGONLINE, SOLO – Terobosan penting dalam pelayanan haji Indonesia di Arab Saudi adalah dibutuhkannya makanan siap saji atau Meal Ready to Eat (MRE). Selain memudahkan distribusi konsumsi di tengah tingginya mobilitas jemaah, sekaligus membantu memastikan kebutuhan akan pangan bagi jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan rangkaian ibadah, terlebih dikala puncak haji.

Adapun pemanfaatan MRE semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya jumlah jemaah dan kompleksitas layanan haji setiap tahun. Produk makanan siap santap tersebut dinilai mampu menjawab berbagai tantangan distribusi konsumsi yang kerap muncul akibat kepadatan aktivitas jemaah maupun kondisi lapangan di Tanah Suci.

banner 336x280

Owner PT Halalan Tayyiban (HATI), Puspo Wardoyo mengatakan, bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Keberhasilan tersebut, menurut Puspo, tidak terlepas dari berbagai pembenahan yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga peningkatan kualitas pelayanan bagi jemaah.

Dimana kerja sama pemerintah Indonesia dan pemerintah Saudi berjalan sangat baik. Tahun ini, ada perubahan yang signifikan sehingga penyelenggaraan haji berjalan lebih lancar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dihubungi melalui sambungan telepon dari Arab Saudi, Minggu (31/5/2026), Puspo menilai berbagai pembangunan yang dilakukan Arab Saudi di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina turut memberikan dampak positif terhadap kelancaran penyelenggaraan ibadah haji. Selain itu, aspek pelayanan konsumsi juga menjadi salah satu sektor yang terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.

Menurut Puspo, makanan siap saji telah terbukti menjadi solusi efektif bagi jemaah haji reguler maupun saat pelaksanaan puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Produk tersebut memberikan kemudahan karena dapat dibawa dan dikonsumsi kapan saja dan dimana saja tanpa harus bergantung pada jadwal distribusi makanan segar.

“Tidak sedikit jemaah yang memilih menghabiskan waktu beribadah di Masjidil Haram sejak pagi hingga malam hari. Dalam kondisi tersebut, akses terhadap makanan terkadang menjadi tantangan karena jarak hotel yang cukup jauh, kepadatan lalu lintas, hingga keterlambatan distribusi konsumsi.” kata Puspo.

Dengan MRE, jemaah punya bekal dari rumah. Karena disaat makanan hotel belum datang atau mereka tidak sempat kembali ke hotel karena lalu lintas macet dan cuaca panas, makanan siap saji pun bisa menjadi solusi.

“Keberadaan MRE membuat jemaah tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli makanan di sekitar area Masjidil Haram. Selain lebih praktis, makanan siap saji juga memastikan kebutuhan konsumsi jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah.” jelasnya.

Konsep makanan siap saji, lanjut Puspo, telah digunakan dalam layanan haji Indonesia selama beberapa tahun terakhir dan menunjukkan hasil yang positif. Penggunaannya pun terus meningkat seiring kebutuhan layanan konsumsi yang semakin besar.

Penyelenggaraan haji tahun ini, termasuk yang paling sukses, menurut Puspo, terutama dari sisi pelayanan. Salah satu yang paling menonjol adalah layanan konsumsi. Kehadiran makanan siap saji atau MRE terbukti menjadi solusi bagi berbagai kebutuhan jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.

Puspo pun menilai, ke depan pelayanan konsumsi haji akan semakin mengarah pada sistem yang berbasis teknologi dan standar industri modern. Hal tersebut diperlukan mengingat jumlah jemaah yang terus bertambah setiap tahun sehingga membutuhkan sistem produksi dan distribusi pangan yang lebih efisien.

Maka, jumlah jemaah yang sangat besar membutuhkan dukungan teknologi dan industri pangan yang memenuhi standar produksi makanan yang baik.

Diungkapkan Puspo, penggunaan makanan siap saji Indonesia dalam layanan haji terus mengalami peningkatan. Tahun ini porsi penggunaannya mencapai sekitar 15 persen dan diperkirakan akan terus bertambah pada musim haji berikutnya.

Indonesia, menurut Bos Wong Solo Group ini, menjadi salah satu negara pelopor dalam penerapan makanan siap saji bagi jemaah haji. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi rujukan bagi negara lain dalam mengembangkan sistem pelayanan konsumsi yang lebih efektif selama penyelenggaraan ibadah haji.

“Tujuan utama seluruh layanan haji adalah memberikan kenyamanan kepada para jemaah agar dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk tanpa dibebani persoalan kebutuhan dasar.” katanya

Jika tempat nyaman, transportasi lancar, makanan enak, praktis dan bergizi, jemaah tidak lagi memikirkan kebutuhan dasar. Mereka bisa lebih fokus dan khusyuk beribadah.

Kualitas layanan konsumsi memiliki peran penting dalam mendukung kenyamanan jemaah selama berada di Tanah Suci. Dengan kebutuhan makan yang terpenuhi secara baik, jemaah dapat lebih berkonsentrasi menjalankan seluruh rangkaian ibadah.

Penyelenggaraan haji tahun ini, menurut Puspo, sangat sukses, terutama pada aspek pelayanan makanan. MRE terbukti menjadi solusi yang membantu jemaah dalam menjalankan ibadah haji.

“Makanan siap saji akan menjadi bagian penting dalam pengembangan pelayanan haji pada masa mendatang.” yakin Puspo.

Di balik distribusi RTE tersebut, PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI) yang merupakan anak usaha Wong Solo Group menjadi salah satu pelopor penyedia makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia.

Selama empat tahun terakhir, perusahaan asal Solo itu telah mengirimkan total 5.342.606 produk makanan siap saji untuk kebutuhan haji. Seluruh produk PT HATI telah mengantongi sertifikasi halal dan standar ISO 22000. Makanan diproses menggunakan teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi sehingga memiliki masa simpan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin. Sehingga bebas pengawet dan tahan lama.

Sebelumnya, Menteri Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf, mengatakan pemerintah menyiapkan makanan siap santap (ready to eat/RTE) sebagai solusi pemenuhan konsumsi jemaah saat puncak pelaksanaan ibadah haji. Skema ini dipilih untuk mengantisipasi tingginya mobilitas jemaah yang berpotensi menghambat distribusi makanan segar, khususnya pada fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Menurut Irfan, pemerintah telah menyiapkan sekitar tiga juta paket makanan siap santap yang diperuntukkan bagi sekitar 200 ribu jemaah selama enam hari pelaksanaan ibadah haji. Makanan tersebut dipasok dari Indonesia dan didistribusikan untuk mendukung kebutuhan konsumsi jemaah selama fase dengan tingkat kepadatan tertinggi.

Sedikitnya ada 3 juta paket selama enam hari untuk sekitar 200 ribu orang. Penggunaannya pada tanggal 7 sampai 13 Zulhijah saat tahapan Armuzna karena trafik pergerakan jemaah sangat padat, sehingga digunakan RTE atau ready to eat.

Dijelaskan Irfan, bahwa pemanfaatan makanan siap santap merupakan bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan teknologi dalam layanan konsumsi haji. Selain praktis dalam distribusi, makanan tersebut tetap dirancang memenuhi kebutuhan gizi dan standar keamanan pangan bagi jemaah.

Pemerintah juga memastikan seluruh makanan yang diberikan kepada jemaah, baik yang berasal dari dapur katering maupun makanan siap saji, telah melalui pengawasan sesuai standar yang berlaku.

Di sisi lain, pengiriman makanan siap saji dari Indonesia ke Arab Saudi semakin mudah dilakukan seiring adanya kerja sama antara kedua negara. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran penyediaan konsumsi sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia. (*/ian) 

 

banner 336x280